Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Jangan Anggap Sepele, Masyarakat Harus Waspadai Penyakit Kuning pada Bayi, Kenali Gejalanya, Yuk!

Fatmasari Margaretta • Sabtu, 13 Januari 2024 | 19:25 WIB

 

SEHAT: Tenaga kesehatan Neonatus RSUD Syamrabu Bangkalan mengecek kondisi bayi terapi sinar di ruang bayi, Jumat (12/1). (AYU LATIFAH/JPRM)
SEHAT: Tenaga kesehatan Neonatus RSUD Syamrabu Bangkalan mengecek kondisi bayi terapi sinar di ruang bayi, Jumat (12/1). (AYU LATIFAH/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Penyakit ikterik neonatorum atau gejala penyakit kuning pada bayi hampir sering ditemui. Gejala tersebut sudah seharusnya diwaspadai. Sebab, bisa menyebabkan kematian pada bayi.

Kepala Ruang Melati RSUD Syamrabu Bangkalan yang diwakili perawat neonatus/bayi Sari Narulita menyampaikan, tidak semua bayi lahir mengalami penyakit kuning. Hal itu bergantung pada kondisi kesehatan hati bayi.

Biasanya, gejala penyakit kuning ditemukan beberapa hari setelah bayi dilahirkan. ”Tidak semua bayi yang lahir itu mengalami penyakit kuning,” katanya Jumat (12/1).

Baca Juga: Mulutmu Harimaumu! Akibat Sakit Hati Lantaran Sering Dimarahi, Keponakan Tega Bunuh Pamannya Sendiri, Bibi dan Anaknya Luka-Luka

Dia menjelaskan, penyakit ini terjadi karena berubahnya pigmen kulit berwarna kuning pada bayi.

Pemicunya, gangguan pada hati yang tidak mampu mengabsorpsi cairan bilirubin. Umumnya, gejala ini terjadi pada bayi prematur.

”Selain faktor gangguan hati, penyakit ini bisa muncul dari ibu yang juga punya penyakit hati,” terangnya.

Menurut dia, bayi normal akan mampu menyingkirkan bilirubin dengan baik. Bayi tersebut memiliki kadar bilirubin kurang dari tujuh miligram per desiliter.

Baca Juga: Seragam Satlinmas Telan APBD Ratusan Juta, Satpol PP Bangkalan: Itu Sudah Berkurang Signifikan daripada Tahun Lalu

Jika kondisinya tidak normal, bayi akan memiliki kadar bilirubin lebih dari tujuh miligram per desiliter.

Dia menyebut, ciri-cirinya terdapat pada permukaan bayi, perut, hingga tubuh bayi. ”Biasanya jika sudah terkena bilirubin, mereka tidak mau minum, menyusu, dan berat badannya menurun,” tuturnya.

Sari mengatakan, gejala bayi kuning ada dua jenis. Pertama, ikterik fisiologis, normalnya akan timbul saat usia bayi 2–7 hari. Kedua, ikterik patologis, timbul kurang dari 24 jam. Umumnya akan menyebabkan sejumlah gejala seperti berat badan bayi turun.

Baca Juga: Polres Pamekasan Klaim Pengguna Knalpot Brong Didominasi Hasil Modifikasi Sendiri

Jika penyakit kuning tidak disembuhkan, lanjut Sari, bayi berpotensi kejang. Dampak terburuk bisa menyebabkan kematian. Namun, tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara sinar terapi.

”Kalau fisiologis masih bisa dijemur di bawah sinar matahari. Tapi, kalau patologis harus mendapat tindakan medis melalui sinar terapi,” tukasnya. (ay/bil)

Editor : Fatmasari Margaretta
#bangkalan #bilirubin #ibu dan anak #kesehatan #bayi #penyakit kuning #syamrabu bangkalan