BANGKALAN, RadarMadura.id – Nasib seseorang tidak bisa ditebak. Kadang di atas, kadang juga di bawah. Seperti perjalanan hidup Elmi Abbas, ketua KPU Bangkalan, yang memiliki banyak kisah menarik dan menginspirasi.
Keinginannya untuk hidup mandiri dan menyelami hiruk pikuk kehidupan yang sesungguhnya sudah dimulai sejak 2012. Tepatnya pada saat Elmi Abbas lulus dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Dia memutuskan untuk bekerja agar tidak membebani orang tuanya.
Pria berkacamata itu memutuskan untuk mencari peruntungan ke Kepanjen, Kabupaten Malang, hanya dengan bermodal nekat. Merantau ke kota orang sudah menjadi tekadnya meski kala itu dia tidak memiliki kendaraan.
”Waktu itu saya melamar di Adira Kepanjen, Malang, hanya bermodal nekat, benar-benar membabat alas saat itu,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) yang menemuinya Senin (15/7).
Pria kelahiran Pamekasan itu seperti tersesat di hutan belantara. Bekerja di kota orang tanpa mengusai bahasa setempat membuatnya sedikit kesusahan dalam bekerja.
Waktu itu dia banyak dibantu oleh pimpinannya untuk memahami bahasa Jawa. Dua bulan dia mulai menyesuaikan dengan kondisi di tempat kerjanya.
”Waktu itu gaji saya masih Rp 800 ribu, Rp 500 untuk kredit sepeda motor, Rp 200 untuk bayar kontrakan, dan Rp 100 ribu untuk makan,” tutur Elmi.
Elmi bekerja sampingan setelah pulang dari kantor untuk menyambung hidup. Tidak ada pilihan lain untuk bisa bertahan hidup di kota orang.
Dia memilih untuk bekerja memasang lampu dan pernah jualan handphone. ”Minimal, meskipun tidak dikasih duit, saya bisa makan untuk bertahan hidup,” imbuhnya.
Pada 2014, dia berkesempatan mengikuti Infomedia di Surabaya. Di tempat itu Elmi menempa diri untuk bisa memperbaiki public speaking sehingga membuat perjalanan kariernya semakin mulus.
Dia diterima di Bank Internasional Indonesia (BII) dengan posisi teller marketing, posisi yang sudah sangat bagus baginya.
Baca Juga: Empat Desa Tanpa Kades Definitif, DPMD Bangkalan Belum Bisa Lakukan Perpanjangan Jabatan
Namun, proses Elmi tidak berhenti di situ. Dia mencoba peruntungan lain dengan pendapatan yang cukup menggiurkan.
Sekitar 2015, Elmi memutuskan untuk resign dan melamar di Toyota dengan sistem kerja freelance. Dia juga melamar di Honda.
”Waktu itu pegang dua saya. Tapi, satunya hanya freelance, tidak perlu masuk kantor,” sambungnya.
Kariernya di Toyota dan Honda tidak berlangsung mulus setelah diterpa Covid-19. Dia harus banting setir dan memilih berjualan baju bekas hanya untuk menyambung hidup. Bahkan, pernah jualan gorengan demi bertahan hidup.
Mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) UTM itu mulai membangun komunikasi dengan teman-temannya pada 2022.
Dari situ, Elmi mulai mencoba untuk terjun sebagai penyelenggara Pemilu 2024, sebagai Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kamal.
”Ada dorongan dari senior-senior untuk menambah pengalaman baru di dunia politik ini,” paparnya.
Sebelum menjabat sebagai ketua KPU Bangkalan, Elmi juga pernah mendaftar sebagai komisioner Bawaslu Bangkalan.
Namun, dia kandas di 10 besar. Hal itu tidak membuatnya patah semangat untuk berjuang.
”Posisi (ketua KPU Bangkalan) ini memang tidak pernah terlintas di pikiran. Tapi, saya yakin selama saya tetap berjuang minimal mendekati meskipun tidak sempurna,” lanjutnya.
Elmi memang sempat gagal mencalonkan diri sebagai komisioner Bawaslu. Hal itu dia sadari betul bahwa kesuksesan itu harus diperjuangkan sebaik mungkin, tentu dengan adanya ikhtiar.
”Masih tidak percaya, tapi jika semua itu tidak terlepas dari peran Tuhan atau jalur langit,” tandasnya.
Jabatan sebagai ketua KPU Bangkalan akan dijaga sebaik mungkin. Dia sadar, sebagai penyelenggara pablik, ada batasan-batasan yang harus dijaga. Termasuk marwah institusi dengan memberikan contoh yang baik.
Elmi berkomitmen untuk menjalankan demokrasi di Bangkalan lebih baik dengan menaati ketentuan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU).
”Kita harus menjalankan semuanya sesuai dengan ketentuan. Intinya, harus sesuai dengan porsi masing-masing,” ucapnya menutup perbincangan. (za/luq)
Editor : Ina Herdiyana