BANGKALAN, RadarMadura.id – Bunga melati putih atau dikenal dengan Jasminum sambac merupakan tanaman yang tumbuh di pekarangan. Bunga yang memiliki aroma menenangkan tersebut sangat mudah tumbuh. Terlebih saat musim hujan, bunganya akan tumbuh lebat.
Salah seorang petani di Desa Naroan, Kecamatan Burneh, Bangkalan, Khotijah menyampaikan, hampir semua warga di desanya membudidayakan melati. Sebab, selain mencukupi diri dengan hasil tani yang lain. Budi daya melati telah menjadi mata pencaharian sebagian besar warga Desa Naroan. ”Di sini hampir semua warga menanam melati untuk dijual,” katanya.
Saat ini dia memiliki sekitar tiga lahan sawah penuh dengan bunga melati. Biasanya bunga melati di sawahnya dijual ke pengepul. Bunga-bunga itu dijadikan roncean berbagai bentuk.
”Misalnya dijadikan baju siraman, 40 hari kelahiran anak, kalung pengantin, dan masih banyak lainnya,” tambahnya.
Khotijah menyampaikan, bunga melati miliknya hampir berbunga setiap saat. Namun, kelebatan bunga tersebut bergantung pada kondisi cuaca. Biasanya bunga tersebut akan lebat saat memasuki musim hujan. ”Kalau berbunganya tiap hari, tapi kalau musim hujan itu lebih lebat,” terangnya.
Bunga melati yang dipilih oleh warga adalah melati yang masih kuncup. Baik saat usia satu minggu atau lebih. Karena dinilai cocok untuk dijadikan roncean melati. ”Tidak cocok kalau sudah mekar. Bisa digunakan, tapi untuk takziah ke makam,” jelasnya.
Menurutnya, ketika musim hujan, satu lahan kebun bunga melati miliknya bisa menghasilkan empat kilogram bunga. Sedangkan di musim kemarau, dirinya harus ekstra menyiram pohon tersebut secara rutin. Sehingga, bunga melati yang dihasilkan tidak jauh berbeda di saat musim hujan.
”Kalau musim kemarau kami menjaganya dengan sering menyiramnya dengan air. Jika tidak, bunganya lebih sedikit,” tambahnya.
Tanaman melati akan berbunga saat memasuki tujuh bulan dari masa tanam. Waktu yang tepat untuk menanam disarankan jangan di musim kemarau. Sebab, akan sulit tumbuh dan berbunga.
”Saran saya di musim seperti ini (musim hujan) karena langsung hidup asal dirawat saja,” paparnya.
Perawatan dalam budi daya bunga melati gampang-gampang susah. Seperti menjaga kebersihan sawah dari rumput liar serta diberikan pupuk organik dan nonorganik. Sementara untuk gangguan penyakit oleh hama akan menyebabkan pohon melati mati.
”Hanya perlu dijaga dari rumput liar saja supaya tidak merusak pohonnya dan untuk mengusir hama sendiri, saya belum tahu obatnya,” katanya.
Kendalikan Hama dengan Teknik Pruning atau Pemangkasan
Melati merupakan tanaman yang mudah tumbuh. Perawatannya pun tanpa perlakuan khusus. Cukup dengan cara pemangkasan (pruning) untuk pengendalian hama.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Tanah Merah Lestari Puji Rahayu mengatakan, perlakuan terhadap tanaman melati masih terkesan bebas. Khususnya di daerah sekitar Desa Tunjung, Kecamatan Burneh, yang mayoritas pembudi daya melati. Mereka dinilai memiliki cara tersendiri dalam merawat tanaman melati.
”Sejauh ini mereka masih tradisional untuk budi daya melati ini, masih dilakukan secara alami,” katanya Sabtu (25/11).
Hal itu diyakini oleh masyarakat dapat mempertahankan aroma bunga yang khas. Keawetan bunga dirasa lebih tahan lama. Karena tidak mencampurkan bahan kimia. ”Mereka sudah sejak dulu memperlakukannya dengan tradisional dan tidak mencampurkan bahan kimia tertentu. Bahkan, mereka membiarkan melati yang mereka tanam tumbuh alami,” tambahnya.
Keunikan warga Burneh yang membudidayakan melati dinilai memiliki perlakuan khas. Misalnya, ketika harga melati sedang tidak stabil, mereka tetap memanen bunga melati untuk dijual. Perlakuan itu dinilai baik untuk masa pertumbuhan melati selanjutnya. Sebab, pemangkasan atau dikenal dengan pruning tersebut baik untuk merangsang tunas baru.
”Pemangkasan ini tidak mereka sadari bahwa dampaknya sangat bagus untuk keberlangsungan pohon melati. Karena akan tumbuh tunas baru, batang semakin kuat, dan itu bagus,” terangnya.
Selain itu, pruning juga memberikan efek yang lain pada pertumbuhan tanaman melati. Yakni, dapat mengatasi hama yang dikenal dengan hama aphis yang menyebabkan tanaman melati mati. ”Pruning juga menjadi salah satu cara membasmi kutu atau aphis,” paparnya.
Menurutnya, pengendalian hama juga diperlukan. Hal itu untuk menjaga keberlangsungan tanaman dan mengurangi kerusakan pada tanaman. Namun, para petani dan sebagian masyarakat lebih membiarkan hama tersebut.
”Pengendalian hama ini bisa dengan obat kutu. Tapi, masyarakat menggunakan melati ini hanya untuk kebutuhan pasaran, bukan sebagai industri yang memang cakupan dan perlakuannya lebih kompleks karena hasil bunganya harus lebih maksimal,” jelasnya. (ay/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti