AYU LATIFAH, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura
TEROP masih menaungi halaman rumah warga Dusun Takabu Tengah, Desa Brakas, Kecamatan Modung, Bangkalan, Sabtu (10/9). Alas untuk tahlilan masih digulung ke tepian. Sementara ibu-ibu sibuk di dapur di pojok barat laut.
Dapur itu berdempetan dengan kobung (langgar) yang berada di sebelah selatan. Sedangkan di sebelah timur dapur berdiri bangunan rumah kuno terbuat dari kayu. Di sebelah selatan kobung itu dipisahkan halaman tanah, berdiri rumah tembok berlantai keramik oranye. Bangunan itu berdempetan dengan rumah lain bertembok warna hijau, berlantai keramik putih.
Bangunan berlantai keramik oranye itulah rumah Sengkang Baplang, musuh Angling Dharma. Sengkang Baplang diperankan oleh Rendy Reki Bramasta alias Ibrahim. Dalam dunia peran, putra Madura ini selalu menjadi tokoh antagonis.
Suasana duka masih terasa. Sanak saudara sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Holifah yang merupakan adik Ibrahim mempersilakan Jawa Pos Radar Madura untuk duduk. Sambil membuka toples berisi beraneka penganan, perempuan berkerudung itu mulai bercerita.
Ibrahim meninggal dunia di Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi, Jakarta Timur, Senin (5/9). Baginya, kakak yang telah meninggal pada usia 54 tahun itu merupakan sosok yang baik, taat, dan sabar.
”Dia orangnya peduli kalau soal keluarga. Tidak pernah ada masalah dalam keluarga dan saudara. Orangnya paling sabar. Dia selalu mengutamakan perasaan orang lain daripada perasaan sendiri,” kenang Holifah.
Dusun Takabu Tengah merupakan tanah kelahiran Ibrahim. Bahruddin merupakan salah seorang teman bermain di masa kecilnya. Keponakannya itu yang paling mengetahui lika-liku perjalanan Rendy.
Sebelum menjadi Sengkang Baplang, Ki Paron Waja, dan tokoh-tokoh lain dalam dunia film, Ibrahim hanyalah anak desa. Sama dengan Bahruddin yang bertani membantu kedua orang tua. ”Aktivitasnya mencangkul dan bertani. Sekolah hanya sampai SD dan mondok. Kemudian, di usianya ke-17, dia berangkat merantau,” tutur pria yang kini menjadi Kades Brakas itu.
Sampai di Jakarta, Ibrahim tidak langsung main film. Dia sempat menjadi tukang ojek untuk menyambung hidup. Karena tempat tinggalnya dekat dengan lokasi syuting, Rendy mendapat tawaran menjadi pemeran pengganti salah satu pemain di film. Sejak itulah sosok kelahiran 2 Desember 1968 itu mulai ikut bermain beberapa film laga sebagai aktor.
”Basis almarhum itu di persilatan karena pernah belajar di dunia persilatan. Terakhir bermain di Prabu Kian Santang,” tambahnya.
Selain aktif di dunia seni peran, Rendy juga memiliki kelompok seni OM Rendista Orkes Melayu dangdut profesional. Dia juga merupakan seniman yang akhir-akhir masa hidupnya vakum dan menyibukkan dekat dengan ulama. ”Karena mau istirahat, beliau lebih banyak berkunjung ke guru-gurunya,” jelas Bahruddin.
Fisik Ibrahim memang sudah tiada. Namun, keberadaan putra pasangan Asmu dan Misti itu masih terasa bersama keluarga besar. Apalagi, tidak ada tanda apa-apa atas kepergian ayah empat anak itu. Jenazah tiba Selasa (6/9) pagi. Kemudian, dimakamkan pukul 10.00. Almarhum meninggal karena sakit komplikasi paru-paru dan jantung.
”Dia memiliki kepribadian yang kuat. Tidak pernah mengeluh kalau sakit dan tidak pernah sedih. Dipendam sendiri. Sebelum meninggal hanya bilang sesak,” jelasnya.
