Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Sinyal Jiwa di Layar Kaca

Amin Basiri • Minggu, 19 Juli 2026 | 08:54 WIB
Ilustrasi Cerpen Sinyal Jiwa di Layar Kaca
Ilustrasi Cerpen Sinyal Jiwa di Layar Kaca

Oleh  Al-Madany*


Riuh rendah suara sendok yang beradu dengan piring porselen di kantin kampus siang itu tidak mampu mengalihkan fokus kacamata tebal milik Malik. Jari-jarinya menari cepat di atas layar gawai, sesekali dahinya mengernyit dalam. Di sebelahnya, Citra sedang asyik mengunyah batagor sembari berselancar di media sosial. Sementara Dimas, anggota ketiga dari lingkaran pertemanan  mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) itu, sibuk membolak-balik diktat kuliah Epidemiologi.

”Malik, lihat ini,” Citra menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Malik. ”Ini tren video terbaru di TikTok. Isinya anak-anak remaja minum suplemen pemutih dosis tinggi dicampur minuman bersoda biar instan katanya. Penontonnya jutaan, Lik!”

Malik menghela napas panjang, menurunkan sedikit kacamatanya. ”Itu dia masalahnya, Cit. Minggu lalu, waktu kita turun lapangan ke Puskesmas Sukamaju, dr. Anwar bilang kasus gagal ginjal akut pada usia produktif naik hampir lima belas persen di wilayah itu. Salah satu pemicunya? Konsumsi obat-obatan ilegal dan suplemen tanpa izin edar yang mereka beli online karena termakan hoaks influencer.”

Dimas menutup diktat kuliahnya dengan hentakan pelan. ”Dunia digital kita sedang sakit. Arus informasi kesehatan bergerak lebih cepat daripada ambulans, tapi sayangnya, mayoritas adalah misinformasi. Masyarakat kita, terutama gen-Z dan milenial, lebih percaya testimoni estetis di Instagram ketimbang jurnal ilmiah atau anjuran dokter.”

Kenyataan pahit itulah yang melatarbelakangi terbentuknya gerakan ”Sinyal Sehat”. Sebuah proyek idealis yang diinisiasi oleh Malik, Citra, dan Dimas. Sebagai mahasiswa tingkat akhir FKM, mereka sadar bahwa mengedukasi masyarakat tidak bisa lagi sekadar mengandalkan brosur kertas yang dibagikan di lampu merah, atau penyuluhan kaku di balai desa yang hanya dihadiri oleh segelintir kader posyandu lansia. Kampanye kesehatan harus bermigrasi ke tempat di mana jantung generasi muda berdetak paling kencang: ruang digital.

Sore itu, sekretariat senat mahasiswa disulap menjadi studio mini. Sebuah lampu lingkaran (ring light) murah, sebuah mikrofon jepit, dan kamera ponsel pintar menjadi modal utama mereka. Agenda hari ini adalah memproduksi konten berkala untuk meluruskan hoaks yang sedang viral.

”Oke, Cit. Kamera siap, audio siap. Mulai dalam tiga, dua, satu... action!” seru Dimas dari balik layar.

Citra langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi ceria dan interaktif. ”Hai Teman Sehat! Pernah gak sih kalian lihat tips diet ekstrem yang melarang kita minum air putih setelah makan karena katanya bikin lemak menggumpal? Waduh, jangan langsung percaya ya! Yuk, kita bedah faktanya dari sudut pandang fisiologi tubuh...”

Citra menjelaskan dengan bahasa yang sangat membumi, diselingi analogi-analogi jenaka khas anak muda. Ia memaparkan bahwa air putih justru membantu proses pencernaan, melarutkan zat gizi, dan menjaga fungsi ginjal agar tetap optimal menyaring racun. Tidak ada satu pun jurnal medis yang membenarkan bahwa air putih setelah makan dapat membekukan lemak tubuh.

Di balik layar, Malik bertugas menyusun naskah ilmiah yang telah disederhanakan. ”Kita harus memastikan setiap kata yang diucapkan Citra memiliki landasan evidence-based medicine,” ujar Malik kepada Dimas yang sedang mengedit visual. ”Jangan sampai kita berniat memberantas hoaks, tapi malah melahirkan misinformasi baru karena kurang akurat memilih diksi.”

Strategi mereka tidak hanya berfokus pada apa yang salah, tetapi bagaimana menyampaikan apa yang benar dengan kemasan yang memikat. Mereka menggunakan infografis berwarna pastel yang estetik di Instagram, video pendek dengan transisi cepat di TikTok, serta utas (thread) berbasis data yang runut di media sosial X.

Namun, tantangan sesungguhnya dari kampanye kesehatan digital bukan terletak pada algoritma atau jumlah pengikut, melainkan pada resistensi nyata di masyarakat. Hal ini mereka rasakan saat akun "Sinyal Sehat" mulai mendapatkan perhatian luas.

Suatu malam, sebuah komentar di video edukasi mereka tentang bahaya rokok elektrik (vape) memicu perdebatan sengit. Akun bernama @RiderAwan menulis: ”Halah, sok tahu anak-anak kuliahan ini. Gue udah ngevape tiga tahun dan paru-paru gue aman-aman aja. Vape itu alternatif sehat buat berhentiin rokok tembakau, jangan nakut-nakutin deh!" Komentar tersebut langsung disukai oleh ribuan pengguna lain dan memicu gelombang perundungan digital terhadap gerakan mereka.

Dimas sempat gusar. ”Lik, kita diserang nih. Gimana kalau kita hapus saja komentarnya? Bisa merusak citra akun kita.”

Malik menggeleng tegas. ”Jangan, Dim. Dalam komunikasi kesehatan digital, resistensi seperti ini adalah indikator bahwa pesan kita berhasil menyentuh kelompok sasaran yang tepat. Kalau kita hapus, kita terlihat lemah dan antikritik. Kita harus meresponsnya secara ilmiah, tetapi tetap santun.”

Alih-alih membalas dengan kemarahan di kolom komentar, mereka memproduksi konten video balasan (stitch). Citra kembali tampil di depan kamera, kali ini dengan nada bicara yang lebih empati.

”Halo Kak @RiderAwan, terima kasih ya sudah berbagi pengalamannya. Memang betul, efek kerusakan paru akibat uap kimia tidak selalu instan, tetapi bersifat akumulatif. Secara medis, rokok elektrik tetap mengandung nikotin yang adiktif, zat perasa diasetil yang berisiko menyebabkan popcorn lung, serta logam berat mikro yang bisa mengendap di jaringan alveolus. Jadi, esensi kesehatan masyarakat itu bukan menunggu sampai kita sakit baru berhenti, tetåpi mencegah risiko sebelum kerusakan sel itu terjadi. Yuk, kita jaga paru-paru kita sama-sama!”

Respons yang tenang, edukatif, dan tanpa kesan menggurui itu justru membalikkan keadaan. Netizen mulai memuji cara "Sinyal Sehat" dalam mengelola konflik informasi. Bahkan, beberapa akun dokter spesialis paru turut membagikan ulang video tersebut, memberikan validasi medis atas apa yang dikampanyekan oleh ketiga mahasiswa tersebut.

Keberhasilan digital itu perlahan mulai menuntut pembuktian di dunia nyata. Suatu hari, Malik mendapat pesan langsung (DM) dari seorang remaja putri bernama Nisa (16 tahun), asal Desa Karanganyar, sebuah wilayah semi-urban di pinggiran kota.

”Kak, tolong saya. Ibu saya tergiur beli obat herbal peluntur diabetes di Facebook. Harganya mahal sekali, dan penjualnya menyuruh ibu saya menghentikan obat suntik insulin dari dokter puskesmas. Katanya obat kimia dokter itu racun. Sekarang kondisi ibu saya lemas sekali dan gulanya melonjak tinggi. Saya harus bagaimana?”

Pesan itu menjadi tamparan keras bagi Malik dan timnya. Ini bukan lagi sekadar angka statistik di layar gawai; ini adalah masalah hidup dan mati seseorang yang terdampak langsung oleh kejahatan informasi kesehatan digital.

Tanpa membuang waktu, Malik, Citra, dan Dimas langsung berkoordinasi dengan dosen pembimbing mereka di kampus dan pihak Puskesmas Karanganyar. Hari itu juga, mereka meluncur ke lokasi rumah Nisa menggunakan sepeda motor.

Setiba di sana, mereka mendapati Ibu Nisa terduduk lemas di ranjang dengan napas yang agak memburu—gejala awal ketoasidosis diabetikum akibat penghentian insulin secara mendadak. Dengan persetujuan keluarga, tim puskesmas segera mengevakuasi Ibu Nisa untuk mendapat penanganan medis darurat.

Sembari menunggu penanganan medis selesai, Malik dan tim menggunakan kesempatan itu untuk mengedukasi keluarga besar Nisa dan tetangga sekitar mengenai pentingnya literasi kesehatan digital. Di ruang tamu yang sederhana, Malik menunjukkan ponselnya.

