BANGKALAN, RadarMadura.id – Cabai merah merupakan buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran, rempah, atau bumbu, bergantung pemanfaatan masing-masing.
Buah cabai yang belum matang biasa berwarna hijau muda, dan di saat matang, buah cabai berwarna merah.
Selain perawatannya mudah, tanaman ini bisa mendatangkan penghasilan. Salah satu daerah penghasil cabai merah adalah Desa Sobih, Kecamatan Burneh, Bangkalan.
Salah seorang petani yang menanam cabai itu bernama Mohammad Elli. Dia sudah lama menggeluti pertanian.
Selain tanam padi waktu musim hujan, dia juga berbudi daya cabai sejak empat tahun yang lalu.
”Saya sudah empat kali tanam cabai merah dari empat tahun yang lalu di waktu musim kemarau,” katanya Sabtu (28/9).
Elli menanam cabai merah setiap tahun hanya satu kali saat musim kemarau. Dia mendapatkan bibit dengan membeli secara daring dan mendapat bantuan dari pemerintah daerah. ”Kalau tanaman yang saat ini, kami dapat dari dinas pertanian,” jelasnya.
Waktu dari tanam sampai bisa panen membutuhkan tiga bulan. Setelah tiga bulan bisa dipanen setiap hari. ”Kami setiap hari panen sampai saat ini,” ungkap suami Robiatul Adawiyah tersebut.
Musim ini Elli menanam 3.500 pohon cabai merah. Setiap sekali panen Elli bisa mendapatkan 50–60 kilogram cabai merah. Harga cabai merah fluktuatif.
Dia pernah menjual seharga Rp 26 ribu per kilogram. Kemudian, turun menjadi Rp 16 ribu per kilogram.
Setelah panen dia biasa jual sendiri ke pasar. Suatu ketika pernah mendapatkan uang Rp 1,5 juta. Pernah juga mendapat Rp 950.000 per hari.
Pria 50 tahun itu menambahkan, perawatan tanam cabai merah cukup mudah. Dia hanya memanfaatkan pupuk kandang. Selain itu, hanya disiram air satu minngu satu kali.
”Kami biasanya kasih kotoran ayam dan kalau lama tidak hujan, setiap satu minggu sekali kami salurkan air,” tuturnya. (c5/luq)
Editor : Achmad Andrian F