SURABAYA, RadarMadura.id – Pahlawan nasional M. Tabrani merupakan teladan yang bisa jadi inspirasi generasi muda dalam membentuk pendidikan multibahasa.
Pasalnya, pahlawan kelahiran Pamekasan itu ditetapkan sebagai bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Selain itu, si Anak Nakal Banyak akal itu juga menguasai beberapa bahasa asing.
Bahkan, ketika berada di Belanda, Tabrani menulis buku berbahasa Belanda berjudul Ons Wapen.
Penguasaan beberapa bahasa itu menunjukkan bahwa sejak dulu orang Madura punya potensi besar dalam pendidikan multibahasa.
Hal itu diungkapkan maestro puisi RBD Madura Lukman Hakim AG dalam gelar temu wicara dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional 2026, Jumat (27/2).
Dalam kegiatan daring Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) itu Lukman mengungkapkan potensi penutur bahasa Madura dalam masa depan pendidikan multibahasa.
Menurut dia, mobilitas orang Madura yang tinggi memungkinkan terjadinya interaksi dengan penutur bahasa lain.
Dengan begitu, mereka berpeluang tidak hanya menguasai bahasa daerahnya sendiri.
Wartawan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) itu menambahkan, pelestarian dan pengembangan bahasa harus dimulai dari keluarga.
Kemudian lingkungan, lembaga pendidikan, organisasi atau komunitas, dan melalui media.
”Perkembangan teknologi dan media kini terbuka lebar. Lebih-lebih media sosial bagi generasi muda. Tidak sedikit kreator yang konsisten menyuguhkan konten edukatif dan menarik, meski kita akui tidak sedikit pula konten yang penting viral,” ungkapnya.
Baca Juga: Menjernihkan Tata Kelola dan Anggaran MBG
Selain M. Tabrani, Lukman menyebut Hassan Shadily dan beberapa dari kalangan pesantren yang bisa jadi teladan dan inspirasi pendidikan multibahasa.
”Hassan Sadhily menulis kamus Inggris-Indobesia dan Indonesia-Inggris. Sementara kawan-kawan dari pesantren banyak yang menulis kitab berbahasa Arab,” ungkapnya.
Gelar Wicara secara daring itu mengusung tema “Peran Generasi Muda dalam Membentuk Masa Depan Pendidikan Multibahasa”.
Kegiatan dibuka oleh Kepala BBJT Puji Retno Hardiningtyas. Dalam sambutannya, Retno menegaskan bahwa bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga penanda jati diri dan warisan budaya yang harus dijaga bersama.
”Bahasa ibu adalah akar identitas dan kekuatan budaya kita. Melalui pendidikan multibahasa, kita tidak hanya melestarikan bahasa daerah, tetapi juga membangun generasi muda yang percaya diri dan siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri,” jelas Retno.
Retno menambahkan, melalui kegiatan, peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2026 diharapkan mampu memperkuat komitmen bersama dalam pelestarian bahasa ibu sekaligus mendorong mewujudkan pendidikan multibahasa yang inklusif dan berkeadilan di Jawa Timur.
Sinergi antara pemerintah, pendidik, komunitas bahasa, dan generasi muda menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan pendidikan yang menghargai keberagaman bahasa dan budaya.
Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2026 bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman publik, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya bahasa ibu sebagai fondasi identitas, budaya, dan pembelajaran sepanjang hayat dalam konteks pendidikan multibahasa.
Kegiatan ini juga mendorong generasi muda berperan sebagai agen perubahan dalam pelindungan, pelestarian, dan pengembangan bahasa ibu melalui praktik pendidikan, kreativitas, serta pemanfaatan teknologi.
Selain Lukman, gelar wicara ini menghadirkan Danang Wijoyanto (Maestro Bahasa Jawa) dan Nisa Zahrofa (Duta Bahasa Provinsi Jawa Timur) sebagai narasumber.
Kegiatan yang dimoderatori Melysya Martha ini diikuti oleh 50 peserta yang terdiri atas guru master Bahasa Madura, guru master bahasa Jawa dialek Using, guru master bahasa Jawa, dan duta bahasa Jawa Timur.
Dalam paparannya, Danang Wijoyanto membahas Peran Generasi Muda Penutur Bahasa Jawa dalam Membentuk Masa Depan Pendidikan Multibahasa.
Danang menyoroti pentingnya pola pikir pragmatis-instrumental dan pola pikir ideasional-substansial bahasa Jawa agar tetap relevan bagi generasi masa kini. Menurut dia, bahasa Jawa harus diajarkan dengan pendekatan yang kontekstual dan kreatif.
”Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penutur, tetapi juga kreator yang menghadirkan bahasa Jawa dalam konteks modernitas di ranah sosial dan masyarakat,” ungkap Danang.
Sementara Nisa Zahrofa memaparkan Peran Generasi Muda Penutur Bahasa Jawa Dialek Using dalam Membentuk Masa Depan Pendidikan Multibahasa. Nisa menekankan pentingnya pelibatan anak muda dalam pelestarian dialek Using sebagai kekayaan lokal Banyuwangi serta tantangan yang dihadapi oleh dialek Using.
Nisa menegaskan, dialek Using adalah identitas masyarakat Banyuwangi.
Karena itu, generasi muda perlu mengenal ciri khas dialek Using melalui warisan budaya, ciri khas linguistiknya, serta tantangan yang dihadapinya.
”Terkait dengan dominasi bahasa dan tantangan di ranah digital, peran strategis generasi muda sekarang sangat diperlukan.
Generasi muda perlu menjadi agen perubahan seperti menjadi penutur aktif, kreator digital, penelitia, dan duta bahasa,” jelas Nisa. (luq)
Editor : Amin Basiri