Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Prof Dr Abdul Hadi WM Sosok yang Sangat Disegani Keluarga, Sering Berpesan agar Jangan Terjadi Perselisihan

Fatmasari Margaretta • Sabtu, 20 Januari 2024 | 13:52 WIB

 

SANTAI: Prof Dr Abdul Hadi WM saat diwawancarai jurnalis JPRM di salah satu hotel di Sumenep pada Agustus 2022. (JPRM FOTO)
SANTAI: Prof Dr Abdul Hadi WM saat diwawancarai jurnalis JPRM di salah satu hotel di Sumenep pada Agustus 2022. (JPRM FOTO)

JAKARTA, RadarMadura.id – Indonesia kehilangan sastrawan dan filsuf Prof Dr Abdul Hadi WM. Pria kelahiran Desa/Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, itu meninggal dunia, Jumat (19/1).

Abdul Hadi masuk Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada Kamis (18/1).

Setelah satu hari menjalani perawatan medis, guru besar Universitas Paramadina Jakarta itu berpulang di usianya yang beranjak 78 tahun.

”Saya mendapat telepon dari Jakarta setelah salat subuh. Paman (Abdul Hadi WM) meninggal di rumah sakit pada pukul 03.36 dini hari,” ungkap Hendry Wahyudi, keponakan Abdul Hadi WM, di Sumenep.

Wahyudi mengungkapkan, Abdul Hadi memang memiliki riwayat penyakit jantung dan diabetes. Namun, penyakit tersebut tidak sampai membuatnya sakit parah. Sehingga, dalam aktivitas sehari-hari tetap terlihat sehat.

Baca Juga: Saya Sudah Tua, Yang Muda-Muda Itu Harus Diberi Panggung

”Mungkin juga karena faktor usia yang sudah sepuh, akhirnya sampai membuat paman masuk rumah sakit,” tuturnya.

Meskipun sudah masuk rumah sakit, Abdul Hadi WM tidak tampak risau sama sekali. Hal tersebut dirasakan oleh Wahyudi. Pada Kamis (18/1) sore, pria kelahiran 24 Juni 1946 itu masih sempat mengunggah foto akun Facebook.

”Dia mengunggah foto saat diinfus di rumah sakit. Dia sendiri yang memposting. Makanya, saya sangat tidak menyangka bahwa pagi tadi (Jumat, 19/1) akan meninggal,” ujar Wahyudi.

Abdul Hadi menjadi sosok yang sangat disegani bagi sanak famili di keluarganya. Banyak prinsip hidup yang dapat dipelajari melalui perjalanan hidup penyair puisi Tuhan, Kita Begitu Dekat itu.

Puisi Tuhan, Kita Begitu Dekat karya Abdul Hadi WM
Puisi Tuhan, Kita Begitu Dekat karya Abdul Hadi WM

Menurut Wahyudi, Abdul Hadi WM adalah sosok yang sangat teguh dalam memegang prinsip. Mulai dari hal yang sangat sederhana hingga sesuatu yang dianggap paling berharga.

Hal itu dibuktikan dengan sikapnya yang tidak pernah lupa jalan pulang. ”Dia sering pulang ke Pasongsongan. Tiap tahun pasti pulang beberapa kali,” ujarnya.

Mulai dari masa muda, Abdul Hadi memang dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas. Prosesnya dalam menempuh pendidikan dan menata karier dia lakukan dengan tekun.

Tidak pernah ragu untuk hidup di kota orang untuk terus menempa diri.

Ada prinsip yang sering disampaikan Abdul Hadi kepada semua keponakan dan sanak familinya di Sumenep.

Baca Juga: Ada Sejarah yang Terputus dan Dikaburkan

Bagi Abdul Hadi, tanah kelahiran adalah tempat awal yang mengantarkan nasib baiknya hingga berkarier seperti saat ini.

Sebab, di sinilah tumpahnya/ darah kita pertama/ dan terakhir berhentinya/ mengalir nadinya/” tulis Abdul Hadi dalam puisi berjudul Madura.

Menurut Wahyudi, pamannya merupakan sosok yang tidak banyak bicara. Kecuali, memang ada hal yang dianggap penting untuk disampaikan.

