RadarMadura.id — Croissant, kue berbentuk bulan sabit yang menjadi salah satu ikon kuliner Prancis, ternyata tidak berasal dari negeri Eiffel itu.
Menurut Majalah Smithsonian, croissant baru dikenal luas di Prancis pada abad ke-19, berkat seorang pengusaha roti asal Austria yang membuka toko di Paris pada tahun 1838.
Pengusaha itu bernama August Zang, yang ahli dalam membuat dan mempromosikan roti khas Wina, seperti kaiser roll dan kipfel.
Kipfel inilah yang diyakini sebagai cikal bakal croissant, karena memiliki bentuk yang sama. Zang berhasil menarik perhatian masyarakat Paris dengan roti-rotinya yang lezat dan iklannya yang menarik di surat kabar.
Zang hanya berbisnis roti di Paris selama beberapa tahun, sebelum kembali ke Austria dan beralih ke media dunia.
Baca Juga: Bobocabin Padusan Pacet, Solusi Pengelolaan yang Berbeda di Kawasan Wisata Padusan
Namun warisannya tidak terlupakan. Seorang jurnalis Prancis di abad ke-19, Hervé de Kerohant, mencatat bahwa setidaknya ada 12 toko roti yang menjajakan roti khas Wina di Paris.
Banyak orang Prancis juga mulai membuat croissant sendiri dengan adonan yang mereka kreasikan.
Sejak itu, croissant menjadi bagian dari sarapan orang Prancis. Croissant juga menyebar ke berbagai negara, termasuk Amerika, yang diperkenalkan oleh perusahaan roti Sara Lee dengan produk adonan beku siap pakai.
Di Amerika, croissant mengalami berbagai modifikasi, seperti croissant (croissant donut) yang diciptakan oleh Dominique Ansel Bakery di Manhattan, atau croissant pretzel yang populer di City Bakery.
Meski croissant sudah diproduksi secara massal oleh pabrik-pabrik roti, masih ada toko-toko roti dan kue yang tetap mempertahankan tradisi membuat croissant dengan tangan atau rumahan.
Mereka biasanya memberi label “fait maison” untuk membedakan produk mereka dengan produk pabrikan.
Baca Juga: Menuju Bobocabin Padusan, Tempat Glamping Unik di Kawasan Wisata Padusan
Selain Smithsonian Magazine, sumber sejarah lain yang mengulas asal usul croissant adalah Huffpost, yang menyebutkan bahwa croissant sudah ada sejak abad ke-17 di Austria dan dibawa ke Prancis sekitar abad ke-18.
Orang Prancis memberi nama croissant dan pastry lain yang dibuat dari puff pastry dan dipanggang sebagai “viennoiserie”, yang artinya sesuatu dari Wina. (fadila)