BANGKALAN, RadarMadura.id – Laboratorium patologi anatomi RSUD Syamrabu memiliki andil besar dalam penyembuhan pasien.
Sebab, pemeriksaan di laboratorium patologi anatomi dapat mendiagnosis masalah kesehatan yang dialami pasien melalui pemeriksaan spesimen.
Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Syamrabu dr. Kurrotun Ayni B., Sp.PA menjelaskan, patologi anatomi berperan penting dalam pelayanan kedokteran.
Terutama dalam menegakkan diagnosis dari spesimen yang didapat dari pasien.
”Mulai dari spesimen berupa cairan, jaringan, maupun organ yang didapatkan dari tindakan biopsi, biopsi jarum halus, maupun operasi,” ujarnya.
Berdasar Permenkes 755/MENKES/PER/IV/2011, semua jaringan yang diambil dari tubuh manusia wajib dilakukan pemeriksaan patologi anatomi.
Kecuali gigi yang dicabut, ari-ari pada kelahiran normal, dan kulit penis dari anak laki- laki yang disunat.
Ruang lingkup pemeriksaan patologi anatomi terdiri atas histopatologi, sitologi, potong beku, histokimia, imunohistokimia, dan pemeriksaan molekuler.
Sementara ini, di RSUD Syamrabu tersedia pemeriksaan histopatologi.
”Yaitu, pemeriksaan dari spesimen yang berasal dari jaringan hasil biopsi atau operasi yang merupakan pemeriksaan gold standard dalam penegakan diagnosis,” ungkapnya.
Selain itu, terdapat pemeriksaan sitologi. Yaitu, pemeriksaan sel dengan cairan tubuh serta fine needle aspiration biopsy (FNAB) dan pembuatan blok sel untuk penegakan diagnosis lebih cepat dan tepat.
Baca Juga: Bangkalan Hanya Memiliki 30 Bibit Sapi Unggulan
Dulu, peran patologi anatomi terbesar adalah mendiagnosis penyakit, terutama tumor.
Dengan demikian, dapat dideteksi apakah tumor yang diderita pasien masuk jinak atau ganas. Karena itu, dikenal istilah no cancer diagnosis, without pathologist.
Pemeriksaan patologi anatomi juga dapat membantu prognosis dan mengetahui penyebaran tumor pada organ lain.
Namun seiring perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi, peran dokter spesialis patologi anatomi semakin berkembang untuk kepentingan terapi pada pasien.
”Misalnya, pemeriksaan gen-gen tertentu yang sangat berhubungan dengan terapi yang nantinya akan diberikan pada pasien,” sambungnya.
Perempuan yang biasa disapa dokter Ayni itu menambahkan, patologi anatomi tidak dapat berdiri sendiri pada era precision medicine saat ini.
Diperlukan kerja sama yang komprehensif oleh para dokter antardisiplin ilmu.
”Ke depan, laboratorium patologi anatomi RSUD Bangkalan akan terus berkomitmen meningkatkan mutu pelayanan dan mengembangkan pelayanan,” ucapnya.
”Dengan begitu, pasien dapat memperoleh diagnosis dan tata laksana yang cepat, tepat, dan terbaik demi kesembuhan pasien,” tambahnya. (jup)
Editor : Ina Herdiyana