Keberadaan Pondok Pesantren Al-Mubarok Lanbulan telah memberikan kontribusi nyata terhadap negeri ini. Alumni pesantren ini telah mengisi berbagai sektor kehidupan. Baik bidang keagamaan, pendidikan, politik, ekonomi, dan sebagainya.
IMAM S. ARIZAL, Sampang
PONDOK Pesantren Al-Mubarok Lanbulan berdiri pada 1952. Pesantren ini didirikan oleh KH Muhammad Fathullah. Lokasinya terletak di Desa Batorasang, Kecamatan Tambelangan, Sampang.
Seperti pesantren-pesantren salaf lain, saat awal berdiri, tidak banyak santri yang bermukim. Bahkan, tahun pertama hanya segelintir orang yang menjadi santri. Sebagian besar santri berasal dari warga sekitar yang mengaji Alquran kepada Kiai Muhammad.
Tapi lambat laun, jumlah santri terus bertambah. Saat ini santri yang bermukim sudah mencapai 2.500 orang. Ada yang menyebut, Pondok Pesantren Al-Mubarok Lanbulan ini merupakan salah satu pesantren terbesar di Sampang.
Saat ini pesantren ini diasuh KH Ahmad Barizi, putra KH Muhammad Fathullah. Penulisan namanya sering ditulis ”KH Ahmad Barizi MF” sebagai singkatan dari Muhammad Fathullah. Dalam mengasuh pesantren, dia dibantu oleh saudara-saudaranya.
Para alumni pesantren ini sudah menyebar di berbagai pelosok tanah air. Bahkan, ada pula alumni yang bermukim di Makkah. Meski sudah tidak berada di pesantren, tetapi mereka tetap peduli terhadap almamater.
Kepedulian itu tak lepas dari peran organisasi alumni. Organisasi alumni ini dipimpin KH Ahmad Ghazali MF, saudara kandung KH Ahmad Barizi MF. Organisasi ini didirikan KH Muhammad Fathullah sekitar 1998.
Bentuk organisasi alumni Pondok Pesantren Al-Mubarok Lanbulan disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Di tiap daerah atau kecamatan terdapat organisasi alumni dengan struktur lengkap. Seperti di Kecamatan Tambelangan yang dinakhodai KH Ahmad Fauzi.
Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mendatangi kediaman KH Ahmad Fauzi di Desa Karang Anyar, Kecamatan Tambelangan, Sabtu (1/6). Dia bercerita banyak hal tentang awal mula berdirinya ikatan alumni. Termasuk kegiatan-kegiatannya hingga saat ini.
”Organisasi ini didirikan oleh pengasuh pertama, KH Muhammad Fathullah. Saat itu beliau ingin menyatukan para alumni yang sudah tersebar di berbagai daerah,” kata Fauzi.
Kegiatan yang digelar hampir sama dengan organisasi alumni pesantren pada umumnya. Ada pertemuan rutin yang diisi dengan doa bersama, baca surah Yasin, tahlil, hingga kajian kitab kuning. Ada pula bahtsul masail yang khusus membahas permasalahan fiqh atau masalah keislaman secara umum.
Enam bulan sekali mereka mengadakan acara di tingkat kecamatan yang dihadiri langsung pengasuh. Acaranya diisi dengan pengajian dan haul masyayikh Pondok Pesantren Al-Mubarok Lanbulan. ”Setiap tiga tahun sekali kami menggelar temu alumni akbar di pesantren. Isinya juga sama, yakni haul masyayikh dan pengajian,” tegasnya.
Keberadaan alumni ini dirasakan masyarakat secara umum maupun pesantren. Bagi masyarakat, mereka bisa belajar tentang ilmu-ilmu keislaman. Yakni melalui kegiatan bahtsul masail yang digelar secara berkala.
Dari sisi pengembangan pesantren juga jelas kontribusinya. Para putra-putri alumni rata-rata disekolahkan di almamaternya. Dengan demikian, jumlah santri setiap tahunnya terus bertambah.
”Alumni juga bahu-membahu dalam pembangunan pesantren. Ketika pesantren butuh, para alumni sigap membantu, baik materi maupun nonmateri,” imbuhnya.
Alumni pesantren ini menyebar di segala lini kehidupan. Ada yang mendirikan pesantren. Seperti KH Ahmad Fauzi yang mendirikan Pondok Pesantren An-Nur. Ada pula yang menjadi pengusaha, pendidik, birokrat, petani, dan semacamnya.
”Termasuk Ketua DPRD Sampang Juhari merupakan alumnus Pondok Pesantren Al-Mubarok Lanbulan,” tukasnya.
Editor : Abdul Basri