Oleh Istifadah Maulana Syarifah*
Bu Desty memberi tugas kepada anak-anak untuk membuat aksesori. Aksesori tersebut bisa berupa kalung, gelang, dan cincin. Hasilnya dikumpulkan minggu depan. Tugas ini merupakan tugas kelompok. Tiap kelompok terdapat tiga sampai dengan lima orang. Kelompok pertama adalah Dina, Siti, dan Rahman.
Dina, Siti, dan Rahman mempunyai cara yang berbeda terkait tugas tersebut. Ini berkaitan dengan hari ulang tahun Bu Desty dan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Apakah rencana mereka akan berhasil?
Sore hari, Dina, Siti, dan Rahman segera bergegas membuat aksesori dimaksud. Mereka berembuk tentang bahan dan alat yang akan digunakan.
”Beli di toko pamanku saja,” usul Dina.
”Bisa gratis, nih?” Siti bercanda.
”Ih, gratis?” Dina cemberut.
”Minimal, ada potongan harga,” sambung Rahman.
Mereka pergi ke toko paman Dina untuk membeli benang sebagai bahan aksesori. Benang yang dipilih sesuai warna kesukaan masing-masing. Mereka juga membeli pernak-pernik agar hasil keterampilannya cantik.
”Ini gambar kepala boneka lucu,” Dina menunjuk gambar boneka kecil terbuat dari kain.
”Ini gambar hati,” sambung Rahman.
Ternyata banyak juga bahan-bahan dan alat yang mereka beli. Di rumah Dina, mereka membuat aksesori berupa gelang. Agar tidak bosan, mereka sambil bercanda.
”Bu Desty adalah guru yang cerdas,” ujar Rahman.
”Beliau juga cantik,” sambung Dina.
”Betul betul betul betul!” kata Siti menirukan tokoh Ipin dan Upin. ”Walaupun Bu Desty sering memberi tugas, anak-anak merasa senang,” lanjutnya.
Gelang punya Dina terlalu kecil. Beberapa kali ia mencoba memakainya, tetapi tidak muat. Ia mencoba memasukkan gelang itu pada lengan Siti, ternyata juga tidak muat.
”Duh, bagaimana caranya agar bisa muat?” Kata Dina.
”Kalau tidak muat harus buat lagi,” ujar Rahman.
”Ini mau dibagaimanakan,” Dina menatap Rahman.
”Ini disimpan dulu,” Siti menyambung pembicaraan.
Dina membuat ulang gelang tersebut. Namun, terasa ada yang aneh. Gelang itu kurang bagus dan kurang menarik. Dina hampir menyerah. Wajahnya nampak lelah. Siti dan Rahman membujuk Dina agar tidak menyerah.
”Ayo, buat lagi!” ajak Rahman.
”Kita tidak boleh menyerah, Din,” Siti meyambung perkataan Rahman.
Dina baru sadar bahwa benang tersebut tidak ada campuran warnanya. Dina mengulang dari awal, memilih warna kesukaannya, dengan aneka warna. Kali ini, Dina lebih berhati-hati agar tidak terjadi kesalahan yang kedua. Ternyata, hasilnya juga kurang bagus. Dina melirik Siti dan Rahman yang sedang bekerja. Keduanya lebih nyantai, sedangkan Dina lekas panik. Mengapa mereka bisa nyantai seperti itu, ya? Gumam Dina. Dina mencoba untuk kesekian kalinya. Kali ini, Dina meminta bantuan Siti.
”Mohon maaf, Din. Aku izin sebentar,” kata Siti.
”Mau ke mana, Sit?” tanya Dina
”Aku disuruh ibu membeli mi instan di toko. Tadi aku lupa,” jawab Siti.
”Aku ikut!” kata Rahman sambil bangkit dari tempat duduknya.
Diam-diam, Dina juga mengambil sepedanya yang tersandar di tembok rumah. Mereka berangkat ke toko untuk membeli mi instan.
”Sit, aku punya ide bagus,” kata Dina.
”Ide bagaimana, Din,” tanya Rahman penasaran.
”Aku mau menggunakan pernak-pernik gelang dari barang bekas,” ujar Dina.
”Barang bekas apaan?” tanya Siti.
”Ada deh! Rahasia,” jawab Dina sambil tersenyum.
