Cerpen DARA ARIANA*
Prang......
KEJADIAN itu tebersit kembali dalam kepalamu, seperti sebuah kaset usang yang diputar ulang. Tubuhmu menggigil, tungkai kakimu lemas, sudah seminggu berlalu, tapi kau tak cukup mengumpulkan kekuatan bahkan hanya untuk memungut pecahan kaca di ruang depan. Tidak, kau tidak takut pecahan kaca itu melukai jemarimu, karena luka yang sebenarnya telah menganga dalam dadamu, dan kau rasa tak ada kepedihan yang lebih maha daripada itu.
Matamu menerawang jauh, seharusnya kau dengarkan apa yang Suhardi, suamimu, katakan bertahun-tahun lalu. ”Anak laki-laki jangan terlalu dimanja, Sum. Sesekali ajari dia untuk tangguh, garis takdir lelaki itu menanggung, Sum. Bukan berpangku tangan pada siapa pun!” tapi tak sedikit pun kata-kata itu kau dengarkan. Bagimu itu hanya ocehan kesekian suamimu dari sekian banyaknya ocehan yang tak penting.
Betapa pun sejak kecil kau tak pernah membiarkan anakmu, Rehan, untuk tumbuh dewasa. Bagimu, dialah satu-satunya permata yang menyala dan benderang di tengah rumah tanggamu yang kian suram. Kau menganggapnya sebagai sebuah permata yang tidak boleh satu pun orang menyentuh, apalagi mengotorinya. Kamu tidak akan pernah membiarkan Rehanmu kelihatan kerdil di antara teman-temannya yang lain.
Jika anak teman sejawatnya hari ini menggunakan sepatu merek terbaru, kemudian dia merengek ingin hal yang sama pula, maka besok pagi-pagi sekali sepatu serupa akan nangkring di samping tempat tidurnya. Begitu pula ketika pembagian ranking kelas, tentu kau akan menghadiahinya dengan berbagai barang baru, entah sepeda ontel baru, T-shirt merek terbaru, celana, atau apa pun. Bagimu, itu merupakan penghargaan atas kerja kerasnya, meski kau tidak pernah tahu dan tidak pula pernah peduli apakah benar dia bekerja sekeras itu, atau mengancam teman sebangkunya demi mendapatkan sontekan saat ulangan.
Begitu seterusnya, sampai dia sudah selasai sunatan, bahkan sampai dia sudah mencapai masa pubertasnya, kau masih menganggap ia sebagai anak kecil, permata yang harus kau lindungi. Bahkan, kau pun tidak pernah membiarkan suamimu memarahinya, kau akan selalu memberikan pembelaan atasnya.
”Sudah kubilang jangan terlalu manjakan dia, Sum! Akan jadi apa kelak jika dia dewasa, kau selalu memberikan pembelaan atasnya, apa pun yang dia minta kau turuti. Hidup tidak ada yang tahu, Sum. Hari ini kita kaya, mau apa pun dia kau kabulkan, tapi bagaimana jika suatu hari kita melarat? Hari ini dia merengek minta motor-motoran, besok-besok dia akan memecahkan kaca rumah kalau dia minta motor asli, namun kau tak sanggup mengabulkan!” itu peringatan kesekian yang tidak pernah sekalipun menusuk hati, bahkan pendengaranmu.
Kini kau tergugu sendirian di dalam rumah besar yang menyedihkan ini. Siut angin di luar seakan membawa petaka lain. Kau melangkah keluar kamar, memegang sapu dan cikrak, hendak membersihkan pecahan kaca yang telah seminggu kau biarkan, berharap semua kepedihan akan bercampur baur, lalu dengan mudah kau buang ke tempat sampah. Namun, benarkah begitu, Sum? Melihat pecahan kaca itu kau kembali teringat asal semua masalah ini. Sekali lagi hatimu meratap, andai dulu kau dengarkan apa yang Suhardi katakan barang sekali saja.
Malam pucat pasi saat satu tahun yang lalu kau menunggu suamimu pulang. Sekejap saja kau hampir terlelap melepas segala kepenatan batinmu, di luar terdengar suara bentakan dan sesuatu yang dilempar.
