Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mata Kala di Reruntuhan Menoreh

Amin Basiri • Minggu, 12 Juli 2026 | 09:45 WIB
Matakala di Reruntuhan Menoreh
Matakala di Reruntuhan Menoreh

Cerpen Ach. Jalaludin*


Orang-orang di lereng Menoreh percaya, tidak semua burung hantu diciptakan untuk berburu tikus. Ada satu yang lahir dengan topeng hitam sempurna di wajahnya. Mereka menyebutnya Kala, makhluk yang konon mampu mempertemukan manusia dengan Landaur, penunggu harta yang bersemayam di dasar Sumur Tanto.


MANUSIA selalu mengira malam adalah waktu yang sepi. Bagi saya, justru sebaliknya, dunia menjadi bising dan penuh warna. Dari tangkringan kayu di kamar penangkaran ini, saya mendengar desau angin menyisir daun jati di lereng Menoreh, juga detak halus laba-laba yang merajut jaring di sudut langit-langit.

Namun di antara semua suara malam, langkah kaki Njun adalah yang paling saya kenal.

Njun manusia yang baik. Tangannya yang kasar selalu bergerak lembut saat membersihkan bulu saya atau mengelus bagian belakang kepala saya yang sensitif.

Dulu, ketika sayap kiri saya patah menabrak kawat berduri di batas hutan, Njun yang menemukan dan merawat saya—membalut sayap dengan kayu kecil, membawakan tikus sawah segar setiap sore tanpa absen.

Di bawah asuhannya saya tumbuh menjadi Tyto alba yang gagah. Kerabat saya biasanya memiliki corak wajah berantakan, tetapi bulu di sekitar mata dan paruh saya membentuk lingkaran hitam sempurna, seperti topeng beludru legam di atas dada putih saya. Njun sering menatapnya lama, seolah topeng itu sebuah mahakarya.

Keunikan wajah saya rupanya juga memikat orang lain. Warga desa mulai berdatangan, berdiri di depan jendela besar, menunjuk-nunjuk dengan rasa ingin tahu yang berlebihan. Saya tidak suka tatapan manusia yang terlalu intens, itu selalu terasa seperti ancaman.

Di antara mereka ada seorang pemuda bernama Muhalis. Berbeda dari warga lain yang mengagumi saya dengan polos, matanya lapar dan penuh ambisi. Suatu sore saya mendengar bisikannya kepada seorang teman di luar jendela.

”Kau lihat topeng hitam di wajah burung itu? Itu bukan burung hantu biasa. Itu Kala. Kata orang tua dulu, burung bertopeng sempurna seperti itu adalah kunci bertemu Landaur di puncak Menoreh. Kalau kita pakai dia sebagai perantara, harta karun yang terkubur di dasar sumur Tanto akan kelihatan.”

Temannya ragu, menganggapnya gila, tapi Muhalis bersikeras. Dari balik jeruji, saya bisa merasakan rencana busuk yang sedang ia susun. Saya menjadi incaran, persis barang berharga yang siap dijarah.

Sialnya, manusia sering lengah justru ketika merasa paling aman. Malam itu, sepulang seharian membantu warga menanam cengkih, Njun begitu letih hingga lupa memeriksa selot jendela kayu di samping sangkar saya. Ia melempar makanan ke sangkar, lalu tertidur pulas dalam hitungan menit, dengkurannya terdengar sampai ke tempat saya.

Saya menatap jendela yang sedikit renggang itu. Langit bersih, bulan mati menyembunyikan cahayanya. Muncul hasrat liar di dada saya, bosan di dalam ruangan, ingin mengepakkan sayap dan berburu bebas tanpa sekat. Saya kira sedikit kebebasan akan menyenangkan.

Andai saya tahu apa yang mengintai di balik jendela renggang itu, saya pasti memilih mencakar pintu sangkar keras-keras agar Njun terbangun. Saya menyesal sempat meremehkan rasa aman yang ia berikan, sebab di luar sana Muhalis sudah menunggu dalam gelap, siap merenggut saya dengan cara paling kejam.

Keheningan malam itu pecah bukan oleh suara, melainkan bau minyak kelapa tengik bercampur kemenyan dan keringat dingin manusia ketakutan. Bukan bau Njun.

