Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menggiurkan! Ternak Burung Walet Investasi Jangka Panjang, Satu Kilogram Bisa Laku Rp 25 Juta

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 17 Maret 2024 | 18:53 WIB
MENGUNTUNGKAN: Manggala Krisna Sugiharto, warga Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan, menunjukkan sarang burung walet miliknya, Minggu (10/3). (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
MENGUNTUNGKAN: Manggala Krisna Sugiharto, warga Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan, menunjukkan sarang burung walet miliknya, Minggu (10/3). (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.idKediaman Manggala Krisna Sugiharto di Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan, tidak terlalu jauh dari Kota Pamekasan. Dia pemilik usaha ternak sarang burung walet. Rumahnya tepat berada di depan wisata Pantai Talang Siring.

Sekitar 20 menit berkendara dari Kota Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura (JPRM) tiba di depan rumah pagar hitam. Saat itu, disambut pria berkaus abu-abu dan bercelana cokelat susu. Dialah pria yang akrab disapa Angga.

Dia membuat rumah walet sejak 2013. Namun ternyata, desain dari bangunan tersebut salah dan burung walet enggan menempati. Hal itu karena sisa-sisa bau semen dari bangunan baru tersebut. Setelah lama mangkrak, Angga mencoba menanyakan kepada temannya.

Dia diberi saran, meskipun bangunan tersebut baru, tidak menjadi masalah untuk burung walet tempati. ”Dan benar saja, salahnya itu di pencahayaan. Kurang gelap. Ventilasi dan lubang masuk sampai suhu kelembapan juga harus benar-benar diperhatikan,” jelas Angga.

Kemudian, bangunan dengan ukuran 4x12 meter dan dua lantai itu direnovasi. Pada 2021, Angga semakin yakin untuk menekuni usahanya ini. Dengan memberikan papan kayu dan styrofoam untuk pijakan dari burung walet itu sendiri.

Produksi pada tahun pertama memang sedikit karena burung walet juga butuh proses adaptasi di tempat baru. Menurutnya, menarik burung berbulu hitam itu untuk singgah cukup mudah, dengan menggunakan suara rekaman burung walet. Maka, ratusan bahkan ribuan burung walet tersebut akan berbondong-bondong mendatangi rumah tersebut.

Angga menyampaikan, ternak sarang burung walet terbilang cukup mudah dengan hanya bermodalkan bangunan yang tinggi dan sesuai desainnya. Maka, omzet yang didapat akan berlimpah.

Untuk ukuran ruangan tidak menjadi patokan bagi burung walet. Untuk tinggi, idealnya 1,5 meter sampai 2,5 meter per lantai. ”Saya menggunakan dua lantai ini,” kata ayah dua anak itu.

Tak hanya itu, selain tidak memberi pakan, perawatan ruangan cukup tiga bulan sekali. Yaitu, menggunakan penyemprotan untuk membasmi hama di rumah burung walet. Upaya itu untuk memastikan tidak ada tikus, semut, dan hama lainnya.

Adapun untuk penjualannya, Angga mengandalkan temannya yang bekerja di pabrik di Kota Malang. Satu kilogram kotor bisa terjual sampai Rp 8,5 juta. Sedangkan yang bersih tanpa bulu seharga Rp 15 juta. Beda halnya dengan yang diekspor bisa mencapai Rp 25 juta.

”Menurut saya, cukup memuaskan beternak sarang burung walet ini, asalkan kelembapan ruangan harus dijaga, karena jika terlalu kering, kualitasnya tidak bagus dan cepat hancur,” jelasnya.

Baca Juga: Festival Bazar Takjil Ramadan Sumenep: Cuaca Cerah, Nyare Malem Jadi Santai

Angga mengatakan, dia juga memasang CCTV di rumah burung walet yang bisa menampung ribuan walet tersebut. Hal itu bertujuan untuk controlling perkembangan dari sarang burung walet.

Target pria berusia 32 tahun ini selanjutnya akan membuat rumah walet yang kedua di Talango, Sumenep. Sebab, di daerah kediaman istrinya belum ada yang ternak sarang burung walet. Padahal populasinya banyak.

Modal awal memang tergolong mahal untuk pembuatan gedungnya itu. Namun, hal ini juga menjadi investasi jangka panjang untuk penerusnya kelak. ”Asalkan benar-benar dirawat, insyaallah hasilnya bisa dilihat nanti,” pungkasnya. (ail/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#beternak #sarang #air liur #burung walet