SAMPANG, RadarMadura.id – Menjadi pengusaha tidak menjamin hanya bakal mendapatkan keuntungan. Butuh perjuangan, keuletan, dan kesabaran. Juga, tidak putus asa saat menanggung kerugian. Sekering dan seasin apa pun usaha yang dijalani, pasti akan terasa manis.
Aroma pantai berembus ke dalam hidung saat memasuki kawasan Dusun Juklanteng, Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Kota Sampang. Lebih-lebih aroma ikan yang menusuk-nusuk indra penciuman.
Bau khas itu semakin tajam ketika kaki kian dekat tempat penjemuran ikan. Di atas jaring penjemur yang dibingkai belahan bambu itu, ikan-ikan dikeringkan di bawah terik matahari.
Bagi sebagian orang, kemarau panjang jadi masalah karena berdampak pada krisis air bersih. Namun, bagian sebagian yang lain justru menjadi berkah. Terutama kepada mereka yang menggantungkan usaha pada sinar matahari. Seperti petani tembakau dan garam serta pengusaha ikan asin.
Senin (4/9) pagi sekitar pukul 09.15, ribuan ikan itu sudah terhidang di bawah terik matahari. Siti Hotimah sudah meninggalkan lokasi. Dia melanjutkan pekerjaan lain di rumah. Sementara di gudang tempat penyimpanan ikan, tampak empat orang sedang bersantai. Dua di antara mereka adalah Makmun dan ayahnya, Mattisar.
Setelah tahu maksud dan tujuan dari Jawa Pos Radar Madura ini, Makmun bergegas untuk memanggil sang ibu yang kebetulan sedang di rumah. Sebab, dirinya tidak banyak tahu tentang kegiatan bisnis keluarganya itu.
Sementara Mattisar sedang kurang sehat. Saat ini dalam masa pemulihan. Karena itu, Makmun menyarankan bertemu ibunda. Tidak lama kemudian Siti datang dengan kerudung dan baju serbahitam.
”Ca’epon kaula sampeyan me’ dhari dinas perikanan (saya kira Anda petugas dari dinas perikanan),” kata Siti setelah koran ini memperkenalkan diri.
Dia mengira seperti itu karena dulu pernah didatangi petugas untuk melakukan pendataan. Pendataan itu untuk keperluan proses pemberian bantuan boks ikan. Namun, hingga saat ini tidak ada tindak lanjut.
Matahari makin meninggi ketika Siti bercerita perjuangannya menggeluti usaha ikan asin ini. Kondisi cuaca cukup cerah dan bagus. Ribuan ikan yang dijemur semakin kering. Seorang anak kecil di gudang tak jauh dari tempat kami ngobrol bermain dengan gembira.
Bisnis ikan asin sudah menjadi satu-satunya usaha yang menghidupi keluarga perempuan yang diperkirakan berusia 50 tahun itu. Usaha ini ini dirintis dari nol bersama sang suami, Mattisar, sejak puluhan tahun lalu. Setelah memiliki pengalaman dari bekerja sebagai kuli ikan asin.
Perempuan berhijab itu tidak mengingat pasti tahun berapa dia memulai bisnis ikan asin. Namun, kegiatan ini menjadi satu-satunya sumber penghasilan. Bahkan, sudah lebih dari 20 tahun. Dari menjual ikan yang tidak seberapa sebelum seperti sekarang yang sudah berton-ton ikan layang kering.
Dulu, kata Siti, dirinya hanya bekerja menjual ikan di pasar. Sementara sang suami bekerja sebagai nelayan. Kemudian, berkesempatan untuk bekerja menjadi kuli pengusaha ikan asin. Dari pengalaman itulah, Siti mulai memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri.
Saat itu, ikan yang dijemur sangat sedikit. Sebab, modal yang diputar juga tidak banyak. Seiring berjalannya waktu, usaha itu terus berkembang. Pelanggan yang siap membeli ikan asin kian bertambah. Ikan-ikan itu biasanya dijual di wilayah Kabupaten Sampang. Sebagian juga dipasok ke pelanggan di Kabupaten Bangkalan.
Produksi ikan asin saat ini sudah cukup besar. Dalam sepekan bisa memproduksi hingga 1,5 ton ikan. Selama cuaca bagus seperti musim kemarau saat ini, proses produksi hanya membutuhkan dua hari untuk bisa kering sempurna. Berbeda ketika musim hujan. Proses pengeringan membutuhkan waktu lima hari atau lebih.
Sementara harga penjualan di pasar juga berubah-ubah. Mulai dari Rp 20 ribu, Rp 28 ribu, hingga Rp 30 ribu per kilogram. Perempuan dua buah hati itu tidak hanya menyerap ikan dari wilayah Kabupaten Sampang. Terutama saat musim kemarau seperti sekarang. Nelayan di wilayahnya banyak yang tidak bekerja karena ikan dirasa sulit didapati.
Sehingga, tidak jarang harus membeli ikan dari Kabupaten Sumenep. Terutama dari Kecamatan Pasongsongan. Meski demikian, Siti tidak bisa menyebut detail penghasilan yang didapatkan setiap bulan. Yang penting, penghasilan itu bisa memenuhi kebutuhan bulanan keluarga.
Istri Mattisar itu sangat bersyukur masih bisa mengembangkan usaha sampai sekarang. Berkat usaha ini, beberapa aset juga berhasil dibeli. Termasuk, lahan yang ditempati sekarang untuk area menjemur dan gudang ikan. Siti sudah melaksanakan ibadah umrah bersama suami. Semua itu buah manis dari usaha ikan asin.
Namun, semua itu tidak diperoleh tanpa perjuangan. Jatuh bangun dalam dunia usaha sudah menjadi hal biasa. Semua itu dilakukan demi menyambung kebutuhan hidup bersama keluarga.
Menurut dia, menjadi pengusaha tidak selamanya pasti mendapat untung. Tetapi, harus siap dengan risiko rugi karena harga di pasaran berubah-ubah. Pengalaman pahit yang paling diingat pernah rugi hingga Rp 25 juta. Kala itu, karena kondisi pasar yang tidak bersahabat mengakibatkan ikan tidak laku.
Situasi bisnis yang sedang buruk tidak membuat Siti terpuruk. Tidak putus asa untuk terus melanjutkan usaha sekalipun harus meminjam uang. Bermodal tekad dan semangat itulah, dia bangkit dan usahanya berhasil melejit.
”Menjadi pengusaha itu tidak pasti untung terus, pasti juga pernah merasakan rugi,” tuturnya. ”Paling penting itu diberikan kesehatan dalam hidup agar kita bisa berusaha,” pesan ibunda Makmun dan Rohman itu. (jun/luq)
Editor : Berta SL Danafia