Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pertunjukan Aba’ Gambarkan Perjuangan Petani, Ekosistem Pangan Perlu Dikembalikan Sesuai Kultur

Hera Marylia Damayanti • Jumat, 30 Mei 2025 | 14:42 WIB
MENGGUGAT: Pemeran lakon Aba’ mengekspresikan kritiknya terhadap ketahanan pangan di halamam Universitas Wiraraja Sumenep, Rabu (28/5) malam. (MOH. LATIF/JPRM)
MENGGUGAT: Pemeran lakon Aba’ mengekspresikan kritiknya terhadap ketahanan pangan di halamam Universitas Wiraraja Sumenep, Rabu (28/5) malam. (MOH. LATIF/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Halaman Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep menjelma jadi panggung pertunjukan pada Rabu (28/5) malam. Kegiatan tersebut tidak hanya menyedot perhatian para mahasiswa, tetapi juga disaksikan para seniman.

Salah satu pertunjukan yang ditampilkan yaitu teater berjudul Aba’. Kesenian itu ditampilkan Kamateatra Art Project yang disutradarai Anwari. Kegiatan bertajuk Semarak Karya Seni dan Budaya (Sekardaya) yang digelar oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sanggar Cemara itu mampu menyedot perhatian para penonton.

Gesekan angin dan daun cemara yang memenuhi lokasi pertunjukan membuat suasana semakin hidup. Suara gilis (alat penggiling jagung tradisional) yang diputar aktor Aba’ memperkuat suasana kehidupan masyarakat tradisional.

”Ini jagung untukmu. Rebuslah, makanlah, agar kau tumbuh menjadi manusia,” teriak salah satu aktor.

Pertunjukan itu banyak menggambarkan kehidupan para petani yang berjuang demi menjaga kestabilan pangan. Mulai dari alat bajak tradisional hingga alat bajak modern.

”Isu yang ingin kami bawa dalam pertunjukan ini ialah ketahanan pangan hari ini. Ketahanan pangan harus dikembalikan pada ketahanan pangan kultur, misalnya kalau di Madura ya jagung, kalau Papua ya sagu,” ujar Anwari.

Mengembalikan masyarakat ke makanan pokok kulturnya sangat penting dilakukan. Tujuannya, agar tidak terjadi krisis pangan di masa depan. Namun, problematik yang saat ini terjadi di Madura ialah, adanya mindset bahwa jagung dikategorikan sebagai makanan orang miskin.

”Sekarang ada ketidakpercayaan diri pada masyarakat kita. Ini bermula dari revolusi hijau yang digaungkan sejak era Presiden Soeharto,” ucapnya.

Lakon Aba’ menggambarkan petani Madura yang tidak dibekali pengetahuan untuk mengelola tanahnya sendiri. Sehingga, masyarakat banyak yang memilih merantau. Sementara tanahnya dibiarkan tidak tergarap.

”Ini terjadi karena tanahnya sudah dianggap tidak menghasilkan. Semua itu karena SDM-nya tidak dibangun untuk pintar mengelola tanah, mendistribusikan hasil tanah, dan menentukan harganya,” jelasnya.

Petani bukan sekadar kaum pekerja. Mereka juga harus bisa menentukan nasibnya sendiri. Tetapi, hari ini, program ketahanan pangan yang dilakukan pemerintah minim partisipasi petani. Sebab, pemerintah lebih menggunakan peran tentara.

Lakon Aba’ juga untuk mengingatkan para petani dan pemerintah soal penggunaan pestisida. Aktivitas tersebut merusak unsur hara tanah. Sehingga, jika terus digunakan, kesuburannya akan terus berkurang.

”Kesuburan tanah menjadi berkurang, hal itu terjadi karena petani tidak diberikan seperangkat pengetahuan oleh pemangku kebijakan,” tuturnya.

Petani menjadi penyangga bagi bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, harus dijaga agar terus kokoh dan kuat. Salah satunya dengan mengembalikan ekosistem pangan ke kulturnya masing-masing.

”Kalau penyangga ini rapuh, maka negara juga akan rapuh. Kita bisa lihat hari ini, bagaimana kondisi hidup para petani, dan jumlah mereka akan terus berkurang setiap tahunnya,” tutupnya. (tif/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Unija #Sekardaya #Aba #Lakon #pertunjukan #Kamateatra Art Project #ketahanan pangan #petani Madura #Sanggar Cemara