Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Fitur Gambar Gaya Ghibli Bikin Chat GPT Meledak, Open AI Keteteran Tangani Lonjakan Pengguna

Amin Basiri • Sabtu, 5 April 2025 | 20:53 WIB

Chat GPT dari Open AI dan Studio Animasi Ghibli
Chat GPT dari Open AI dan Studio Animasi Ghibli

NASIONAL, RadarMadura.id - Inovasi terbaru dari Chat GPT sukses menciptakan kehebohan global. Kali ini, bukan sekadar teks atau percakapan pintar, melainkan fitur visual yang mampu menghasilkan ilustrasi digital bergaya khas Studio Ghibli—studio animasi asal Jepang yang dikenal lewat mahakarya seperti Spirited Away, Princess Mononoke, dan My Neighbor Totoro.

Peluncuran fitur ini langsung viral di berbagai platform media sosial dan menyebabkan lonjakan tajam dalam jumlah pengguna Chat GPT, bahkan sampai membuat sistem Open AI kewalahan.

Dalam laporan yang dirilis oleh kantor berita Reuters pada Rabu (2/4/2025), data yang dihimpun oleh Similarweb mencatat bahwa jumlah pengguna aktif mingguan Chat GPT menembus angka 150 juta—angka tertinggi sepanjang 2025 dan rekor baru bagi layanan kecerdasan buatan ini.

CEO Open AI, Sam Altman, dalam unggahan di platform X (dulu Twitter), menyebut bahwa dalam waktu hanya satu jam setelah fitur gambar bergaya Ghibli dirilis, jumlah pengguna meningkat sebanyak satu juta.

“Kami belum pernah melihat pertumbuhan secepat ini sebelumnya, bahkan saat peluncuran awal di tahun 2022,” ungkap Altman.

Selain peningkatan pengguna, data dari Sensor Tower menunjukkan metrik penting lainnya juga mengalami lonjakan.

Dalam seminggu terakhir, unduhan aplikasi ChatnGPT meningkat 11%, pengguna aktif naik 5%, dan pendapatan dari langganan dalam aplikasi bertambah 6%.

Ini menandakan bukan hanya antusiasme pengguna baru, tetapi juga meningkatnya keterlibatan dari pengguna lama.

Namun, euforia ini ternyata juga membawa tantangan besar. Sistem Chatm GPT sempat mengalami gangguan teknis akibat beban server yang meningkat drastis.

Beberapa pengguna melaporkan keterlambatan respons, gangguan akses, bahkan pemadaman singkat layanan.

Altman mengonfirmasi situasi ini dengan mengatakan bahwa tim OpenAI sedang menghadapi masalah kapasitas.

“Kami sedang bekerja keras untuk menstabilkan sistem. Akan ada penundaan dalam peluncuran fitur baru, munculnya bug, serta kemungkinan perlambatan layanan selama beberapa waktu ke depan,” ujar Altman.

Pembatasan akses sementara pun diberlakukan demi menghindari kerusakan sistem yang lebih luas, meski hal ini mendapat respons campur aduk dari para pengguna yang antusias menjajal fitur gambar AI tersebut.

Fitur gambar AI yang mengusung estetika khas Studio Ghibli menjadi bintang utama dalam tren ini. Hasil ilustrasinya yang menyerupai lukisan tangan ala animasi Jepang langsung menjadi bahan unggahan viral di Instagram, TikTok, dan X.

Mulai dari cerita pendek bergambar, meme unik, hingga lukisan digital yang dibuat sebagai penghormatan pada karya Hayao Miyazaki, semuanya memenuhi linimasa internet dalam hitungan jam.

Namun di balik popularitasnya, fitur ini juga menuai kritik dari kalangan pemerhati seni dan hukum. Pasalnya, kemampuan AI dalam meniru gaya visual yang sangat khas ini memunculkan kekhawatiran soal pelanggaran hak cipta.

Evan Brown, seorang mitra di firma hukum Neal & McDevitt, menyampaikan bahwa regulasi mengenai AI dan hak kekayaan intelektual masih belum memiliki kepastian hukum yang jelas.

“Secara hukum, yang dilindungi biasanya adalah ekspresi spesifik, bukan gaya seni itu sendiri. Tapi saat AI bisa mereplikasi estetika sedemikian rupa, batas antara inspirasi dan pelanggaran menjadi kabur,” katanya.

Tren ini juga membawa kembali ke permukaan pernyataan keras dari Hayao Miyazaki, sosok utama di balik semua karya dari Studio Ghibli.

Dalam wawancara tahun 2016 yang kembali viral di tengah euforia fitur ChatGPT ini, Miyazaki menyatakan penolakannya terhadap seni digital buatan mesin.

“Saya sangat jijik melihat gambar yang dihasilkan oleh mesin,” kata Miyazaki saat itu. “Saya tidak ingin ada teknologi seperti itu masuk ke dunia seni yang saya cintai.”

Meskipun Open AI belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai apakah model mereka dilatih menggunakan referensi visual dari Ghibli, diskusi tentang etika penggunaan karya seni dalam pelatihan AI kembali mengemuka.

Beberapa pihak mendesak agar ada transparansi lebih besar soal sumber data yang digunakan untuk melatih model generatif, terutama yang meniru gaya dari seniman atau studio tertentu.

Perdebatan tentang peran AI dalam seni dan potensi pelanggaran hak cipta akan terus berlangsung seiring berkembangnya teknologi ini.

Di satu sisi, fitur seperti ini membuka peluang baru bagi masyarakat umum untuk menyalurkan kreativitas dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya.

Baca Juga: Mudik dan Berlebaran di Tanah Kelahiran

Di sisi lain, muncul pertanyaan mendalam tentang siapa yang berhak atas gaya, ekspresi, dan warisan visual suatu karya.

Chat GPT, dengan segala inovasinya, sekali lagi membuktikan kekuatannya dalam mengubah lanskap digital secara instan.

Tapi semakin besar dampaknya, semakin besar pula tanggung jawab yang harus diemban—baik oleh pengembang, pengguna, maupun pembuat kebijakan.***

Editor : Amin Basiri
#ghibli #Chat GPT #Open AI #animasi