Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Dukungan dan Doa Keluarga Jadi Motivasi

Ina Herdiyana • Sabtu, 4 Mei 2024 | 13:30 WIB
PANTAU LANGSUNG: Kolonel (S) Winarko Sihwidodo saat menemani Laksamana Luda Joko Erwan saat visitasi ke Lantamal 2 Padang.
PANTAU LANGSUNG: Kolonel (S) Winarko Sihwidodo saat menemani Laksamana Luda Joko Erwan saat visitasi ke Lantamal 2 Padang.

SAMPANG, RadarMadura.id – Sebagai prajurit TNI, ketangguhan mental dan fisik Winarko tidak diragukan. Sebab, semakin meningkat setelah menjalani pendidikan di AAL.

Performa Winarko yang kala itu menjadi perwira remaja kian teruji dan terbukti setelah menjalani sederet penugasan di daerah konflik.

Sebut saja perselisihan di Aceh pada 1996 hingga konflik horizontal di Ambon yang berlangsung sekitar 1997–1999.

”Selain berkat Sang Pencipta, saya tidak bisa mengesampingkan peran, dukungan, doa orang tua, serta istri,” katanya.

Menurut Winarko, dukungan dan doa keluarga menjadi salah satu penyemangat dalam menunaikan tugas negara.

Karena itu, dia mengucapkan syukur serta berterima kasih atas dukungan keluarga besarnya selama ini.

”Bagi saya, doa beliau (kedua orang tua) dan istri itu luar biasa. Merekalah yang mengantarkan saya hingga sejauh ini,” ucapnya.

Winarko menyatakan, kedua orang tuanya senantiasa mendoakan dirinya berangkat dan kembali menyelesaikan tugas dalam keadaan selamat.

”Setelah menikahi Eva Indriyani, kekuatan saya otomatis kian bertambah,” tuturnya.

Winarko mengungkapkan, dirinya mengenal Eva Indriyani jauh sebelum menjadi serdadu. ”Setelah menjadi prajurit, lalu saya lamar dan menikahinya,” ucapnya.

Eva Indriyani yang resmi menyandang status sebagai anggota Jalasenastri sangat memahami tugas dan tanggung jawab sang suami. Apalagi, ayahanda Eva Indriyani merupakan anggota Polri.

Baca Juga: Token Listrik Pasar Srimangunan Sampang Telan Anggaran Ratusan Juta

”Salah satu konsekuensi menjadi istri prajurit adalah harus rela menjalani hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR),” terangnya.

”Sebab, saya adalah prajurit dan harus siap menunaikan tugas ketika negara memanggil,” tambahnya.

Winarko menceritakan, setelah 10 hari menikah, dia harus LDR dengan sang istri karena harus melakukan sebuah misi di Aceh.

Durasi penugasan ke daerah konflik tersebut sekitar empat bulan. ”Saya juga pernah LDR saat melakukan tugas pengamanan di Ambon,” jelasnya.

Untuk mengobati rasa rindu, Winarko kala itu memilih berinteraksi dengan sang istri melalui sambungan telepon.

”Maklum, saat itu baru ada warung telepon (wartel), belum ada video call seperti sekarang,” ujarnya seraya tersenyum.

Namun, Winarko tetap bersyukur. Sebab, selama 29 tahun berdinas sebagai anggota TNI AL, hanya satu kali tidak merayakan Lebaran dengan keluarga.

”Sebab, saat itu sedang berada di tengah laut. Menjalankan tugas patroli,” ceritanya.

Beberapa tugas yang diberikan pimpinan tentunya ada yang menyisakan kesan mendalam. Salah satunya, saat menyuplai logistik di daerah konflik.

”Sebab, agar bisa sampai ke pasar dan melakukan transaksi, saya dan anggota harus berjalan sejauh 15 kilometer melewati zona konflik. Alhamdulillah, misi sukses,” ucapnya.

Winarko menambahkan, suatu ketika dirinya juga pernah memimpin sebuah operasi untuk mencari anggotanya yang terpisah dari tim patroli.

”Tiga hari saya melakukan pencarian. Alhamdulillah, ditemukan dalam kondisi selamat. Saya masih ingat, namanya Faisol," paparnya.

Baca Juga: Kacabdin Sampang Cup 2024 Jadi Ajang Asah Kemampuan Siswa di Bidang Olahraga

Saat melakukan operasi pengamanan di perairan, Winarko dan anak buahnya juga tidak jarang bertaruh nyawa. Keselamatan jiwanya dan anak buah terancam saat cuaca ekstrem.

”Kalau ombak setinggi dua meter bagi pelaut dianggap hal biasa. Kapal perang kami yang mengarungi Laut Cina Selatan pernah disapu ombak setinggi enam meter. Dua hari tidur pakai pelampung,” tuturnya.

Winarko mengungkapkan, jenis dan kapasitas kapal yang pernah digunakan untuk operasi bervariasi. ”Misalnya, kapal dengan kapasitas kru 98–490 orang,” paparnya.

Meski sedang berada di tengah laut, Winarko menegaskan tetap rutin beribadah. ”Yang penting, saya niat salat dan menghadap kiblat. Semisal saat salat ternyata kapal belok, itu urusan haluan. Namanya di tengah laut,” paparnya. (yan)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Ina Herdiyana
#aal #tni #Perwira #prajurit #Abdi Negara