SUMENEP, RadarMadura.id – Ini pengalaman pertama saya berkunjung ke Pulau Pagerungan Besar. Ini juga pengalaman pertama menuju kepulauan di Kecamatan Sapeken lewat jalur udara. Sebelumnya, saya berkunjung ke beberapa pulau dengan naik kapal.
Sekitar pukul 07.30 saya sampai Bandara Trunojoyo setelah diantar Budi, tetangga rumah. Saya meminta antar karena sebelumnya berpikir belum ada transportasi umum penghubung menuju dan dari bandara. Seperti dari Pelabuhan Kalianget atau dari Terminal Arya Wiraraja.
Kemungkinan hanya ojek, baik daring maupun ojek pangkalan yang bisa mengantar dan menjemput penumpang dari dan ke bandara. Ini yang perlu dipikirkan untuk mengintegrasikan layanan transportasi. Sebab, sepengetahuan saya, rata-rata penumpang pesawat itu diantar dan dijemput dengan kendaraan pribadi, bukan kendaraan umum.
Seorang petugas meminta saya menunjukkan tiket daring dan KTP. Setelah itu, perempuan tersebut mempersilakan saya masuk menuju tempat pemeriksaan barang. Tit tit tit. Pintu itu berbunyi. Saya menoleh dan hendak mundur. Namun, petugas segera memberi petunjuk agar saya tetap maju.
Selanjutnya menuju tempat check-in dan timbang barang. Di tempat itu saya mendapat boarding pass pesawat Susi Air yang akan terbang menuju Pulau Pagerungan Besar. Setelah itu, penumpang diarahkan ke tempat pemeriksaan barang. Di sini lebih ketat. Ikat pinggang, jam tangan, dan lain-lain harus dibuka.
”Bawa korek?” tanya perempuan berseragam putih khas di depan saya.
”Ada,” jawab saya segera sambil mencari barang yang dimaksud di dalam tas untuk diserahkan kepada petugas itu. Tas masuk pemeriksaan. Saya juga segera melewati pintu khusus menuju ruang tunggu.
Pesawat berkapasitas 12 penumpang yang kami tunggu pun mendarat. Tempat duduk penumpang terbagi atas tiga bagian. Sisi kanan masing-masing dua kursi sebanyak tiga baris. Sedangkan sisi kiri satu kursi tiga baris ke belakang. Lalu, tiga penumpang lain di belakang pintu.
Sekitar pukul 09.30 kami terbang menuju Bandara Pagerungan. Sepanjang penerbangan, mata dimanjakan oleh pemandangan laut yang menyatukan pulau-pulau. Aduhai indahnya.
Penerbangan dari Bandara Trunojoyo ke Bandara Pagerungan dan sebaliknya bisa menjadi alternatif transportasi umum dari dan ke kepulauan. Terutama ketika cuaca buruk yang mengganggu transportasi laut. Penerbangan trayek ini tiga kali pulang pergi (PP) dalam sepekan. Selasa dua kali dan sekali penerbangan pada hari Rabu.
Setelah sekitar satu jam di udara, pesawat Susi Air yang kami tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara Pagerungan pukul 10.25. Bandara itu berada di wilayah PT Kangean Energy Indonesia (KEI) Ltd di ujung timur Pulau/Desa Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken. Pulau ini berada di urutan kedua daerah terluar Sumenep bagian timur setelah Pulau/Desa Sakala.
Setelah menonaktifkan mode pesawat di HP, jam berubah menjadi waktu Indonesia tengah (WITA). Selanjutnya, kami berjalan kaki ke arah barat di sekitar jalur pipa untuk menuju pintu yang dijaga oleh petugas. Selain penumpang dan tidak berkepentingan, dilarang masuk wilayah objek vital nasional tersebut.
Truk trailer Scania hitam dan biru lumut tanpa muatan masuk. Beberapa sepeda motor terparkir tak jauh dari tempat kami rehat. Saat itulah kami tahu bahwa penumpang satu pesawat tadi ada ahli kopi mangrove dan ada tamu puskesmas.
Beberapa menit kemudian datanglah Billi bersama sepeda motor dengan tambahan gerobak besi di samping kiri. Gerobak itu biasanya untuk mengangkut barang dari pelabuhan. Saya dan Ali segera naik. Kami bergerak ke arah barat. Jalan di samping pipa gas itu lumayan lebar, tapi tidak terlihat lapisan aspal.
