Usaha mengusulkan Pengeran Trunojoyo sebagai pahlawan nasional tak pernah padam. Generasi muda juga ambil bagian untuk mempelajari sejarah.
HELMI YAHYA, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura
PERJUANGAN menjadikan Pangeran Trunojoyo sebagai pahlawan nasional terus berlangsung. Diskusi tentang nilai moral dan keteladanan sosok putra Madura itu kian luas dalam perhelatan hangat dan perbincangan di Kopi Kelud, Jumat (23/10).
Gagasan yang menginginkan Pangeran Trunojoyo menjadi pahlawan nasional dimulai dari Sampang. Kemudian, juga menyulut semangat dukungan penggiat budaya dan pemerhati sejarah di Bangkalan. Diskusi kali ini dihadiri generasi milenial.
Mendekati pukul 20.00, Miftahul Achyar membuka forum santai, tapi serius. Kemudian dilajutkan dengan pemaparan budayawan dan sejarawan Bangkalan Muhammad bin Rahmad dan akademisi Romli sebagai pemantik.
”Diskusi ini kita bangun untuk mengukur sejauh mana representasi nilai teladan dan moral Pangeran Trunojoyo di era milenial ini,” ucap Miftah.
Dia menambahkan, upaya yang dilakukan pemerhati sejarah yakni mulai mengajukan perbincangan dan kajian penetapan Pangeran Trunojoyo sebagai pahlawan nasional. Namun, itu harus dibekali dengan pengetahuan masyarakat pada sejarah perjuangan Trunojoyo. ”Kalau nanti benar-benar menjadi pahlawan nasional, tetapi masyarakat belum tahu, kan lucu,” terangnya.
Perjuangan dan pergerakan tokoh pangeran itu memiliki banyak teladan sebagai pejuang. Juga nilai moral dan karakteristik masyarakat Madura. Meliputi sopan santun, adat istiadat, kepercayaan, politik, dan kekuasaan. ”Saya yakin banyak kejadian yang sebenarnya sama dan seolah terulang dengan kejadian di beberapa orde pemerintah berikutnya,” ulasnya.
Salah satu yang bisa diingat adalah pada saat Pangeran Trunojoyo bermaksud memerangi Kerajaan Mataram. Kemudian mendapat bantuan dari tokoh pahlawan dari Makassar, Karaeng Galesong. ”Pangeran Trunojoyo yang tujuannya adalah memberantas VOC dan menumbangkan Kerajaan Mataram dibantu oleh mereka juga,” ulasnya.
Dalam sejumlah buku disebutkan bahwa Pangeran Tronojoyo merupakan pemberontak. Dia kurang sependapat dengan diksi itu. Menurut dia, lebih elok menggunakan diksi perjuangan.
Muhammad bin Rahmad menambahkan, Trunojoyo masih berasal dari keluarga trah Cakraningrat. Karena itu, Raja Undaan Cakraningrat 2 dilema. Sebab, satu sisi Cakraningrat 2 ini bawahan raja karena Cakraningrat adalah bagian dari Kerajaan Mataram, yakni Amangkurat 1. Namun, di sisi lain keberadaan Amangkurat 1 diancam oleh perjuangan keponakan Cakraningrat 2, yakni Trunojoyo.
”Kedilemaan itu muncul karena Trunojoyo sendiri tetap mengonfirmasi perjuangannya (sowan) kepada Cakraningrat 2,” paparnya.
Salah satu teladan itu juga ada pada sisi ketawaduan Trunojoyo. Secara massa, Cakraningrat 2 memang tidak mendukung keponakannya. Namun secara moral, Cakraningrat 2 meminjamkan Se Nanggala sebagai pusaka perjuangan Trunojoyo. ”Tahu lah ya betapa pentingnya pusaka itu bagi keraton di Madura Barat,” tambah Rahmad.
Proses ajakan massa tentu tidak dilakukan dengan cara money politics, tetapi menggunakan diplomasi kepentingan bersama. Bahwa memerangi kezaliman adalah keharusan.
Menurut Romli, upaya perbincangan sejarah terus menjadi sesuatu yang membuatnya ketagihan. Referensi yang diterima membuatnya semakin penasaran dan terus berkeinginan kuat untuk mendalami. ”Meskipun ada berbagai referensi literasi yang berbeda, pada perbincangannya semua sama,” tuturnya.
Upaya dukungan untuk mengenalkan Pangeran Trunojoyo dan menjadikannya sebagai pahlawan nasional harus tetap didukung. Kegiatan diskusi dan kajian harus didukung. ”Saya yakin upaya ini akan berhasil melalui tekad kuat pemuda milenial seperti kita yang mewarisi semangat dan kegigihan Trunojoyo,” pungkasnya.
Editor : Abdul Basri