Cerpen RIFA*
SORE itu ia datang dengan sepeda tua yang suaranya tidak enak didengar, memasuki pekarangan rumah dengan wajah masam. Kulitnya sawo matang, bau keringat menguar ketika berpapasan denganku. Aku melihat ceruk kekhawatiran di balik mata cokelatnya, seperti api yang merambat jauh di tengah ladang. Tetapi, aku tidak paham dengan ladang yang menampungnya sampai ia menikahiku. Mungkin karena ketidakpemahaman itulah, dia jarang bertukar cerita, tidak seperti pasangan suami-istri pada umumnya.
Namanya Kirman, pasangan yang dijodohkan bapak untukku. Dia adalah anak petani yang menjadi dewasa di ladang. Sejak kecil Kirman sudah terbiasa ke ladang, ia bisa menanam benih tanaman dengan lihai dan piawai. Saat dewasa, Kirman meminangku atas permintaan bapak, ia dengan mudah menerima permintaan bapak karena ia merasa perlu balas budi atas kebaikan bapak karena pernah membantu keluarganya dulu. Padahal, aku tahu sendiri ia tidak mencintaiku.
Awal-awal pernikahan, aku dan Kirman tidak pernah akur. Ia tidak betah di rumah dan selalu pergi ke ladang atau ngopi di warung dengan teman-temannya. Aku sebagai seorang istri tidak pernah berniat mendekatinya lebih dulu, itu sangat tidak etis. Hingga suatu sore Kirman mengajakku ke ladang. Aku berusaha menelanjangi setiap inci dari matanya. Namun, belum kutemukan jawabannya.
”Sumi, ladang ini warisan dari ibuku, ketika menggarap ladang ini aku seperti memeluk kenangan masa kecilku.”
”Sekarang aku paham, mengapa kau jarang sekali ada di rumah. Cintamu kepada ibu lebih besar.”
”Bisa dibilang begitu, tapi Sumi...sekarang aku berusaha menerima semuanya yang telah ditakdirkan untukku, termasuk kamu,” mataku mengerjap pelan berusaha menetralisasi perasaan. Kutemani prosesmu Kirman. Batinku.
***
Beberapa hari kemudian, Kirman kembali mengajakku ke ladang. Ladang mampu mengubah suamiku, Kirman, menjadi seseorang yang mampu kuberikan kepercayaan dan tanggung jawab yang besar. Aku tidak lagi menemukannya ingin menjauhiku seperti sedia kala.
Satu hal yang membuatku merasa istimewa berada di dekatnya, ia senang sekali tersenyum. Sorot matanya berbinar, seperti menggenggam cahaya kehidupan. Hal itu selalu membuatku betah menatap matanya.
***
Setiap Kirman pergi ke ladang, aku selalu melepasnya. Membawakan rantang berisi makanan. Pada suatu hari, saat aku melepasnya untuk pergi ke ladang, Kirman menceritakan mimpinya, bahwa ladangnya ditumbuhi tembakau. Daunnya hijau, aromanya memabukkan setiap orang yang menghirupnya dalam-dalam.
”Mungkin itu pertanda panen kali ini akan berhasil,” ucapku sambil mengelupasi kulit kacang tanah.
”Aku tidak terlalu percaya mimpi, Sumi, panen akan berhasil kalau kita merawatnya dengan piawai.”
”Lalu, bagaimana jika mimpimu benar-banar terjadi?” tanyaku.
Pertanyaanku lantas membuat Kirman memikirkan sesuatu yang tidak jelas kuketahui. Sorot matanya lagi-lagi membuatku tidak ingin lepas darinya. Namun, ia segera beranjak mengendarai sepeda tuanya menuju ladang. Sebelumnya ia menyuruhku membeli bibit-bibit tembakau dengan kualitas bagus, aku mengangguk pelan.
***
Sore harinya, Kirman pulang dengan tergesa-gesa menghampiriku yang tengah memasak di dapur. Kirman langsung memegang kedua bahuku. Napasnya naik turun, kemudian menangkup kedua pipiku.
”Bagaimana dengan tembakau yang kuminta tadi pagi?” tanyanya tergesa-gesa.
”Ada. Aku menyimpannya di bawah pohon mangga,” jawabku sambil menunjukkan jari ke letak tembakau. Ia langsung menghampirinya. Tetapi kali ini berbeda, ia berkacak pinggang dan terlihat menautkan alis.
”Kenapa? Apa ada yang salah?” Tanyaku takut-takut ia marah. Kirman diam tidak menjawab pertanyaanku. Kemudian ia memindahkan tembakau ke samping kamar mandi.
”Sumi, tembakau ini kecil-kecil, berapa kau beli ini?”
