Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Perjalanan Panjang Pesantren Nurulhuda Sumenep Ubah Wajah Sosial Pakandangan:  Dari Babat Alas, Jadi Cahaya Dakwah

Amin Basiri • Sabtu, 28 Maret 2026 | 09:05 WIB
SERIUS: Pimpinan Pondok Pesantren Nurulhuda, Desa Pekandangan Barat, oleh KH. Ainul Haq Nawawi (pegang mik) pada momen pelantikan mandataris beberapa waktu lalu.
SERIUS: Pimpinan Pondok Pesantren Nurulhuda, Desa Pekandangan Barat, oleh KH. Ainul Haq Nawawi (pegang mik) pada momen pelantikan mandataris beberapa waktu lalu.

SEJARAH berdirinya Pesantren Nurulhuda Pakandangan, Kecamatan Bluto, Sumenep, tidak bisa dilepaskan dari jaringan besar dakwah ulama Madura, khususnya dari Prenduan.

Cikal bakal pesantren tersebut bermula dari proses babat alas yang dilakukan K Mawardi Khotib pada awal hingga pertengahan abad ke-20.

K Mawardi Khotib hijrah dari Prenduan ke Pakandangan sekitar 19201940-an dengan membawa misi dakwah.

Saat itu, kondisi sosial-keagamaan masyarakat Pakandangan Barat masih memprihatinkan. 

Praktik perjudian, sabung ayam, konsumsi minuman keras tradisional, hingga pergaulan bebas disebut masih marak.

Selain itu, aktivitas keagamaan belum berjalan optimal. Langgar dan majelis taklim belum berkembang, serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan Islam masih terbatas.

Melihat kondisi tersebut, K Mawardi Khotib tidak hanya membuka lahan secara fisik.

Dia juga melakukan babat alas dalam arti sosial, yakni mengubah kebiasaan masyarakat yang dinilai menyimpang dari nilai-nilai syariat.

Dengan pendekatan persuasif dan dakwah bil hikmah, perubahan dilakukan secara bertahap.

Melalui keteladanan akhlak dan penguatan spiritual, masyarakat mulai diajak meninggalkan kebiasaan lama.

Di atas lahan yang dirintis itu, berdiri langgar sederhana. Dari tempat tersebut, pengajian Al-Quran dan kitab kuning mulai berkembang.

Anak-anak belajar mengaji pada sore hari, sementara orang dewasa mengikuti pengajian malam.

Perubahan pun perlahan terlihat. Praktik kemaksiatan berkurang, salat berjemaah semakin ramai, dan kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak ke lembaga keagamaan mulai tumbuh.

Secara genealogis, K Mawardi Khotib memiliki keterkaitan dengan jaringan ulama Prenduan, termasuk Kiai Djauhari Khotib, perintis Pesantren Al-Amien Prenduan.

Relasi tersebut menunjukkan bahwa gerakan dakwah di Pakandangan merupakan bagian dari mata rantai penguatan pendidikan Islam di Sumenep.

Jika Kiai Djauhari Khotib membangun basis pendidikan besar di Prenduan, maka K Mawardi Khotib melanjutkan semangat tersebut melalui pembukaan wilayah dakwah di Pakandangan.

Momentum penting terjadi pada 1991. Pesantren Nurulhuda resmi didirikan sebagai sistem pendidikan berasrama 24 jam setelah kepulangan Kiai Saifurrahman Nawawi dari Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.

Dengan pengalaman pendidikan modern, serta dukungan masyarakat, lembaga tersebut kemudian diformalkan menjadi pesantren dengan sistem yang lebih tertata.

Model pendidikan yang diterapkan memadukan tradisi salaf dengan sistem kelembagaan modern.

Transformasi yang terjadi di Pakandangan Barat menjadi bukti bahwa berdirinya Pesantren Nurulhuda tidak sekadar menghadirkan lembaga pendidikan.

 Lebih dari itu, menjadi gerakan perubahan sosial dan moral masyarakat.

”Kini, pesantren tersebut terus berdiri sebagai pusat dakwah di Pakandangan, melanjutkan perjuangan para perintis dalam membangun peradaban Islam di Madura,” kata Maufiqurrahman, alumnus sekaligus tenaga pengajar di pesantren tersebut. (*/han)

Editor : Amin Basiri
#ponpes nurulhuda #sumenep #bluto