Sebelum saya sempat memekik peringatan, selot jendela berderit. Bayangan hitam menyelinap masuk, gerakannya terburu dan canggung. Mata malam saya menangkap wajah Muhalis yang tegang, matanya melebar dengan kepuasan yang nyaris gila.

Saya mengepakkan sayap, bersiap mencakar, tapi ia lebih cepat. Sehelai jaring nilon yang telah dilumuri minyak berbau menyengat dilemparkan ke tubuh saya. Bau tajam itu menyerang penciuman saya, membuat kepala pusing dan dunia berputar. Cakar saya kehilangan kekuatan mencengkeram tangkringan.

Saya mencoba memekik, tapi paruh dan kepala saya dibungkus kasar dengan kain hitam tebal. Napas saya tersumbat serat kain berdebu. Tubuh saya dimasukkan ke karung goni yang gelap gulita, lalu diangkut menjauh dari rumah Njun.

Di dalam karung, penglihatan saya—separuh nyawa seekor burung malam—lenyap total. Pendengaran mengambil alih, gesekan ranting jati di luar karung menandakan Muhalis telah mendaki jalan setapak terjal menuju puncak Menoreh. Udara merayap turun, dingin dan lembap khas dataran tinggi. Napas Muhalis kian berat, jantungnya berdebar cepat seperti tikus terkepung predator, terasa jelas lewat punggungnya yang menempel pada karung. Ia takut aksinya ketahuan Njun, dan lebih takut lagi pada kegelapan hutan yang ia daki sendirian di malam bulan mati.

Berkali-kali ia tersandung akar pohon, memaki pelan, lalu mengeratkan cengkeraman pada karung. Sayap kiri saya yang pernah patah berdentum ngilu tiap kali terguncang. Saya hanya bisa berharap Njun terbangun, mendapati sangkar kosong, lalu mengejar ke hutan. Namun perjalanan terus menanjak, menjauh dari kehangatan rumah yang damai.

Guncangan berhenti. Karung dibuka kasar, udara dingin pegunungan menusuk kulit saya. Ketika kain penutup kepala dilepas, saya berkedip menyesuaikan diri. Kami berada di puncak bukit, di tengah makam-makam tua yang terbengkalai, batu-batu berlumut berserakan seperti patahan tulang raksasa, dikepung akar beringin tua yang menjalar liar.

Muhalis tak membuang waktu. Dengan tangan gemetar ia menarik cakar saya keluar karung, mengikatnya kuat-kuat dengan tali ijuk pada bingkai sebuah cermin perunggu kusam di atas altar batu. Ikatan itu begitu erat hingga menghentikan aliran darah di kaki saya, memaksa saya menatap lurus ke cermin.

Ia melangkah mundur, melepas kausnya hingga bertelanjang dada, menyisakan jarik usang di pinggang. Bau minyak mistis kembali menguar saat ia mengolesi tubuhnya dengan minyak kelapa dan abu kemenyan. Sebatang lilin dinyalakan di depan altar, kobarannya menari ditiup angin, memantulkan bayangan yang bergoyang menyeramkan di sisi barisan makam.

Bagi mata malam saya yang peka, cahaya lilin yang bergoyang itu adalah siksaan, pupil saya melebar maksimal hingga pandangan perih. Muhalis duduk bersila di seberang altar, mencengkeram bulu leher saya agar kepala saya tak menoleh ke mana-mana.

”Tatap cerminnya, Kala... panggil dia,” bisiknya, parau dan bergetar.

Ritual dimulai. Ia memaksa saya menatap pantulan matanya sendiri di cermin buram itu sambil merapal mantra Madura kuno bernada rendah dan monoton. Tangannya di leher saya berkeringat dingin dan gemetar. Melalui getaran itu dan detak jantungnya yang berdentum seperti tifa, saya tahu Muhalis sedang didera ketakutan luar biasa.

Setiap kali angin mengguncang daun beringin, tubuhnya menegang. Ketika seekor musang melintas dan menjatuhkan buah liar dari dahan, ia tersentak, mengira itu Landaur, lalu merapal mantranya lebih cepat, matanya melotot penuh delusi, berharap udara di hadapannya terbelah dan keluar sosok Landaur.