”Kenapa pulang? Kenapa tidak memberi tahu Bapak terlebih dahulu, Cong? Jangan bilang kamu kabur? Jawab, Cong!” Kau tidak sempat mendengarkan apakah si lawan bicara menjawab serentetan pertanyaan yang suamimu lontakan, tapi yang jelas hanya suara gelas pecah, lalu kau lari terbirit-birit keluar.
”Sudah, sudah, hentikan, Kak. Dia pulang pasti punya alasan. Lihat dulu kondisi anakmu, bibirnya lebam begini. Dari dulu aku sudah tidak setuju untuk menitipkannya di pondok pesantren pilihanmu itu. Lihat ini, ini pasti perbuatan pengurusnya yang semena-mena.”
”Dia sudah bukan anak kecil lagi, Sum. Dia sudah 19 tahun. Sampai kapan kamu akan terus membelanya, ha? Lagi pula pengurus pesantren tidak akan bertindak semena-mena kalau bukan dia yang salah!” Rahang suamimu mengeras, ceruk matanya melebar menembus mata anakmu yang menatap tak kalah tajam. Sementara napasmu tersengal melihat luka kecil di sudut bibirnya, hatimu seperti dihunjam ribuan belati.
Hingga esok hari datang dua orang berperawakan lebih tua dari anakmu, yang kemudian kau ketahui sebagai petugas keamanan tempat anakmu mondok. Mereka menjelaskan apa yang terjadi semalam, bahwa Rehan menyerang salah satu petugas keamanan lantaran ditegur merokok, hingga pergulatan terjadi di antara mereka berdua. Rehanmu, beruntung dia hanya lebam di bagian bibir. Si lawannya terkapar di rumah sakit. Entah benda apa yang ia gunakan untuk melumpuhkan lawannya itu.
Mendengar itu kau menjerit, ketakutan-ketakutan lain hinggap di kepalamu. Kau takut jika dia kembali, dia akan dikeroyok habis-habisan. Bagaimana jika dia dibenci seluruh teman-temannya, dia dikucilkan, apakah tidak lebih baik jika dia kembali tinggal di sini, bersamamu? Ah...tapi kau tak kuasa melawan kehendak suamimu yang bagimu terlalu keras itu. Dia harus kembali menebus dosa-dosanya. Hingga dengan berat hati kau melepas dia pergi lagi, namun tentu kau tidak akan lupa, sebelum kedua bagian keamanan itu beranjak pergi, saat mereka menyalami tanganmu, kau sengaja menyelipkan tiga lembar uang seratus ribuan masing-masing di antara mereka. Matamu memuntahkan berbagai macam perrmohonan, yang mungkin hanya bisa ditangkap oleh mereka berdua.
Setelah kejadian hari itu kau makin tidak bisa mengelak permintaan Rehan. Kau kabulkan apa pun yang dia minta selagi dia bisa betah di pesantren, karena satu permintaan tidak terkabulkan ancamannya bukan main. Tempo hari sudah kau belikan dia jam tangan Alexandre, padahal kau paham betul bagaimana suamimu mengeluh kerena terlalu banyak pengeluaran akhir-akhir ini.
”Tolonglah, Sum, kali ini saja dengarkan aku. Gajiku sudah mulai ngadat karena sebentar lagi pemilihan kepala desa. Pemasukan tidak akan cukup kalau kau tetap menuruti semua apa yang Rehan minta. Uang saku yang mulai naik drastis, ditambah setiap minggu dia minta barang-barang mahal. Kalau begini terus lama-kelamaaan kita tidak makan dan dia akan tetap dalam pendiriannya yang seperti itu,” suamimu mengeluh persis seperti lenguhan sapi yang telah lama dikarap.
”Bukankah kamu yang memaksanya kembali ke pesantren? Sudahlah jangan terlalu pelit pada anak sendiri. Dia begini pun gara-gara kamu, Kak. Kalau kau ingin mengajari Rehan menjadi pekerja keras, harusnya kamu juga bekerja lebih keras dari ini agar kau mampu memberikan contoh yang baik buat anakmu, bukan hanya membentaknya terus-terusan begitu!” tandasmu.
