Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

UMKM Binaan BRI Kembangkan Pekatan Batik, Batik Tulis dan Tenun Badui Tembus Pasar Internasional

Hendriyanto • 2026-03-15 13:58:29
BERNILAI TINGGI: Batik hasil binaan BRI sudah tembus pasar internasional.
BERNILAI TINGGI: Batik hasil binaan BRI sudah tembus pasar internasional.

DEPOK, RadarMadura.id – Kain bukan sekadar lembaran tekstil. Di dalamnya tersimpan cerita panjang tentang budaya, perjalanan, serta identitas yang diwariskan lintas generasi. Nilai inilah yang mendorong Ifti, pengusaha batik asal Pekalongan yang kini menetap di Depok, mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan wastra Nusantara.

Kecintaan Ifti terhadap kain tradisional semakin kuat setelah bertemu dengan sang suami yang memiliki minat serupa. Keduanya bahkan memiliki kebiasaan mengoleksi kain dari berbagai daerah sebagai oleh-oleh setiap kali melakukan perjalanan.

Berangkat dari kecintaan tersebut, pada akhir November 2019 lahirlah usaha “Pekatan Batik” di Kota Depok, Jawa Barat. Usaha ini menjadi ruang bagi Ifti untuk mengekspresikan kecintaannya terhadap batik dan kain tradisional Indonesia.

Namun perjalanan usaha tersebut tidak langsung berjalan mulus. Tak lama setelah berdiri, pandemi COVID-19 melanda dan berdampak pada berbagai sektor usaha, termasuk industri fesyen dan kerajinan. Kondisi tersebut membuat usaha Pekatan Batik sempat vakum.

Meski demikian, Ifti tidak menyerah. Ia kemudian mencoba menghidupkan kembali usahanya melalui penjualan secara daring.

Dari titik tersebut, Pekatan Batik perlahan kembali berkembang. Usaha ini tidak hanya menjadi bisnis, tetapi juga ruang untuk menjaga agar wastra Nusantara tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.

Melalui Pekatan Batik, Ifti berupaya melestarikan berbagai jenis kain tradisional, mulai dari batik tulis, tenun Badui, hingga lurik yang diproduksi menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Menurutnya, batik dan tenun bukan sekadar kain. Di dalamnya terdapat nilai budaya yang harus terus dijaga agar tetap dikenakan dan dihargai lintas generasi.

Karena itu, Pekatan Batik menghadirkan desain yang modern, terbatas, dan eksklusif. Langkah tersebut dilakukan untuk mengubah pandangan bahwa batik hanya identik dengan acara formal atau digunakan oleh generasi lama.

Dengan sentuhan desain yang lebih segar, wastra Nusantara dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan tanpa kehilangan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Dalam proses produksinya, Pekatan Batik juga menerapkan konsep yang lebih ramah lingkungan. Sisa potongan kain tidak dibuang, tetapi dimanfaatkan kembali menjadi produk baru yang tetap memiliki nilai.

Pendekatan tersebut membuat setiap koleksi Pekatan Batik hadir dalam jumlah terbatas, sekaligus mendukung konsep produksi yang lebih berkelanjutan.

Kini berbagai koleksi Pekatan Batik tidak hanya diminati pasar lokal dan nasional, tetapi juga telah menjangkau pasar internasional. Produk-produk tersebut bahkan pernah dibawa ke beberapa negara seperti Korea serta sejumlah negara di Eropa.

Selain itu, karya Pekatan Batik juga kerap digunakan sebagai suvenir oleh berbagai instansi maupun perusahaan dalam kegiatan berskala internasional.

Perjalanan usaha tersebut semakin berkembang ketika Ifti bergabung dengan program pembinaan UMKM yang dijalankan oleh Bank Rakyat Indonesia melalui Rumah BUMN BRI Jakarta pada 2024.

Melalui program tersebut, Ifti mendapatkan berbagai pelatihan yang membantu meningkatkan kapasitas usahanya.

“Saya mengikuti pelatihan fashion, desain, bisnis, dan keuangan. Meski tidak berlatar belakang desainer, saya banyak belajar tentang desain dan pengelolaan bisnis, serta mendapat kesempatan pameran dan business matching,” ungkapnya.

Menurut Ifti, kegiatan expo dan pelatihan desain menjadi pengalaman yang paling berdampak bagi perkembangan usahanya.

Dari kegiatan expo, ia dapat melihat secara langsung tren produk serta model yang paling diminati oleh pasar.

Sementara dari pelatihan desain, ia mendapatkan pengetahuan baru yang sangat membantu dalam mengembangkan koleksi Pekatan Batik.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah kolaboratif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Melalui program tersebut, para pelaku usaha didorong untuk meningkatkan kapasitas bisnis sekaligus memperluas jaringan pemasaran.

“Inisiatif ini dirancang untuk membantu UMKM meningkatkan daya saing sekaligus menangkap peluang pasar yang semakin dinamis,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pembinaan UMKM merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan BRI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Hingga saat ini, BRI tercatat telah membina 54 Rumah BUMN di berbagai wilayah Indonesia.

Selain itu, lebih dari 18.218 pelatihan telah diselenggarakan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan kompetensi pelaku UMKM di seluruh Indonesia. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
#UMKM Binaan BRI #depok #tenun baduy #batik