Namun bagi saya yang terikat di sana, tak ada apa pun yang mistis. Angin tetaplah angin, musang tetaplah musang, malam tetaplah malam yang sunyi. Yang ada hanya seekor burung hantu tersiksa dan seorang manusia bodoh menyembah keserakahannya sendiri di atas altar batu yang mati.

Waktu merayap naik, kabut tebal turun menyelimuti reruntuhan. Lilin meleleh habis, menyisakan gelap yang kian pekat menjelang fajar. Tak satu pun batu bergeser. Tak ada cahaya gaib, tak ada emas, tak ada gerbang yang terbuka. Mitos yang dikejar Muhalis hanya bayangan kosong di kepalanya.

Napas Muhalis yang tadinya teratur berubah kasar dan berat. Tubuhnya menggigil dihantam angin malam. Getaran tangannya di leher saya berubah dari takut menjadi murka.

”Buka! Kenapa tidak terbuka?!” raungnya, memecah sunyi puncak bukit.

Ia berdiri gusar, menendang cermin perunggu hingga berdenting di lantai batu. Matanya yang merah menatap saya dengan kebencian, seolah kegagalan ini kesalahan saya. Ia mencengkeram paruh dan leher saya, menekan tenggorokan hingga saya megap-megap kehabisan napas. Saya kira, di tempat terkutuk inilah hidup saya akan berakhir.

Namun alam Menoreh belum mau melepas saya. Di tengah siksaan itu, pendengaran tajam saya menangkap suara asing bagi Muhalis, tapi berarti besar bagi saya.

Krosak! Krosak!

Bukan musang, bukan angin, melainkan ranting kering terinjak langkah tergesa. Berkas cahaya senter memotong kabut dari lereng bawah.

”Muhalis! Jangan bergerak!” Suara itu—Njun!

Ia tak sendiri, di belakangnya beberapa warga membawa senter dan bilah bambu.

Rupanya kelalaian Njun tak berlangsung lama—ia terbangun, mendapati jendela penangkarannya rusak, lalu melacak jejak bau minyak mistis Muhalis di sepanjang jalan setapak.

Melihat cahaya senter mendekat dan mendengar riuh suara warga, nyali Muhalis menciut.

Dengan pisau kecil ia memotong tali ijuk yang mengikat cakar saya, lalu melemparkan tubuh saya ke semak berduri di samping altar. 

Tanpa mempedulikan kaus atau cerminnya, ia berbalik dan berlari menyusup ke kegelapan hutan yang lebih dalam.

Saya terjatuh di antara ranting tajam, sayap terkulai, napas tersengal. Namun rasa sakit itu segera menguap ketika sepasang tangan yang saya kenal mengangkat tubuh saya dengan hati-hati.

Njun mendekap saya di dadanya yang hangat, memeriksa cakar saya yang lecet, mengelus lembut topeng hitam di wajah saya, membisikkan kata-kata penenang hingga jantung saya kembali normal.

Kini saya telah kembali ke penangkaran yang aman. Jendela kayu itu sudah dipasangi selot besi yang kokoh.

Saat malam turun dan saya berdiri tegak di tangkringan, saya menatap perbukitan Menoreh yang berdiri angkuh di kejauhan.

Saya tak lagi punya hasrat liar untuk terbang ke sana. Berdekatan dengan manusia seperti Muhalis membuat saya sadar satu hal: manusia adalah makhluk aneh.

Mereka diberkahi akal, tapi sering menjadi makhluk paling buta di muka bumi, lebih buta dari burung hantu di tengah terik siang. 

Mereka rela menyiksa alam, mencuri, mempertaruhkan nyawa demi mengejar ilusi kekayaan yang mereka ciptakan sendiri di kepala mereka. Bagi saya, kebahagiaan sejati hanyalah kesunyian malam yang damai, dan rasa aman dari tangan hangat seorang sahabat. (*)

*) Pengurus Perpustakaan Pondok Pesantren Banyuayar. Penulis kumpulan cerpen Lora Badrun dan Kang Didin (2023). 

Editor : Amin Basiri
#sastra #cerpen