Sejak hari itu, cahaya di rumahmu yang besar itu mulai redup. Suamimu jarang pulang, kepalamu ditumbui hal-hal lain: tagihan arisan, cicilan Iphone yang baru-baru ini kau beli, lagi-lagi atas permintaan permatamu itu. Belum lagi dia masih ingin CBR keluaran terbaru. Segala beban itu kau tanggung sendirian di dalam rumah mewah yang tiap malamnya hanya dihuni lintah-lintah kesunyian! Suhardi hanya pulang seminggu sekali. Kalau kau tanya kenapa jarang pulang, tentu dia akan menjawab ”Untuk membuktikan bahwa aku pekerja keras!”
Dan, tentu kau tidak akan pernah melupakan janjimu pada anakmu tentang sepeda CBR itu. Kau berjanji dalam rentang waktu 6 bulan, satu minggu yang lalu sudah jatuh temponya, tapi kau tidak berhasil mengabulkan permintaannya itu. Tentu dia juga tidak akan pernah main-main dengan ancamannya! Bukankah kau yang mengajarinya sejak kecil, bahwa apa pun yang dia minta tidak pernah tidak terkabulkan. Maka tepat saat matahari naik, di Sabtu yang nelangsa satu minggu yang lalu, kau sedang meracik berbagai macam makanan kesukaannya, memasukkannya ke dalam Tupperware, berharap Sabtu itu kau mampu berbicara baik-baik dengan Rehan bahwa untuk permintaannya kali ini belum bisa kau kabulkan, lantas membuat janji untuk dikabulkan di kemudian hari. Namun, ternyata dia telah duduk di beranda dengan sepotong rokok di tangan.
”Ibu...”
Demi mendengar pangggilan itu kau terperanjat, dan bergegas ke luar, sembari menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan di kepala.
”Loh, kok pulang? Kamu kenapa lagi, Nak? Ini ibu baru saja mau berangkat, Cong,” kau tatap mata yang dingin itu. Hatimu ngilu bukan main, pertayaan-pertanyaan lain muncul kembali beginikah seorang anak laki-laki yang tak pernah sekalipun aku marahi sejak kecil?
”Mana CBR-nya, bukankah hari ini seharusnya sudah ada di sini? Ibu pernah berjanji untuk mengabulkan semua yang aku minta selagi aku tetap di tempat menyebalkan itu, jika satu hal tidak terkabul, maka aku bebas ke mana pun!” ucapannya benar-benar menjadi anak panah yang menghunus dadamu, darah berceceren membasahi segenap derita yang tak lagi mampu kau tanggung. Kau menahan tangan kekar itu, memohon padanya untuk tetap kembali ke pesantren. Napasnya naik turun. ”Harusnya ibu tahu kalau aku sudah telanjur memamerkan semua yang aku miliki kepada teman-temanku. Aku pamerkan jam tangan, sepatu, Iphone yang tempo lalu ibu belikan dan diam-diam aku kantongi! Aku juga sudah bilang kepada mereka bahwa hari ini aku akan punya CBR terbaru. Tapi, mana ha? Mereka, teman-temanku itu, mengejekku. Mereka bilang aku hanya modal gaya doang! Lagian seharusnya kemarin ibu mengunjungiku bukan? Kenapa tidak datang, ha? Ke mana pula bapak yang selalu marah-marah itu?”
Baca Juga: Ngaton
Dan.. praang ..... sebuah gelas yang entah sejak kapan belum sempat kau bersihkan dari meja tamu itu melayang tepat di depan wajahmu, memecahkan kaca jendela yang senantiasa kau bersihkan tiap hari itu. Belum sempat kau bicara, belum sempat kau membuat janji baru untuk memberimu kesempatan barang dua bulan lagi, dia sudah pergi, menyisakan pecahan kaca, membuat darah bersimbah ruah di dadamu.
Kini permatamu yang kau rawat sejak dini itu pecah berkeping-keping dan tentu melukai tiap sudut hati orang lain. Seharusnya kau dengarkan apa yang Suhardi katakan sejak dulu, Sum.
Belum sempat kau memungut kepingan kaca, dua orang dari kepolisian datang. Suamimu di jerat kasus korupsi. Anakmu ditangkap karena telah memukul salah seorang temannya tadi malam. Sekali lagi, Sum, sempurnalah penderitaanmu selama ini. (*)
Kelam, 2024
*)Mahasiswi Universitas Annuqayah, santri PP Annuqayah Lubangsa Putri.
Editor : Ina Herdiyana