Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mobil Kayu Jati Milik Pengusaha Ban Ini Ditawar Rp 600 Juta

Abdul Basri • Kamis, 25 Oktober 2018 | 17:15 WIB
Mobil Kayu Jati Milik Pengusaha Ban Ini Ditawa Rp 600 Juta
Mobil Kayu Jati Milik Pengusaha Ban Ini Ditawa Rp 600 Juta


MOBIL kayu berbahan jati tua sekaligus kuno itu kini ramai dibicarakan di Sumenep. Terlebih saat mobil tersebut ikut meramaikan acara Jatim Specta Night Carnival, Sabtu malam (20/10). Banyak warga yang berebut untuk berfoto dengan mobil dengan bodi Ford Roadster 1939 itu.


Rupanya, mobil tersebut milik Eddy, salah satu pengusaha ban di Sumenep. Radarmadura.id mencoba mengonfirmasi terhadap pemilik Eddy Ban di Jalan KH Sajjad, Kelurahan Bangselok, Kota Sumenep, itu Senin (22/10).


Tapi rupanya, mobil unik berbahan kayu yang baru satu-satunya ada di Madura itu tidak sedang di rumah pemiliknya. ”Mobilnya sekarang masih di Kalianget,” kata Eddy kepada Radarmadura.id.


Rupanya mobil berwarna cokelat itu masih belum tuntas. Saat ini mobil bermesin holden special 3000 cc 1964 masih proses penyelesaian akhir. Pengusaha mebel asal Dusun Loji Kantang, Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget, Iskandar yang menggarap pembuatan mobil tersebut.


Sekitar pukul 11.45, JPRM tiba di rumah Iskandar. Benar, mobil tersebut sedang dipajang di sisi barat beranda rumah. Dilihat dari jauh, mobil tersebut tak ubahnya seperti benda replika yang lebih layak diletakkan di museum.


Bodi mobil memang hampir persis dengan Ford Roadster 1939. Tapi, ada beberapa desain yang diubah. Seperti lampu depan yang didesain mirip terompet besar. Kaca spion kanan dan kiri juga dibentuk seperti tangan sedang berdoa.


Sebagai bentuk ciri khas, ada dua logo yang diukirkan di bodi mobil. Yakni, lambang keraton Sumenep yang diukirkan di pintu kanan dan kiri. Kedua, logo holden depan dan belakang mobil.


Tak mudah bagi Iskandar untuk membuat bodi mobil keluaran klasik tersebut. Apalagi, ada lekukan-lekukan halus yang harus didesain semirip mungkin. Butuh waktu hingga dua tahun lebih untuk menyelesaikan pembuatannya.


”Ini digarap sejak pertengahan 2016,” terangnya. ”Pada Hari Jadi Sumenep 2017 lalu, mobil ini sempat dikeluarkan dan dipajang di Labang Mesem,” sambungnya.


Namun, saat itu belum sempurna. Masih ada beberapa interior yang tidak terselesaikan. Akhirnya Iskandar kembali melanjutkan pekerjaannya. Hingga sekarang proses penyelesaian sudah memasuki tahap akhir. ”Ini tinggal finishing saja. Kami bekerjanya lembur terus,” tambahnya.


Dalam mengerjakan mobil itu, Iskandar dibantu oleh beberapa pekerjanya. Di antaranya, Masnin (ahli ukir); Rajab (tukang las); Rudi (perangkai); Zaini (tukang pelitur); Misriyanto dan Arik (finishing). Mereka biasanya menggarap pembuatan mobil tersebut di malam hari.


”Sebab kalau siang kan mengerjakan yang lain. Makanya, kami garapnya di malam hari. Kadang juga ditemani oleh Boss Edy Ban,” kata Iskandar.


Pembuatan mobil kayu itu merupakan yang pertama dikerjakan oleh Iskandar. Tetapi dalam usaha mebel, dia sudah puluhan tahun menekuni. Bahkan, sejak remaja dia sudah keliling dari satu daerah ke daerah lain sebagai kuli bangunan. ”Biaya pembuatan dan pemasangan kayu hingga selesai Rp 150 juta,” ungkap dia.


Sementara itu, bagi Eddy, harga Rp 150 juta tidaklah terlalu besar. Selain tajir, dia memang hobi mengoleksi barang-barang yang belum dimiliki orang lain. Kecintaan terhadap barang-barang unik itu membuatnya tidak memedulikan berapa besar uang yang harus dikeluarkan.


”Kalau sudah senang, sudah cinta, saya kira uang menjadi tidak terlalu penting dibicarakan,” ujarnya.


Mobil berbahan kayu itu bisa saja satu-satunya di Jawa Timur. Sebab saat acara Jatim Specta Night Carnival 2018, hanya Sumenep yang memilikinya. Bahkan menurut dia, berdasarkan informasi yang diterima, itu merupakan satu-satunya mobil kayu di Indonesia.


Total keseluruhan biaya pembuatan mobil lengkap dengan mesin dan lainnya berkisar Rp 350 juta. Mobil itu sudah ditawar Rp 600 juta. Namun tawaran tersebut langsung ditolak oleh Eddy.


”Kalau hitung-hitungan bisnis sudah pasti saya jual. Tapi saya kan bikinnya berdasarkan kesenangan, bukan karena bisnis,” jelasnya. ”Saya masih senang memilikinya, makanya tidak mau saya jual,” tukasnya.


 



 

Editor : Abdul Basri