RadarMadura.id - Bayangkan sebuah bukit menjulang dengan puncak menyerupai perahu raksasa yang membelah langit biru. Tenang, anggun, namun menyimpan energi mistis yang kuat.
Itulah Bukit Fatukopa, permata tersembunyi di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tapi juga karena kisah legendaris yang menggetarkan hati.
Konon, bukit batu kapur ini adalah tempat berlabuhnya bahtera Nabi Nuh setelah terjangan banjir besar yang melegenda di seluruh dunia.
Entah bagaimana kisah itu sampai ke Tanah Timor, namun warga setempat meyakini bahwa bentuk puncak bukit yang menyerupai perahu bukanlah kebetulan.
Di sinilah, menurut mereka, kisah besar dari masa lampau bersandar dan menjadi bagian dari sejarah leluhur.
Baca Juga: Cuma Ikan Goreng Disiram Kuah Pedas? Tunggu Dulu, Mangut Cakalang Ini Bisa Bikin Kamu Lupa Mantan!
Tapi kisah tak berhenti sampai di situ.
Bagi masyarakat adat, khususnya Suku Dawan—salah satu suku tertua dan terbesar di NTT—Bukit Fatukopa bukan sekadar lanskap megah.
Ia adalah tanah keramat, tempat awal mula kehidupan, rumah leluhur, dan gerbang spiritual yang tak bisa didatangi sembarangan.
Untuk menjejakkan kaki di sana, satu-satunya jalan adalah melalui restu adat dan ritual sakral yang tidak bisa ditawar.
Ritual ini tidak seperti upacara biasa. Dipimpin oleh seorang usif (raja adat), prosesi melibatkan lilin yang dinyalakan, sopi (minuman tradisional) yang dituang ke tanah, dan ayam kampung yang dipanggang lalu disantap bersama di bawah Pohon Batu Fatukopa.
Di titik inilah, para pendaki "berkomunikasi" dengan leluhur melalui sang pemimpin adat.
Jika pertanda baik diterima, perjalanan ke bukit boleh dilanjutkan. Jika tidak—sebaiknya mundur sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Ada banyak kisah mengenai para pendaki yang nekat melanggar aturan. Mulai dari tersesat hingga jatuh sakit tanpa sebab.
Bahkan ada yang mengaku melihat penampakan aneh saat mencoba mendaki tanpa ritual.
Masyarakat percaya, Bukit Fatukopa dijaga oleh sosok-sosok mistis: seekor kuda yang fosilnya diyakini tergeletak di sisi selatan bukit, seekor ular yang hanya menampakkan diri kepada orang pilihan, dan kera-kera berwajah manusia yang menjadi penjaga gaib dari dunia leluhur.
Uniknya, semua kisah mistik ini membawa dampak luar biasa: alam Bukit Fatukopa tetap lestari. Tidak ada vandalisme, tidak ada perambahan, dan tak ada kerusakan.
Legenda yang hidup dan ditaati membuat tempat ini tak tersentuh tangan usil. Inilah kekuatan adat dan mitos yang justru melindungi lingkungan lebih ampuh dari pagar beton dan undang-undang.
Penasaran ingin melihatnya langsung? Tenang, kamu tetap bisa menikmati keindahan Bukit Fatukopa tanpa menyalahi adat.
Solusinya: berkemah di Bukit Besteke, sebuah spot aman yang menyuguhkan pemandangan langsung ke arah bukit legendaris itu.
Perjalanan ke sana memang menantang: dari Jakarta, kamu bisa terbang ke Kupang (Rp1,7 juta–Rp2,3 juta), lanjut ke Soe sejauh 108 km, lalu menuju Bukit Besteke sejauh 68 km lagi—total waktu tempuh sekitar 5 jam.
Bukit Besteke dikelola langsung oleh warga setempat dan tidak memungut tiket masuk.
Tapi, pengunjung tetap perlu membawa perlengkapan sendiri, membayar sewa kamar mandi Rp5.000, serta parkir Rp20.000 per mobil.
Medan yang dilalui cukup ekstrem, jadi pastikan kendaraanmu dalam kondisi prima dan jangan lupa bawa pakaian cadangan jika ingin trekking atau bermain air di sekitar lokasi.
Fatukopa bukan cuma sekadar bukit. Ia adalah perpaduan sempurna antara mitologi, kepercayaan adat, dan keindahan alam yang nyaris tak tersentuh.
Tempat ini bukan untuk sekadar difoto lalu ditinggalkan, melainkan untuk direnungi dan dihormati.
Bagi para pencari pengalaman spiritual, petualangan rasa, dan kisah dari masa silam—Bukit Fatukopa mungkin adalah jawabannya. Sebuah warisan langit yang dititipkan di Timur Indonesia. (fadila)
Editor : Fadila An Naila