Kira-kira, kelompok yang lain membuat aksesori apa, ya? Apakah mereka sudah selesai mengerjakan tugas? Apakah ada kejutan yang akan diberikan kepada guru hari Senin nanti?
”Aku juga punya ide,” Rahman tidak mau kalah.
”Ide bagaimana, Man?” tanya Siti.
”Aku mau ke toko emas,” ujar Rahman.
”Mau apa ke sana?” tanya Dina.
”Ada deh! Rahasia,” jawab Rahman menirukan suara Dina.
Siti, Dina, dan Rahman pergi ke toko emas setelah membeli mi instan di toko. Rupanya, tugas dari Bu Desty cukup menantang. Mereka betul-betul mengerjakannya dengan maksimal. Di toko emas, Siti, Dina, dan Rahman mengamati beberapa perhiasan satu per satu. Sesuai pendapat Rahman, mereka ingin meniru emas yang ada di toko itu. Tetapi, sial. Mereka dicurigai oleh pemilik toko.
”Eh, mau apa kalian ke sini?” tanya pemilik toko dengan wajah curiga.
”Emmm, Rahman ngajak ke sini,” jawab Dina.
Mereka merasa tidak enak dilihat banyak orang. Mereka lalu meninggalkan tempat itu tanpa memperoleh gambaran seperti apa pernak-pernik emas yang akan ditiru.
”Kita ke toko Paman saja. Kita beli pernak-pernik di sana supaya tidak terlalu lama,” semua setuju.
Keringat sudah mulai bercucuran. Mereka menuju ke toko yang dimaksud dengan penuh semangat.
”Nah, kalau pernak-pernik seperti ini, kalian harus beli satu paket. Ini tidak diecer,” ujar Paman.
”Mungkin ada potongan harga, Paman?” tanya Dina.
”Lho, potongan harganya kan sudah saat beli bahan-bahan itu,” jawab Paman.
Akhirnya, mereka pulang tanpa membawa apa-apa. Sesampainya di rumah Dina, mereka melepas lelah. Duduk bersandar sambil minum air mineral yang tersedia di kulkas.
”Aku kan sudah bilang. Aku punya ide bagus,” kata Dina.
”Oh, iya. Betul,” sambung Rahman.
”Ayo, seperti apa idemu, Din?” tanya Siti.
”Kita bisa membuat pernak-pernik aksesori itu dari plastik bungkus mi instan,” jawab Dina.
”Setuju,” Siti langsung menjawab.
”Ini namanya murah meriah,” lanjut Rahman.
Setelah mengambil bungkus mi instan di rumah Siti, mereka mulai melanjutkan pekerjaannya.
”Tolong bantu aku, Sit,” pinta Dina. Siti menganggukkan kepalanya. Siti sebenarnya ragu untuk membantu Dina karena belum menyelesaikan tugasnya sendiri. Akan tetapi, Siti merasa kasihan terhadap Dina. Dina dan Siti bekerja sama membuat gelang tersebut. Abrakadabra. Gelang yang dibuat dari benang tersebut kini sudah jadi. Ternyata, gelang buatan Dina sangat cantik. Sedangkan Rahman punya ide yang bagus. Selain membuat gelang, ia ingin membuat cincin dan kalung. Dina dan Siti membantu Rahman membuat gelang, cincin, dan kalung.
Rahman berinisiatif memberikan aksesori itu nanti kepada wali kelas, yaitu Bu Desty. Kebetulan, Bu Desty ulang tahun.
Ukuran yang dibuat sangat beragam. Kalung, gelang, dan cincin tersebut bisa digunakan untuk anak-anak, remaja, dan orang dewasa.
”Bu Desty pasti senang,” kata Rahman.
Selain membuat gelang, Dina dan Siti juga membuat kalung dan cincin seperti punya Rahman. Wah, asyik juga ya membuat aksesori secara berkelompok. Selain tidak cepat capek, ada ide-ide yang bisa membuat pekerjaan mereka bisa selesai.
Matahari mulai tenggelam. Semua aksesori dikumpulkan pada Dina. Nanti, aksesori itu diserahkan secara bersama-sama di sekolah. Lusa, mereka akan memberikan aksesori itu untuk wali kelas yang sedang ulang tahun.
Dina ingin menyimpan aksesori tersebut di laci meja. Hatinya berbunga-bunga. Akan tetapi, nasib sial menimpa Dina. Sore hari, aksesori tersebut ternyata raib. Dina sangat panik. Bagaimana jika kelompoknya tidak bisa mengumpulkan tugas itu? Dina menemui Siti di rumahnya. Siti tidak mengambil aksesori tersebut di laci meja Dina.
