Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Berawal dari Kebiasaan Mengejar Layangan, Dakwatul Anisah Jadi Atlet Lari Membanggakan

Hera Marylia Damayanti • Jumat, 19 April 2024 | 01:33 WIB
GIAT: Dakwatul Anisah saat mengikuti latihan di lapangan KONI Jatim. (DAKWATUL ANISAH UNTUK JPRM)
GIAT: Dakwatul Anisah saat mengikuti latihan di lapangan KONI Jatim. (DAKWATUL ANISAH UNTUK JPRM)

SAMPANG, RadarMadura.id – Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalimat itu cocok untuk menggambarkan Dakwatul Anisah. Perempuan berusia 32 tahun tersebut berstatus sebagai atlet lari dengan segudang prestasi. 

Anisah mengaku tertarik terhadap dunia atletik sejak kecil. Sebab, sejak kecil terbiasa mengejar layangan putus di belakang rumahnya. Maka, secara tidak langsung dia terbiasa berlari. 

Ketika lari menjadi olahraga yang disukai, almarhum ayahandanya, Abdus Salim, yang merupakan mantan alet atletik mendukungnya.

Dengan begitu, alumnus SMPN 1 Sampang tersebut diikutsertakan dalam beberapa kejuaraan. Salah satunya, seleksi kejuaraan daerah (kejurda).

Saat di bangku kelas VII SMP, kemampuan Anisah terus diasah dengan baik. Salah satunya tampil dalam beberapa kejuaraan tingkat provinsi.

Yakni, kejuaraan pekan olahraga pelajar daerah (popda) dan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur (Jatim). ”Tapi, saat itu saya belum bisa meraih medali,” ujarnya.

Kegagalannya meraih prestasi di popda dan porprov tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menjadi yang terbaik. Prestasi tingkat regional mulai dia dapatkan saat duduk di bangku SMA.

”Saat popda sukses membawa pulang medali perunggu, dan di porprov berhasil meraih medali perak,” ujarnya.

BERPRESTASI: Dakwatul Anisah memperlihatkan koleksi medali di kediamannya di Jalan Rajawali, Kelurahan Karangdalem, Kecamatan Kota Sampang. (UBAIDILLAHIR RAIE/JPRM)
BERPRESTASI: Dakwatul Anisah memperlihatkan koleksi medali di kediamannya di Jalan Rajawali, Kelurahan Karangdalem, Kecamatan Kota Sampang. (UBAIDILLAHIR RAIE/JPRM)

Sederet prestasi yang diraih membuat alumnus Universitas Negeri Surabaya tersebut dilirik pengurus Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Jatim.

Pada 2016, Anisah kali pertama menjadi skuad PASI Jatim yang bertanding dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat (Jabar).

Meski kali pertama mengikuti PON, Anisah berhasil membawa dua medali. Yakni, medali emas dan perunggu.

Anisah sempat dipandang sebelah mata saat memperkuat PASI Jatim di PON XIX Jabar. Sebab, dia mendapatkan tiket tampil dalam kejuaraan bergengsi tersebut lantaran lolos seleksi limit waktu PON.

”Tapi, itu jadi motivasi bagi saya untuk menunjukkan bahwa saya juga bisa menorehkan prestasi terbaik untuk mengharumkan nama Jatim di PON, khususnya kota kelahiran saya, Sampang,” paparnya. 

Anisah juga menjadi salah satu atlet Jatim dalam perhelatan PON XX Papua 2021. Saat itu nasibnya kurang baik karena mengalami cedera, dia tampil tidak dalam performa terbaiknya.

Namun, dia bersyukur masih menyabet medali perunggu dalam kejuaraan empat tahunan tersebut. 

Anisah akan kembali tampil di PON XXI yang akan dilaksanakan tahun ini. Dia berharap bisa tampil maksimal di kesempatan terakhirnya bertanding dalam ajang mulitievent tersebut  

”Pada PON terakhir yang merupakan puncak karier saya nanti, saya ingin mengakhiri dengan prestasi terbaik dan meraih medali emas. Itu akan saya persembahkan untuk almarhum ayah saya,” terangnya.

Photo
Photo

Dia juga berharap ke depan olahraga di Kota Sampang lebih diperhatikan lagi oleh pemerintah. Dan, tidak menganakemaskan cabor tertentu. ”Juga diperhatikan atletnya, maupun perlengkapan sarana dan prasarana olahraganya,” harapnya.

Implementasikan Ilmu dan Pengalaman

Dakwatul Anisah tidak hanya menjadi atlet lari dengan segudang prestasi. Dia memiliki profesi mulia dalam aktivitas kesehariannya. Yakni, menjadi seorang tenaga pendidik di Kota Malang.

Dakwatul Anisah mengaku tidak memiliki aktivitas rutin pasca tampil di PON XX 2021. Sehingga, dia memutuskan untuk mencari pekerjaan yang dapat menghasilkan rupiah.

”Alhamdulillah, saat saya melamar di SMPN 1 Lawang, Malang, sebagai guru honorer. Saya diterima di sana dan masih berlanjut sampai sekarang,” ujarnya.

Pilihan menjadi guru tidak hanya persoalan untuk memenuhi kebutuhan finansial. Namun, juga ingin mengimplementasikan ilmu dan pengalaman yang dimiliki.

”Sehingga, bisa bermanfaat untuk generasi penerus. Dengan mengajar nanti saya bisa menciptakan atlet seperti saya,” terangnya.

EUFORIA: Dakwatul Anisah merayakan kemenangan setelah sampai di garis finis dalam Kejurnas Senior di Semarang. (DAKWATUL ANISAH UNTUK JPRM)
EUFORIA: Dakwatul Anisah merayakan kemenangan setelah sampai di garis finis dalam Kejurnas Senior di Semarang. (DAKWATUL ANISAH UNTUK JPRM)

Anisah sengaja memilih mengajar di luar daerah meski sebagai tenaga pendidik honorer. Sebab, dirinya pesimistis, segudang prestasi yang diraih akan mengantarkannya ke masa depan yang lebih terjamin. Yakni, dengan diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN). 

”Sudah banyak tenaga dan waktu yang saya habiskan untuk olahraga agar bisa berprestasi mengharumkan nama Sampang. Tapi jika tidak ada penghargaan, minimal diangkat menjadi guru honorer, kan percuma menunggu yang tidak pasti,” paparnya. 

Anisah menambahkan, tampil di PON XXI dengan status pengajar menjadi bagian dari upayanya untuk memotivasi orang lain.

Khususnya para peserta didiknya. Karena baginya, guru tidak hanya bertugas mengajar, tapi juga harus menjadi teladan.

”Dengan begitu, nanti akan mudah untuk memotivasi semangat belajar untuk meraih prestasi sesuai dengan yang diinginkan,” pungkasnya. (bai/jup)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Dakwatul Anisah #atlet lari #Popda #dunia atletik #porprov #pon xx #Anisah #tenaga pendidik #prestasi