”Bapak, Ibu, media sosial itu seperti pisau bermata dua,” ujar Malik dengan lembut. ”Siapa saja bisa membuat iklan dan mengaku sebagai tabib atau dokter. Obat herbal yang tidak memiliki izin BPOM sering kali dicampur dengan bahan kimia obat dosis tinggi secara ilegal. Menghentikan terapi medis utama seperti insulin demi obat yang tidak jelas sanad ilmiahnya sangatlah berbahaya.”

Citra kemudian mengajarkan mereka langkah mudah ”Saring sebelum Sharing” dan cara mengecek keaslian produk obat melalui aplikasi BPOM Mobile di ponsel mereka masing-masing. ”Kalau melihat video atau iklan kesehatan yang menjanjikan kesembuhan instan dalam tiga hari, atau menyuruh berhenti berobat ke dokter, itu sudah pasti seratus persen hoaks, Bu,” tambah Citra.

Peristiwa di Desa Karanganyar memicu lahirnya fase baru bagi gerakan "Sinyal Sehat". Malik menyadari bahwa kampanye digital tidak boleh menjadi menara gading yang terisolasi dari masyarakat akar rumput. Mereka harus menciptakan agen-agen literasi kesehatan di tingkat lokal.

Maka, berkolaborasi dengan Karang Taruna dan Dinas Kesehatan setempat, mereka meluncurkan program "Kader Digital Sehat". Mereka melatih remaja-remaja desa dan sekolah menengah untuk menjadi garda terdepan dalam menyaring informasi kesehatan di grup-grup WhatsApp keluarga, tempat di mana hoaks kesehatan paling subur berkembang.

”Kalian adalah imun bagi keluarga kalian sendiri,” kata Dimas di depan puluhan perwakilan remaja saat pelatihan di aula kecamatan. ”Tugas kalian mudah. Setiap kali ada paman, bibi, atau orang tua yang mengirimkan tautan berita tentang 'rebusan daun A bisa menyembuhkan kanker dalam semalam' atau 'vaksin mengandung chip', kalian bertugas meluruskan dengan sopan menggunakan infografis resmi yang kami sediakan setiap minggu.”

Edukasi kesehatan masyarakat yang mereka bangun kini tidak lagi searah. Ini telah menjelma menjadi sebuah gerakan organik yang masif. Remaja-remaja tersebut merasa bangga karena ponsel pintar mereka kini tidak hanya digunakan untuk bermain gim, tetapi menjadi alat perjuangan kemanusiaan untuk menyelamatkan kesehatan orang-orang tercinta.

Enam bulan berlalu sejak gerakan itu dimulai. Akun "Sinyal Sehat" kini telah bertransformasi menjadi salah satu platform rujukan edukasi kesehatan digital utama yang diakui oleh Kementerian Kesehatan. Namun bagi Malik, Citra, dan Dimas, penghargaan tertinggi bukanlah plakat atau jumlah pengikut yang menyentuh angka ratusan ribu.

Sore itu, di sudut kantin kampus yang sama, Malik menerima sebuah video singkat dari Nisa. Di dalam video tersebut, tampak Ibu Nisa yang sudah kembali bugar dan tersenyum cerah di depan kamera sembari menunjukkan botol obat diabetes resminya dari puskesmas.

”Kak Malik, Kak Citra, Kak Dimas, terima kasih ya. Sekarang Ibu sudah rutin kontrol ke puskesmas lagi. Dan tebak apa? Kemarin di grup WA keluarga besar kami, ada yang kirim hoaks tentang obat herbal abal-abal lagi. Langsung saya semprot pakai infografis dari Sinyal Sehat! Grup langsung hening, Kak!” tulis Nisa dalam pesan teks di bawah video tersebut.

Malik tersenyum puas, lalu memperlihatkan layar itu kepada Citra dan Dimas. Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi yang kerap membawa dampak buruk, mereka telah membuktikan bahwa generasi muda bukanlah objek pasif dari teknologi. Melalui kreativitas, idealisme, dan pemahaman ilmu kesehatan masyarakat yang tepat, jemari-jemari

muda itu mampu mengubah sinyal-sinyal digital di layar kaca menjadi secercah harapan kehidupan yang lebih sehat, nyata, dan berkelanjutan bagi bangsanya.


*)Al’madany adalah nama pena dari Muhammad Atik Ramdani, anak asuh sanggar Pawana Organisasi Ikhwanussubban Al-islamiyyin ISI PP Annuqayah Luabngsa.

Editor : Amin Basiri
sastra cerpen