Abdul Hadi juga sangat disiplin dari sisi waktu. ”Jika diundang dalam salah satu acara, 30 menit sebelum acara dimulai sudah tiba dan siap di lokasi,” tuturnya.

Abdul Hadi adalah sosok yang sabar. Dalam aktivitas kesehariannya, tidak pernah lepas membaca buku. Hal itu terus dilakukan sampai usia senja. Jika ada miliknya dipindahkan dari tempat asal ke tempat lain, pasti diketahui.

Baca Juga: Sejarah Madura di Tangan Sastrawan

”Itu pernah saya alami sendiri. Padahal, buku itu tetap saya letakkan di rak buku yang sama, hanya bukan di tempat yang asal,” jelasnya.

Kabar meninggalnya Abdul Hadi membuat keluarga besar sangat kehilangan. Selama ini dia sering mengingatkan agar sesama saudara jangan sampai terjadi perselisihan. Sebab, kekuatan utama untuk masa depan bermula dari keluarga.

Pesan tersebut sering disampaikan. Sehingga, sangat diingat betul oleh Wahyudi. Abdul Hadi juga sering mengingatkan agar cucu, keponakan, dan semua sanak familinya terus menuntut pendidikan.

”Pesan dari paman, jangan mengutamakan harta karena rezeki untuk orang berpendidikan akan datang dengan sendirinya,” kenangnya.

Baca Juga: Budayawan Kadarisman: Citra Madura Harus Ditata Ulang

Abdul Hadi memang tinggal di Jakarta. Namun, perhatiannya kepada Madura masih besar.

Menurut dia, kreativitas orang Madura tampak dari syair-syair lagu yang diciptakan. Tapi, saat ini kreativitas seperti itu mulai tidak ada lagi.

Jika melihat historinya, kata dia, orang Madura punya daya saing yang kuat. Hal ini, kata Prof Hadi, harus dipertahankan.

Salah satunya dengan memilih pemimpin yang baik dan punya kapasitas dalam melihat serta memikirkan kebudayaan. Apalagi jika ditopang dengan potensinya yang cukup besar.

”Dengan potensi yang cukup besar, orang Madura itu memerlukan pimpinan yang baik, semangatnya tidak lembek,” ujar penulis buku Tasawuf yang Tertindas (Kajian Hermeneutik terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri) itu pada JPRM, Agustus 2022.

Penyair yang pernah menjadi pengurus Dewan Kesenian Jakarta itu menyatakan, nalar seni orang Madura itu sangat tajam. 

Baca Juga: Pandangan Budayawan Syaf Anton WR atas Maraknya Kasus Pertikaian, Terjadi Pergeseran Stigma, Tegaskan Carok Punya Ritual Panjang

Apalagi jika berkaitan dengan agama. Menurut dia, jika dalam kesenian dan kebudayaan mulai luntur, berarti ada yang tidak benar dari sisi tentang pendidikan kesenian dan budaya.

Padahal, jika mengacu pada sejarah, Madura tidak bisa dikesampingkan. Dalam aspek agama misalnya, pengembangan Islam terbesar adalah di Madura.

Buktinya adalah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. ”Jadi, Madura itu jangan sampai dijadikan sirip oleh Jawa,” kata Penulis buku puisi Madura, Luang Prabhang itu.

Abdul Hadi menempuh pendidikan di fakultas sastra dan filsafat di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta.

Hingga akhirnya keliling di beberapa negara, salah satunya Jerman, untuk mendalami filsafat. Beberapa tahun dia pernah tinggal di Iowa, Amerika Serikat, mengikuti International Writing Program.

Pada 1977, Abdul Hadi diganjar penghargaan oleh Dewan Kesenian Jakarta atas buku puisinya berjudul Meditasi yang terbit 1976.

Karyanya berjudul Tergantung pada Angin (kumpulan sajak, 1983) dianugerahi Hadiah Sastra ASEAN oleh Pemerintah Kerajaan Thailand melalui Putra Mahkota di Bangkok pada 1985. (bus/luq)

Editor : Fatmasari Margaretta
#penyair #seniman #filsuf #obituari #budayawan #kebudayaan #rumah sakit #meninggal dunia #indonesia #guru besar #madura #sastrawan #kesenian #Abdul Hadi WM