”Wah, bagaimana ini, Sit,” Dina masih panik.
”Aku juga nggak tahu, Din,” jawab Siti.
”Apa ada yang mencuri?” lanjut Dina.
”Siapa yang mau mencuri barang seperti itu,” kata Siti.
Mereka sangat cemas. Apalagi, proses membuatnya penuh perjuangan. Dina mengajak Siti ke rumah Rahman. Rahman malah bengong. Mereka tidak mungkin membuat lagi aksesori itu karena waktunya sudah mendesak. Tiba-tiba, Rahman mengedipkan mata ke Siti. Siti mendekati Rahman tanpa bersuara. Tiba-tiba, mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
”Mengapa kalian menertawai aku,” Dina heran.
”Kemarin kamu mengantarkan aksesori itu ke sini. Di rumahmu takut hilang,” ujar Rahman.
”Iya,ya. Kemarin aku titip ke kamu agar disimpan di sini,” Dina mulai tersenyum.
Siti dan Rahman masih tertawa terbahak-bahak. Dina juga ikut tertawa sambil menahan perutnya. Ternyata, aksesori yang dicari itu dititip di rumah Rahman. Dengan wajah malu, Dina meminta aksesori tersebut untuk dibawa ke rumah Dina.
”Yakin masih mau disimpan di rumahmu,” tanya Rahman.
”Iya. Mana?” Dina menjulurkan tangan kanannya.
Dina dan Siti menjadi lega. Aksesori yang dimaksud itu ternyata tidak hilang.
”Lusa kan juga peringatan Hari Pendidikan Nasional,” kata Rahman.
”Betul. Memangnya mengapa, Man?” tanya Siti.
Rahman berpikir sejenak.
”Aksesori kita kan banyak. Bagaimana nanti kalau semua guru harus menghadiri ulang tahun Bu Desty. Nah, kita juga memberi ucapan ’Selamat Hari Pendidikan Nasional’ kepada semua guru?” kata Rahman.
”Ini ide yang bagus. Siap. Langsung bungkus,” jawab Dina.
Keesokan harinya, Siti, Dina, dan Rahman berangkat ke sekolah sebelum matahari terbit. Mereka menyiapkan semuanya; membersihkan kelas, menata taplak meja, merapikan bangku dan kursi. Bu Desty belum datang. Tetapi, guru-guru yang lain sudah banyak yang datang.
”Boleh minta tolong, Pak,” kata Rahman kepada salah seorang guru. Rahman menyampaikan rencana kejutan yang akan diberikan kepada Bu Desty.
”Itu ide yang bagus,” jawab guru itu. Guru tersebut langsung menghubungi Bu Desty melalui saluran telepon. Sebagai wali kelas, Bu Desty harus cepat-cepat ke sekolah.
”Baik, saya akan segera ke sekolah,” jawab Bu Desty.
Sesampainya di kantor, Bu Desty tidak menemukan siapa-siapa. Ia langsung menuju kelas.
”Happy birthday, Ibu..! Happy birthday, Ibu..! Happy birthday, Ibu..!”
Semuanya menyanyikan lagu tersebut. Dina, Siti, dan Rahman memasangkan cincin, gelang, dan kalung aksesori kepada Bu Desty. Bu Desty terharu. Matanya berkaca-kaca. Guru-guru yang lain juga diberi aksesori yang sama. ”Selamat Hari Pendidikan Nasional,” kata Dina, Siti, dan Rahman. Semua guru kaget karena tidak menyangka akan mendapat kejutan dari anak-anak.
*)Istifadah Maulana Syarifah lahir di Sumenep, 22 Juni 2010. Ia saat ini nyantri di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Selain suka menulis cerita anak, ia menyukai banyak boneka. Ia pernah aktif di organisasi kepramukaan. Di sela-sela kesukaannya menulis cerita anak, ia sedang mendalami kitab Fathul Mu’in, Fathul Qorib, dan Fahmil Quran. Karyanya berupa cerita anak dwi bahasa berjudul ”Mobil Keren dari Sampah” lolos dalam Seleksi Cerita Anak Dwi Bahasa Balai Bahasa Kalimantan Timur Tahun 2025.
Editor : Amin Basiri