Pohon-pohon tumbuh menghijau di kanan dan kiri. Ada pohon kelapa, pohon jati, pohon mangga, pohon pisang, dan berbagai jenis pohon lain. Kambing dan sapi juga terlihat, plus kicau burung-burung. Jumlah pohon kelapa di pulau ini sekitar dua hektare. Setelah masuk perkampungan terlihat pohon santegi yang tumbuh di pagar dan pekarangan warga. Sayang saya tidak sempat melihat aktivitas kerajinan tangan berbahan baku kayu santegi tersebut.
Thahira yang masih berseragam biru mengikuti kami dari belakang. Belakangan kami tahu bahwa ternyata kami memang menuju rumah karyawan KEI tersebut. Dan, Billi yang mengemudikan motor yang kami tumpangi itu buah hati Thahira. Dia baru menyelesaikan pendidikan tingginya di Politeknik Negeri Madura (Poltera).
Beberapa menit kemudian kami belok kiri ke Jalan 3. Di jalan beraspal ini kami mulai masuk perkampungan penduduk. Rumah panggung terbuat dari kayu dan banyak juga yang berdinding tembok. Mayoritas warga bekerja sebagai nelayan dan sekitar 165 warga bekerja di KEI.
”Pagerungan Besar banyak kemajuan,” jawab Billi ketika ditanya tentang kondisi pulau tempatnya tinggal.
Pulau Pagerungan Besar pada 2024 dihuni oleh 3.113 laki-laki dan 3.125 perempuan. Mereka masuk dalam 2.383 kepala keluarga (KK), 215 KK di antaranya dikepalai oleh perempuan. Mereka menempati 1.400 unit rumah tembok, 600 unit rumah kayu, dan 25 unit rumah bambu. Sementara itu, rumah dengan lantai keramik 1.400 unit, lantai kayu 200 unit, dan lantai tanah 43 unit. Selain itu, rumah keramik berlantai kayu terdapat 200 unit, rumah beratap ilalang 100 unit, dan 360 rumah beratap asbes.
Motor terus bergerak ke selatan hingga kami melihat SDN Pagerungan Besar 3 di timur jalan berhadapan dengan SDN Pagerungan Besar 1. SDN Pagerungan Besar 3 bersebelahan dengan SMPN 2 Sapeken yang berhadapan dengan SDN Pagerungan 2.
Lembaga pendidikan di Pagerungan Besar terdiri atas tiga SDN dan satu MI. Tingkat sekolah menengah pertama terdiri atas 1 SMP negeri, 1 MTs, dan 1 SMP swasta. Selain itu ada 1 SMA dan 1 MA.
Tingkat pendidikan warga menunjukkan bahwa 128 jiwa buta aksara, 435 warga sedang mengenyam sekolah dasar (SD), 1.300 tamat SD, dan 246 jiwa tidak tamat SD. Selain itu, 350 warga sedang mengenyam SMP, 1.161 warga tamat SMP, dan 161 jiwa tidak tamat SMP.
Selanjutnya, 300 warga sedang menempuh SMA dan 985 tamat SMA. Lalu, 3 warga sedang menempuh D-1, 9 orang lulus D-1, 3 warga sedang menempuh D-2, dan 8 warga lulus D-2. Selain itu, 23 warga sedang mengenyam D-3, 32 lulus D-3, 50 sedang kuliah S-1, dan 165 warga berhasil menyelesaikan S-1.
Dari Jalan 3 itu kami belok kanan di Jalan 2. Dari jalan paving itu kami belok kanan setelah melihat papan nama Pondok Pesantren Al-Kautsar di simpang tiga. Di jalan itulah rumah panggung Thahira berdiri diapit bangunan Industri Rumah Tangga (Makanan Kecil) Binaan SKK Migas-KEI dan bangunan layaknya kamar kos.
Di rumah panggung itu kami melepas penat dan melaksanakan salat. Sebab, matahari sudah meninggalkan bayangan ke timur. Dan, untuk kali pertama saya menikmati garang asam ikan segar di Pulau Pagerungan Besar. ”Malam terakhir kita bakar-bakar,” ajak Thahira setelah menghidangkan nasi dan garang asam ikan berukuran jumbo siang itu. (luq/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti