Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menguatkan Arebba, Merajut Kebersamaan

Abdul Basri • Selasa, 21 Maret 2023 | 16:29 WIB
Photo
Photo
Oleh: MH Said Abdullah*

SAAT ini kita memasuki akhir Syakban dalam penanggalan Hijriah atau Bulan Rebba dalam istilah Madura. Makna kultural Rebba yakni memberikan sedekah kepada sesama, terutama di lingkungan kampung atau desa. Beragam kegiatan kultural-spiritual dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat di Indonesia pada akhir Syakban dan menyambut awal Ramadan.

Photo
Photo
Kebiasaan warga di Banyumas, Jawa Tengah, di akhir Syakban dan awal Ramadan yakni melakukan kegiatan Perlon Unggahan. Kegiatan ini berupa makan bersama-sama warga satu kampung. Mereka menyembelih sapi atau kambing, dimasak bersama-sama, dan dimakan bersama-sama pula. Menu yang sangat akrab berupa nasi bungkus, serundeng sapi, dan sayur becek.

Bagi masyarakat Jawa, menjelang Ramadan, terutama di pedesaan yang masih kuat memegang tradisi, membiasakan diri dengan berbagai makanan, kita menyebutnya dengan ater ater atau mengirim makanan buat keluarga atau tetangga sekitar. Apem seolah menjadi bagian wajib dari isi ater-ater. Saya tidak tahu persis mengapa kue apem menjadi ”komponen wajib” dalam isi ater-ater.

Dari cerita folklor yang berkembang, apem istilah penjawaan dari serapan kata berbahasa Arab. Dari kata afwan yang berarti maaf. Bagi orang Jawa-Islam, memasuki Ramadan adalah ruang pembersihan diri, pembersihan hati, menghubungkan diri secara transendensi dengan Sang Khaliq. Sebab itu, segala hal yang memberatkan langkah pembersihan diri, terutama segala kemelekatan dosa-dosa sosial, berupaya dibersihkan dengan tradisi ater-ater, yakni berbagi sekaligus unjuk salah diri.

Tradisi ater-ater ini juga mentradisi bagi warga kampung saya di Sumenep. Mereka menyebutnya dengan istilah ter-ater. Konsepnya sama dengan tradisi ater-ater di Jawa. Opor ayam dan nasi ketan hitam sering kali menjadi menu pada umumnya. Mengapa opor ayam? Bisa jadi ini merupakan ”menu kehormatan”. Sebagai tanda ketulusan saling meminta maaf, dalam upaya membersihkan dosa sosial dan opor ayam sebagai ”cenderamata” yang layak sebagai simbol penghormatan.

Bagi warga Madura yang merantau di Kalimantan Barat, awal Ramadan mereka sambut dengan tradisi pegengan. Tradisi ini sangat kental pengaruh Islam di Jawa. Yakni, menyambut Ramadan dengan megengan, yang berarti menahan napas. Mereka mempersiapkan diri melaksanakan puasa Ramadan agar bisa menahan diri atas segala hal yang membatalkan syarat sahnya puasa. Pegengan ditandai dengan hajatan mengundang tetangga sekitar untuk menikmati makanan yang disediakan.

Selain pegengan dan ter-ater, warga Madura sangat akrab dengan istilah arebba. Arebba ini nama lain dari ter-ater. Oleh warga Madura dinamai arebba karena kegiatan ini dilaksanakan Bulan Rebba dalam istilah Madura. Di Bulan Rebba, warga Madura saling berbagi makanan hasil kebun dan pertanian. Saling memberi seserahan ini kebanyakan dilakukan di masjid atau musala desa masing masing. Sambil berbagi makanan, warga saling meminta maaf satu sama lain.

Kegiatan arebba akan dilaksanakan kembali oleh warga Madura pada rentang pertengahan Bulan Ramadan hingga menjelang Idul Fitri. Arebba pada waktu menginjak pertengahan Ramadan dimaksudkan untuk mendapat berkah dari malam Laitatul Qadar.

Komunalitas

Ada benang merah yang menghubungkan keseluruhan tradisi, baik di Jawa, Madura, maupun tempat-tempat lain di Nusantara. Ramadan bagi mereka adalah ruang waktu yang sangat spesial. Untuk menunaikan puasa Ramadan, warga yang melakukan ter-ater, arebba, maupun pegengan merasa perlu untuk tidak bermasalah dengan kerabat dan tetangga mereka.

Mereka merasa perlu menyudahi hubungan-hubungan sosial yang renggang. Mereka merasa perlu melihat kerabat dan tetangga mereka, apakah ada yang kekurangan. Mereka merasa perlu mempererat lebih dekat lagi hubungan-hubungan batin. Jelas terkandung makna, faktor antroposentris (silaturahmi yang baik) menjadi dasar berpijak untuk menghubungkan diri secara transendensi. Fondasi inilah yang mereka perlukan untuk menapaki tangga Ramadan.

Bahkan, sebelum mengawali Ramadan, warga berziarah kubur, mendoakan kerabat, dan tetangga yang meninggal. Pertautan batin tidak sekadar mereka julurkan terhadap yang masih hidup, tetapi juga terhadap yang telah meninggal. Amalan doa yang dialamatkan terhadap mereka yang telah meninggal membuktikan tradisi yang terus dirawat oleh pemeluk Islam di Indonesia memberi rahmat dan mampu melampaui alam.

Selain itu, praktik-praktik budaya yang menyertai ritus-ritus Islam oleh kebanyakan pemeluk Islam di Indonesia, terutama di pedesaan, untuk saling menopang dan memberi arti. Terlihat ada kebutuhan untuk selalu merawat komunalitas atau kebersamaan. Diterjemahkanlah kebutuhan itu melalui semangat bersilaturahmi dan berbagi seperti yang terlihat pada ter-ater, arebba, hingga pegengan. Di lain pihak, praktik ini tidak menegasikan pesan Islam melalui ritus-ritusnya, malah mengakuisisi pesan substantif dari pelaksanaan ritus-ritus Islam itu sendiri.

Mengapa kebutuhan akan komunalitas itu tetap mereka perlukan? Tetap mereka hadirkan dalam setiap kesempatan sosial? Komunalitas atau yang dibahasakan oleh Bung Karno menjadi gotong royong rupanya telah menjadi jiwa bangsa sejak lama. Melalui komunalitas itulah warga secara bersama-sama menjaga eksistensi menghadapi seluruh dinamika budaya, termasuk strategi membebaskan diri dari marabahaya.

Maka, mengambil makna dari tradisi ter-ater, arebba, dan pegengan, teramat layak, bahkan keharusnya kita meneruskan tradisi baik ini. Dengan meneruskannya, sesungguhnya kita merawat dan merajut kebersamaan, yang berarti juga merawat jiwa bangsa, bergotong royong, meringankan beban sosial satu sama lain, sekaligus alat efektif menjaga harmoni sosial. (*)

)*Anggota DPR RI dari PDI Perjuangan

 

  Editor : Abdul Basri
#anggota dpr ri said abdullah #ketua banggar dpr ri said abdullah #MH Said Abdullah #said abdullah