TANGGAL 1 Agustus 2023 lalu, teman saya mem-posting foto halaman rumahnya yang dihiasi dengan pernak-pernik merah putih, sekaligus ada bendera Merah Putih yang sudah terpasang elegan.
Di bawah postingan fotonya itu ada tulisan dalam bahasa Arab, ”hubbul wathan minal iman” yang ketika diterjemahkan kira-kira seperti ini: ”cinta tanah air adalah sebagian dari iman”.
Sehari sebelum tanggal 1 Agustus itu, saya juga sudah memasang pernak-pernik merah putih dan bendera di halaman depan rumah.
Ini semua adalah bagian dari penghargaan dan kecintaan saya pada bangsa ini yang sudah diperjuangkan oleh para founding father negeri ini.
Dengan pengorbanan harta-jiwa-raga sehingga sampai pada titik kulminasi ketika 17 Agustus 1945 memproklamasikan diri sebagai bangsa yang merdeka dengan harus menapaki jalan terjal perjuangan dan pengorbanan untuk mempertahankan kemerdekaan di masa awal bangsa ini merdeka.
Membaca posting-an teman saya tentang ”hubbul wathan minal iman” ini, saya teringat dengan perdebatan yang sering terjadi di beberapa forum terkait justifikasi kalimat di atas.
Ada sebagian orang yang menganggap itu adalah hadis, meski ada yang menghakimi itu adalah hadis palsu. Ada pula yang memberikan pemahaman bahwa itu adalah slogan, bukan hadis.
Sejatinya, kalimat di atas memanglah slogan. Namun, meskipun slogan, seperti yang disampaikan KH Makruf Khozin, bahwa kalimat ini merupakan substansi dari apa yang pernah didoakan oleh Nabi Muhammad SAW.
Suatu ketika Rasulullah pernah berdoa: ”Ya Allah, jadikan kami cinta Madinah, sebagaimana cinta kami kepada Makkah, atau melebihi Makkah”.
Berangkat dari pemahaman doa di atas, maka kita dianjurkan oleh Rasulullah untuk mencintai tanah air kita. Tanah air di sini adalah tanah kelahiran kita.
Ali bin Muhammad bin Ali Al-Jurjani mendefinisikan hal ini dengan istilah al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri tempat ia tinggal di dalamnya.
Maka dari itu, mencintai tanah kelahiran kita, Indonesia, adalah niscaya.
Dalam sejarahnya, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pernah membangkitkan nasionalisme bangsa ini dengan slogan itu.
Rasa nasionalisme mencapai titik puncaknya setelah beliau memfatwakan Resolusi Jihad pada Oktober 1945 yang pada intinya menyatakan bahwa merupakan suatu kewajiban bagi mereka yang sudah akil balig untuk ikut berjuang membela tanah air.
Dalam perspektif ini, dengan mengusung konsep hubbul wathan minal iman, beliau sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) mengajak para pemuda bangsa untuk meningkatkan semangat juang yang tinggi dalam membela bangsa dan negara.
Di sinilah bahwa konsep ’cinta tanah air adalah sebagian dari iman’ merupakan wujud kesadaran pendiri NU dalam membangkitkan semangat nasionalisme muslim Indonesia.
Pada tataran selanjutnya, perjuangan fisik bukan hanya dilakukan oleh kalangan tentara, tetapi juga mengobarkan semangat nasionalisme kalangan santri yang tergabung dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah dalam pertempuran mengusir pasukan koloni untuk mempertahankan kemerdekaan.
Hal tersebut mencerminkan nasionalisme yang menggelora di kalangan rakyat Indonesia, yang dalam hal ini tidak terlepas dari peran utama NU.
Untuk itulah, dalam konteks Indonesia yang sudah merdeka selama 78 tahun ini, menggugah kesadaran diri kita untuk tetap dan terus mencintai bangsa ini adalah keniscayaan bagi kita semua.
Dengan mencintai, maka rasa cinta ini akan menghapus niatan untuk ’mencederai’ apalagi sampai ’merusak’ bangsa ini. Dengan mencintai, maka akan hadir rasa untuk merawat dan menjaga bangsa ini, karena sebenarnya kecintaan itu lahir sebagai implementasi dari keimanan kita.
Saya jadi teringat apa yang pernah disampaikan Abah D. Zawawi Imron, mengapa kita harus mencintai Indonesia? Dengan bahasa yang sangat sederhana beliau menuturkan bahwa kita mencintai Indonesia karena kita minum air yang bersumber dari bumi Indonesia, dan itu menjadi darah kita.
Begitu juga kita makan hasil tanaman (beras/jagung) dan buah yang tumbuh di bumi Indonesia, dan itu menjadi daging kita. Termasuk juga kita menghirup udara Indonesia, dan itu menjadi napas kita.
Kita juga sujud di bumi Indonesia, maka berarti bumi Indonesia menjadi sajadah kita. Bahkan, ketika tiba saatnya kita mati, kita akan tidur dalam pelukan bumi Indonesia.
Daging yang hancur membusuk, akan bersatu kembali dengan harumnya bumi Indonesia. Maka, tidak ada alasan untuk tidak cinta pada tanah air Indonesia.
Masihkah kita ragu untuk tetap mencintai bangsa ini? Ah…! (*)