Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Warga Pasean, Pamekasan, Gantung Janur Kuning di Depan Rumah, Dipercaya Tolak Sial bagi Bayi yang Baru Lahir

Berta SL Danafia • Sabtu, 7 Oktober 2023 | 15:22 WIB
TURUN-TEMURUN: Sahrandi menggantung janur kuning di depan rumahnya, Minggu (24/9). (AYU LATIFAH/JPRM)
TURUN-TEMURUN: Sahrandi menggantung janur kuning di depan rumahnya, Minggu (24/9). (AYU LATIFAH/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.idTidak sulit bagi warga Desa Tlontoraja, Kecamatan Pasean, Pamekasan, untuk menemukan warga yang bahagia. Misalnya, dengan kehadiran anggota keluarga baru. Itu bisa diketahui dengan mencari rumah yang di depannya terdapat gantungan janur kuning.

Salah satunya seperti yang terlihat di rumah Sahrandi, warga Desa Tlontoraja, Kecamatan Pasean, Minggu (24/9). Selain terlihat janur kuning digantung, di rumah tersebut tergantung jemuran bayi.

Sahrandi terlihat sangat bahagia menggendong cucu pertamanya saat menemui Jawa Pos Radara Madura (JPRM). Cucunya lahir dengan selamat di bidan desa, Rabu (20/9). ”Alhamdulillah lahir bayi laki-laki,” ucapnya.

Pria berusia 40 itu mengaku memang mempersiapkan janur kuning untuk digantung sebelum anaknya, Wasila, melahirkan. Janur kuning itu menjadi tanda bahwa dirinya bersedia menerima tamu yang berkunjung untuk mengetahui kondisi cucunya.

”Setelah cucu saya lahir, saya pasang janur kuning ini di jalan depan rumah supaya orang tahu bahwa ada yang lahiran,” tambahnya.

Janur kuning yang digantung dililiti daun atang-atang. Selain itu, ditambah rumput lari-lari yang tumbuh di pinggir pantai. ”Kalau lengkap memang menggunakan tiga item tadi, cuma sebagian masyarakat menggunakan janur kuning dan satu di antara dua daun dan rumput itu,” terangnya.

Pemasangan janur kuning yang digantung tidak hanya untuk menandakan adanya anggota keluarga yang melahirkan. Namun, juga dipercaya menjadi penolak sial yang dibawa oleh pengunjung.

”Jadi, pengunjung biasanya dari luar juga membawa pengaruh buruk atau diikuti oleh makhluk halus. Makanya, seperti daun atang-atang ini digantung di pintu supaya bayi tidak saban atau anjek (bahasa Madura),” ungkapnya.

Sementara janur kuning memiliki arti seseorang siap menerima tamu. Khususnya, anggota keluarga yang melahirkan anak pertama. ”Tradisi ini sudah ada sejak dulu dan turun-temurun. Meskipun masyarakat menggunakan sebagai penanda kelahiran saja,” sambungnya.

Mar Bati, tokoh tradisi di Desa Tlontoraja, mengatakan, pemasangan janur kuning bagi anggota keluarga yang melahirkan sudah ada sejak zaman dulu. Bahkan, sejak penyebaran agama Hindu dan Budha di daerahnya.

Janur kuning dari dulu dianggap sarat makna dalam kehidupan manusia. ”Sudah ada sejak saya kecil, masih zamannya Buddha (Budha) di Madura. Sebab, dulu aura mistis itu sangat kental,” ucap perempuan yang biasa dipanggil Nyai Atnan tersebut.

Pelestarian tradisi pemasangan janur kuning bagi keluarga yang baru melahirkan semakin terkikis. Padahal, unsur melindungi bayi yang baru lahir pada zaman tersebut sangat kompleks. Misalnya, menggunakan batang pohon pisang di pintu masuk, daun atang-atang, dan sebagainya.

Meski tampak sederhana, pemasangan janur kuning tidak boleh sembarangan. Harus membaca basmalah dan salawat tiga kali. Pembacaannya diiringi niat untuk doa melindungi bayi. ”Tapi, sekarang kebiasaan itu sudah berubah seiring perkembangan zaman. Sudah mulai tidak ada hal yang demikian. Hanya mengikuti tradisi,” ujarnya. (ay/jup)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Berta SL Danafia
#lahir #pamekasan #pasean #Janur Kuning #daun #bayi #radar madura #tradisi