Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Dari Sumenep Merawat Persatuan, Empat Pilar Kebangsaan Jadi Benteng Ideologi Generasi Muda

Dafir. • Selasa, 23 Desember 2025 | 19:34 WIB

Screenshot
Screenshot

SUMENEP – Hari kedua sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang diprakarsai Anggota DPR RI Dapil Jawa Timur XI (Madura), MH. Said Abdullah, di Ruang Pertemuan Arya Wiraraja, Hotel de Baghraf, Selasa (23/12) kembali digelar. Sebab, kegiatan tersebut dinilai penting karena menjadi instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan ideologi bangsa sekaligus membentengi masyarakat dari ancaman radikalisme dan disintegrasi nasional.

Kegiatan yang menyasar kalangan mahasiswa dan pemuda tersebut menghadirkan dua narasumber, Fahrur Rosy dan Roni Ardiyanto. Turut mendampingi agenda kebangsaan itu dua tenaga ahli MH. Said Abdullah, yakni Moh. Fauzi, M.Pd., dan Slamet Hidayat, S.H.

Narasumber pertama, Fahrur Rosy, menegaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan itu meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ke empatnya merupakan fondasi mental paling mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pilar-pilar tersebut berfungsi sebagai perekat persatuan, penjaga harmoni sosial, sekaligus peneguh identitas nasional.

“Empat Pilar Kebangsaan adalah penyangga utama persatuan dan perdamaian di tengah keberagaman bangsa Indonesia,” ujar Fahrur.

Dia menjelaskan, konsep Empat Pilar itu dipopulerkan MPR RI sebagai respons atas berbagai problem kebangsaan pascareformasi, mulai dari melemahnya pemahaman ideologi hingga meningkatnya konflik sosial dan ancaman radikalisme.

“Pasca reformasi, kita dihadapkan pada radikalisme, terorisme, dan konflik sosial. Karena itu, penguatan Empat Pilar menjadi keharusan agar bangsa ini tidak mudah terpecah,” tegasnya.

Fahrur juga meluruskan anggapan yang kerap membenturkan Pancasila dengan agama. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila justru sejalan dengan ajaran agama, termasuk Islam, dan telah hidup dalam tradisi masyarakat Nusantara jauh sebelum Indonesia merdeka.

“Pancasila bukan milik satu golongan. Nilai-nilainya selaras dengan ajaran agama dan menjadi milik seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Sementara itu, narasumber kedua, Roni Ardiyanto, menyampaikan bahwa di tengah berbagai dinamika dan persoalan nasional, Indonesia tetap berdiri kokoh karena berpegang pada Empat Pilar Kebangsaan.

“Indonesia sering disebut gonjang-ganjing, tetapi faktanya negara ini tetap utuh. Salah satu sebabnya karena kita memiliki Empat Pilar sebagai fondasi bersama,” ujarnya.

Roni menekankan, Pancasila dirumuskan melalui konsensus para pendiri bangsa untuk mengakomodasi keberagaman suku, agama, dan budaya. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan menjadi titik temu seluruh elemen bangsa.

Dia juga mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi hidup yang menjamin hak-hak warga negara sekaligus mengatur pembagian kekuasaan agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang.

“UUD 1945 adalah janji negara kepada rakyatnya, mulai dari perlindungan, pendidikan, hingga kesejahteraan. Konstitusi ini harus dijaga bersama,” tandasnya.

Melalui sosialisasi tersebut, para narasumber berharap generasi muda tidak hanya memahami, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Upaya itu dinilai penting sebagai langkah konkret menangkal radikalisme dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*/nta)

Editor : Dafir.