Almarhum dikenal sosok yang taat agama dan memiliki kepribadian yang baik. Semasa hidup tidak pernah memiliki masalah dengan siapa pun. ”Sangat baik. Sering beri masukan ke saya. Orangnya mudah bergaul dan ibadahnya sangat tekun,” tutur Bahruddin.
Sementara itu, bagi Maryati, almarhum setiap pulang kampung selalu bersilaturahmi dengan tetangga. Almarhum juga dikenal sopan dan menyayangi anak-anak. Ibrahim sering berbagi amplop berisi uang setiap pulang kampung.
”Baik orangnya, alim juga. Kalau pulang mesti ngasih-ngasih kepada kami. Kadang uang Rp 50 ribu gitu,” kata perempuan 22 tahun itu.
Ibrahim mengawali pendidikannya di SDN Brakas Dajah 1. Kemudian, melanjutkan ke Pondok Pesantren Ar Rowiyah, Desa Mancengan, Kecamatan Modung, Bangkalan. Dari pernikahan dengan perempuan asal Bogor, dia dikaruniai empat buah hati. Yakni, Fania, Anisa, Rafi, dan Rafa.
Dalam siniar bersama Errina Gracesita Dharmawan, Rendy banyak bercerita kiprahnya dalam dunia film. Dalam program Plesbek kanal YouTube Errin Ferry Official itu, terungkap bahwa Rendy masuk sanggar pada 1989. Selama tiga bulan dia latihan. Tahun berikutnya masuk action.
Dalam perjalanan dunia seni peran, Rendy selalu menjadi tokoh antagonis. Rendy menjadi Sengkang Baplang dalam film Angling Dharma menggantikan aktor lain. ”Pernah ada kejadian waktu saya pulang ke kampung Madura itu, saya digebukin sama orang-orang, ibu-ibu. Saking jahatnya, katanya,” cerita Rendy dalam obrolan yang dipandu perempuan pemeran Kalyana Tantri itu.
Pemilik suara khas itu mengaku menjiwai setiap sosok yang diperankan. Termasuk ketika menjadi Sengkang Baplang. Karakter masuk ke dalam jiwanya, menggantikan karakter asli Ibrahim. Itu sangat terasa ketika sudah memakai kostum. ”Sempat tanya kepada penulis, arti sengkang baplang itu batu besar,” ujarnya dikutip dari kanal yang sama.
Setiap memerankan diri sebagai aktor, Ibrahim selalu bersungguh-sungguh. Mata merah dalam mengeluarkan jurus pikiran sewu itu nyata. Bahkan, suatu ketika dia pernah jatuh pingsan ketika adegan menghadirkan hujan. Selain itu, pernah cedera karena tabrakan kuda dalam laga Tutur Tinular.
Ibrahim memang memiliki bekal silat. Sebab, dia pernah meraih gelar juara kedua Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Jakarta Timur. Sebelumnya juga pernah bergabung dengan perguruan Merpati Putih.
Dalam hidupnya, dia tidak mau terjadi hal-hal yang memang tidak disukai oleh teman-teman. Karena itu, dia selalu menjaga akhlak. Termasuk ketika bergabung dengan Genta Buana Paramita. ”Sangat hormat penggemar Angling Dharma,” kata aktor yang mengaku punya lawan main klop Gendrawani (Lilis Suganda) itu.
Selain film kolosal Angling Dharma, Rendy terlibat dalam Misteri Gunung Merapi, Tutur Tinular, Nyi Roro Kidul, Brama Kumbara, Prabu Kian Santang, dan film layar lebar. Menjadi bagian dari film Angling Dharma sangat berkesan baginya. Katanya, haru ketika mau berpisah dengan teman-teman tim. Semua menangis. ”Salam cinta, salam damai,” ucapnya di akhir obrolan dengan Errina. (*/luq) Editor : Administrator