RadarMadura.id – Tongtong adalah jenis musik tradisional Madura. Istilah tongtong berasal dari bunyi yang dihasilkan dari bambu atau kayu.
Menurut Jaap Kunt (1973), sebagian besar tongtong (kentungan) terbuat dari bambu dan kayu. Alat musik ini digunakan sejak zaman Hindu. Bentuk dan ukurannya bervariasi.
Tongtong berbentuk silinder dibuat dari bambu dengan ukuran mulai dari 20 cm hingga 1 m, sedangkan tongtong berbentuk labu bengkok terbuat dari akar bambu dengan ukuran 10 cm sampai 30 cm. Lubang atau celahnya hanya satu dan membujur.
Istilah lain yang terbuat dari bambu besar disebut bungbung, sedangkan yang terbuat dari akar bambu besar disebut bungkel. Tongtong ukuran kecil/sedang mudah dibawa, sedangkan ukuran besar biasanya digendong dalam posisi di depan. Cara memainkan atau menabuh, satu tangan memukul dengan sebatang kayu kecil, sementara tangan yang lain memegangnya.
Menurut Bouvier (2002), tongtong awalnya digunakan sebagai alat penanda bahaya. Misalnya, saat gerhana bulan yang disebut bulân gherring (sakit). Biasanya, setiap keluarga keluar pekarangan sembari memukuli pepohonan.
Masa berikutnya, tongtong dikembangkan menjadi alat komunikasi dengan kode-kode pukulan tertentu. Kemudian, tongtong dijadikan sebagai alat musik dalam orkes arak-arakan yang disebut musik patrol atau patrol kaleleng. Selain itu, fungsinya sebagai hiburan dan memiliki fungsi baru untuk membangunkan orang akan sahur puasa di bulan Ramadhan.
Makna musik tongtong bukan hanya sebagai perwujudan seni musik, melainkan juga sebagai karakter budaya khas yang mampu beradaptasi dengan kehidupan masa kini. Selain itu, mencerminkan karakteristik masyarakat Madura. (fadila)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana