PAMEKASAN, RadarMadura.id - Jalanan menuju Dusun Bujudan, Desa Pamoroh, Kecamatan Kadur, cukup ramai pada Senin (12/2).
Sore itu Jawa Pos Radar Madura (JPRM) langsung disambut hangat oleh pria berkaus lengan pendek dengan sarung cokelat di depan rumah berpagar hitam itu.
”Ayo duduk dulu, nanti kita ke kebun sambil lalu melihat buah naganya,” kata pria bernama Ahmad itu.
Sekitar 10 menit mengobrol, kemudian dia mengajak ke kebun di utara rumahnya dengan jarak 300 meter. Tampak ada 40 tanaman buah naga putih di lahan dengan luas sekitar 7×5 meter persegi itu.
Ahmad sudah sekitar 14 tahun menanam buah dengan ciri khas kulit bersisik seperti naga itu dengan warna kuning dan hijau. Bibitnya dia beli di Kecamatan Pakong seharga Rp 10 ribu pada 2010.
Total biaya yang dikeluarkan sampai Rp 2 juta dengan pembuatan tiang beton setinggi dua meter sebagai penyangga tanaman menjalar ini.
Dengan kedalaman setengah meter, tiang beton tersebut ditanam. Tiap sudut tiang beton itu, bibit buah naga ditanam dan ditaburi pupuk kandang. Kemudian diikat di tiang cor beton tersebut.
”Sudah biarkan saja, tidak usah ditanam di tanah. Jadi pupuk kandang itu disebar di sekitar tiang beton ini lalu tanaman buah naga ini diletakkan di atasnya dan diikat agar tidak jatuh,” jelas Ahmad.
Perawatan buah naga putih tergolong mudah. Penyiraman hanya cukup dilakukan sehari sekali di waktu pagi saat musim kemarau.
Ahmad mengaku, dia hanya menggunakan pupuk kandang untuk tanaman buah naga putihnya. Sebab, hasil buahnya lebih bagus daripada menggunakan pupuk pabrikan atau kimia.
Yang terpenting tanaman buah naga tersebut airnya tercukupi, yakni tidak berlebihan atau kekurangan.
Ayah dua anak ini mengaku, tanaman buah naga bisa berbuah setelah 10 bulan proses tanam.
Untuk selanjutnya, maksimal selama satu tahun dua kali berbuah. ”Kalau tanaman buah naga saya ini agar cepat berbuah ujungnya dipangkas,” katanya.
Penanaman buah naga putih ini bisa di semua jenis tanah. Asalkan perawatan maksimal, maka hasil buah juga akan baik.
Jarak tanam dua hingga tiga meter. Hal itu dilakukan agar memudahkan proses panen.
”Tidak serumit yang orang-orang pikirkan. Santai saja dalam berkebun itu, karena menurut saya hasil tanaman juga bergantung pada perasaan waktu menanam. Merawat dan memanen juga,” ujar Ahmad.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Madura (Unira) Moh. Zali menyampaikan, tanaman buah naga dapat tumbuh di hampir semua jenis tanah. Namun, tanah berpasir yang memiliki irigasi umumnya lebih disukai.
”Biasanya tumbuh optimal di dataran rendah. Tentu kami berharap, masyarakat banyak yang tertarik menanam buah naga ini, dan sejauh ini memang di Kabupaten Banyuwangi yang terkenal tanaman buah naganya. Semoga selanjutnya Madura, khususnya Pamekasan,” ungkapnya.
Yang Putih Lebih Manis
Buah naga putih juga bisa tumbuh subur di Madura. Ahmad sekali panen bisa sampai 30 kilogram.
Panen itu dia lakukan setiap hari. Bahkan, pernah sekitar tiga tahun lalu, total panen buah naga putih milik Ahmad mencapai satu kuintal.
”Masih sekitaran Pamekasan saja seharga Rp 20 ribu satu kilogramnya,” kata warga Dusun Bujudan, Desa Pamoroh, Kecamatan Kadur, Pamekasan, itu menjelaskan pelanggan buah naga miliknya.
Menurut Ahmad, rasa pada buah naga putih ini lebih manis dibandingkan yang merah.
Bentuk lebih bulat buah naga putih. Sedangkan untuk yang merah lebih lonjong dan memiliki sisik yang berwarna lebih gelap.
”Kalau menurut saya lebih manis yang putih meskipun ada kecutnya sedikit dan rasanya itu segar. Lebih renyah yang putih juga, kandungan airnya juga lebih sedikit,” terangnya.
Tenaga kesehatan di Puskesmas Panaguan, Kecamatan Proppo, Atika menambahkan, buah naga putih mengandung serat, protein, kalsium, zat besi, dan antioksidan.
Sehingga, bagus untuk pencernaan. Juga membantu menurunkan kolesterol jahat yang ada pada tubuh.
Buah naga merah juga memiliki zat besi, antioksidan, dan kandungan gula yang lebih tinggi. Sehingga, bagus untuk tubuh.
Namun, harus hati-hati bagi penderita kencing manis. ”Sama-sama baik untuk dikonsumsi. Asalkan, jangan berlebihan saja,” jelas Dokter Atika.
Dia mengatakan, untuk mengonsumsi apa pun tidak boleh berlebihan. Harus sesuai dengan porsi untuk asupan tubuh.
Sebab, apa pun yang berlebihan itu tidak baik. ”Jadi sekadarnya saja,” tutupnya. (ail/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti