SAMPANG, RadarMadura.id – Jaket mungkin menjadi salah satu outfit yang tidak pernah lepas dari pria di berbagai suasana.
Selain praktis, item satu ini juga bisa melindungi badan dari cuaca dingin.
Tak heran, banyak kalangan yang memilih untuk menggunakan jaket dalam kegiatan sehari-hari.
Alasannya, bagi sebagian orang, item fashion tersebut mampu memberikan kesan berbeda saat memakainya.
Salah seorang pengguna jaket adalah Mohammad Warid. Remaja 24 tahun itu menjadi salah satu pencinta jaket berbahan denim.
Bagi dia, jenis kain tersebut bisa dipadukan dengan berbagai pilihan pakaian yang dia gunakan.
”Kalau denim itu bisa dikatakan cocok dengan setiap kondisi. Misalnya, untuk sekadar nongkrong atau pergi ngampus. Namun, dibanding dengan jenis lain. Perawatan jaket denim bisa dikatakan lebih sulit,” tutur warga Sampang itu.
Alumnus salah satu kampus di Pamekasan itu menjelaskan, jaket dengan bahan jeans itu tidak bisa sembarang dicuci jika tak ingin cepat usang.
Karena itu, usahakan untuk tidak mencuci jaket terlalu sering.
Model jaket lain yang mampu menunjang penampilan pria adalah bomber. Jenis ini, kata Warid, hanya perlu modal simpel.
Yaitu, menggunakan kaus pendek sebagai inner dan celana dengan bahan apa pun.
Pengguna jaket lainnya adalah Riski Rizaldi. Dia lebih suka memakai jaket berbahan kulit.
Selain terlihat lebih elegan, bahan itu hampir dipakai oleh setiap kalangan di Madura. Baik itu pejabat maupun pekerja biasa.
”Memakai jaket kulit sudah hampir menjadi sebuah simbol bersama bagi orang Madura. Siapa di sini yang tidak suka memakai jaket kulit, tidak peduli masih remaja atau bahkan orang tua sekali pun,” sambungnya.
Menurut Rizaldi, jaket kulit dinilai lebih baik dalam melindungi tubuh dari angin dibandingkan dengan bahan lainnya.
Apalagi, jika sudah masuk musim hujan. Dia menyarankan untuk memakai jaket kulit.
”Satu jenis jaket lain yang saya suka adalah hoodie karena bahannya lembut dan nyaman dipakai. Cocok untuk dipakai santai bersama teman. Kalau ini sih lebih friendly,” timpal remaja berkumis tipis itu. (afg/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta