Cap carok begitu dilekatkan pada orang Madura, meski di lain pihak banyak yang berusaha keras untuk menjernihkan sebutan itu. Bahwa, saat ini, tidak ada carok di Madura. Yang ada hanya nyelep atau penganiayaan dan pembunuhan seperti pada umumnya.
Penganiayaan dan pembunuhan itu tidak hanya terjadi di Madura dan tidak hanya dilakukan oleh orang Madura. Orang di belahan dunia mana pun sama. Bahkan hingga dimutilasi.
Selain karena anggapan miring orang luar, cap carok kadang muncul dari dalam. Peristiwa yang sesuai dengan definisi carok hanya terjadi pada masa lalu. Namun, setiap terjadi penganiayaan dan atau pembunuhan kerap disebut sebagai carok. Bahkan, oleh orang Madura sendiri. Sering kita melihat video atau foto terkait penganiayaan yang disertai keterangan bahwa itu korban carok. Bahkan, ada yang menyebut carok massal ketika pihak berseteru melibatkan banyak orang.
Baru-baru ini, hasil ungkap kasus petugas di Sampang, seorang pria tua diduga menjadi otak pembunuhan. Korban dikubur di atas bukit. Kepala dibungkus karung dan tangannya diikat. Konon, peristiwa ini dilatarbelakangi masalah perempuan. Tersangka utama tak terima mantan menantunya dinikahi korban.
Peristiwa serupa yang bersimpul pada perempuan sering terjadi. Beberapa korban dihabisi karena menikahi mantan istri pelaku. Bahkan, ada korban yang dihabisi karena meminang perempuan yang sudah lama putus tunangan dengan pelaku.
Pekan lalu kita dihebohkan insiden berdarah Tanah Merah. Dua nyawa melayang dan beberapa masih dirawat di rumah sakit. Polisi sudah menetapkan tersangka dan menahan mereka. Katanya, ”hanya” disebabkan soal senggol motor.
Sebelumnya, publik digemparkan tragedi maut dengan korban seorang janda. Perempuan itu ditemukan terkapar dengan leher luka gorok dan isi perut terburai. Polisi sudah menangkap seorang pria yang diduga pelaku. Versi polisi, pria itu kekasih korban. Namun gelap mata, karena korban minta pertanggungjawaban untuk dinikahi.
Lain lagi tragedi Halim Perdanakusuma sebelum pilkades serentak. Video dan foto korban yang tergeletak bersimbah darah seketika tersebar. Baru pada kasus ini polisi menyebut dengan tegas peristiwa ini karena pilkades. Biasanya, meski publik tahu bahwa semua peristiwa ini beraroma pilkades, biasanya polisi punya keterangan lain.
Peristiwa berdarah hingga nyawa terenggut terus berulang. Terutama di Bangkalan. Peristiwa ini tidak pilih-pilih tempat. Di tempat terbuka sekalipun jadi. Kita masih ingat betul peristiwa berdarah di sekitar alun-alun, sekitar Embong Mereng, dan bahkan rusuh dengan senjata di kantor pemerintahan.
Sementara itu, peristiwa berdarah yang merenggut nyawa perempuan tak kalah memprihatinkan. Betapa tidak manusiawi para pelaku Tragedi Pantai Rongkang. Juga seorang perempuan di wilayah utara Bangkalan yang ditemukan meninggal dunia setelah menjadi korban pelecehan seksual sekelompok pemuda.
Yang tak kalah menyedihkan, peristiwa sopir taksi online yang dihabisi, jasadnya dibuang lalu mobilnya diambil. Polisi berhasil mengungkap sepasang suami istri asal Sumenep terlibat dalam perbuatan kejam ini.
Sampai kapan akan seperti ini? Sudah berapa kali kita mengelus dada. Namun, peristiwa serupa terus berulang hingga kita tidak bisa tenang. Bahwa, kita tidak dalam kondisi aman-aman saja.
Ada yang harus diubah dalam diri kita. Bahwa, tidak semua masalah harus diselesaikan dengan menghilangkan nyawa orang lain. Itu memang tidak mudah karena sudah menjadi babatek sebagian orang. Bila babatek buru ka otek ta' kenneng otek.
Namun, seburuk apa pun orang Madura, tetap hormat pada kiai. Karena itu, tokoh agama juga punya peran besar dalam memberi pemahaman kepada masyarakat. Peran mereka bisa mencegah dan meredam masalah. Tentu butuh peran tokoh lain yang juga berpengaruh agar tidak makin keruh.
Aparat penegak hukum juga harus tegak dan tegas. Jangan ada yang ditutup-tutupi, ungkap motif yang sebenarnya dan tangkap para pelaku. Hanya dengan mengungkap masalah yang sebenarnya, penyelesaiannya juga bisa tepat.
Polisi itu kuat. Meski jumlahnya belum ideal, namun pasti bisa melaksanakan tugas dengan baik. Pelaksanaan pilkades di Bangkalan yang dikhawatirkan rusuh bagi sebagian orang berhasil dilalui dengan kondusif, meski sebelumnya merenggut nyawa. Keberhasilan itu, salah satunya, karena polisi menggelar razia senjata tajam sehingga potensi kisruh pada hari H bisa diantisipasi. Terutama di daerah rawan.
Pemerintah juga harus tegas melaksanakan aturan. Terkait pilkades ini, jangan ada celah untuk main-main atau dipermainkan pihak tertentu. Laksanakan sesuai aturan agar nyawa tidak semakin banyak berguguran.
Masyarakat juga harus bisa menahan diri. Tidak gampang mengayunkan sajam dan memuntahkan peluru senjata api (senpi). Jangan jadi tukang jagal bagi sesama manusia. Mari perbaiki citra diri kita masing-masing. Tepis stigma orang Madura dengan menunjukkan orang Madura tidak seperti dicap buruk sebagian orang. Salah satunya tidak mudah menyebut penganiayaan dengan kata carok. (*)
*)Pemred Jawa Pos Radar Madura Editor : Abdul Basri