”Berapa ya? Kalau tidak salah 500 ribu itu pun masih ada sisanya. Tadi aku taruh di sela-sela pecimu. Kenapa? Tembakauya jelek, ya?”
”Ya, seperti itu, padahal dengan uang sebesar itu kau bisa dapat yang lebih bagus Sumi.”
”Aku tidak tahu, tapi itu yang ditawarkan oleh penjualnya, aku tanya ke bapak pun katanya tak masalah, itu sudah lumayan bagus dari yang lain,” jawabku membela diri.
”Rupanya aku salah minta tolong bantuanmu.”
”Kenapa kau sesensitif ini karena perihal tembakau?”
”Kau ingin panen kali ini berhasil, kan? Panen yang bagus karena bibit yang bagus juga, bukan bibit tembakau yang kau beli tadi.”
”Iya, bibit yang kubeli tadi seperti bibit yang tak pernah keluar dari rahimku, kan?” Serangku karena tidak terima dengan pernyataannya.
”Leh...Kenapa kau bicara seperti itu, Sumi?”
”Maaf, Kirman.” Ia berusaha menahan tanganku dengan sorot mata dingin.
Sikapnya kembali seperti dahulu, dingin. Entah karena ucapanku yang sensitif tadi membuatnya berubah. Aku kembali ke dapur melanjutkan kegiatan yang tertunda. Hari mulai gelap, aku memasak air untuk membuatkan Kirman secangkir kopi. Namun, dari tadi sore ia belum juga keluar dari kamar.
”Bangunlah! Mari makan, aku memasak lauk kesukaanmu,” aku coba membangunkannya setelah masuk ke kamar. Ia hanya menggeliat pelan, dan membuka mata perlahan.
”Sana duluan!” suruhnya. Aku kembali tidak mengerti dengan sikapnya. Kulihat sorot matanya lesu dan layu. Ia kembali menyampirkan selimut sampai ke ujung leher. Terpaksa malam ini aku makan sendiri. Pernikahan kami hampir memasuki umur tiga tahun, namun belum dikaruniai anak. Hal ini membuatku takut jika sewaktu-waktu Kirman meninggalkan aku karena belum memiliki anak. Meja makan cukup sepi, hanya dentingan sendok beradu dengan piring. ”Jika saja aku memiliki anak, suasananya tidak akan seperti ini, sepi.” Lamunku di tengah menyantap makanan.
***
Pagi buta-buta Kirman kembali ke ladang membawa semua tembakau dan akan menggarapnya seharian penuh. Ketika matahari mulai tinggi, aku pergi ke ladang berniat membantunya. Jalan setapak dipenuhi dengan ilalang dan dipenuhi tumbuhan berduri sehingga membuatku kesusahan berjalan ke ladang.
Baca Juga: Magari Tase’ Dhaja
”Ngapain ke sini? Tugasmu di rumah,” ucapnya pelan. Namun, mampu membuat hatiku tersengat.
”Aku hanya ingin membantumu, itu saja,” jawabku.
Setengah hari aku membantunya, namun ia jarang melontarkan beberapa kata untuk mencairkan suasana. Hari beranjak sore, burung perkutut bertengger di dahan pohon asam. Sepoi-sepoi angin menandakan hari akan mulai gelap. Aku perhatikan dari jauh, Kirman kelelahan. Ia menangkap aku memandanginya, aku tersenyum ia pun membalasnya. Senyum itu cukup membuatku ringan. Kami pulang bersama dengan sepeda tua yang kursinya tidak enak lagi diduduki.
Hari berjalan begitu cepat berganti bulan, tembakau-tembakau mulai besar dan berbunga, hampir panen. Namun, pada suatu sore Kirman pulang dengan wajah masam dengan sorot mata merah padam, entah karena marah atau lelah. Aku berusaha menyapa, namun dihadiahi dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. Keesokan harinya desas-desus tetangga terdengar ke telingaku, bahwa ladang tembakau milik Kirman mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Daun-daunnya layu diserang hama. Katanya ia langsung melakukan Rokat Pinteng* untuk mendoakan tanamannya yang diserang hama.
Aku cukup kaget dengan kabar yang berembus, apalagi aku tahu kabar itu dari mulut tetangga, bukan dari Kirman, suamiku. Aku semakin jengkel ketika ia tidak memberitahuku bahwa ketika rokat ia menggunakan kambing pemberiannya ketika meminangku. Semenjak pertengkaran itu kami memang semakin jarang bicara.
”Kupikir kau sudah terbuka padaku,” gumamku dengan tatapan sendu. Aku cukup tahu, jika penyebab dari kesedihannya adalah ladang tembakau yang gagal panen bukan karena ucapanku ketika pertengkaran bulan lalu. Ia tidak menginginkan itu, ia hanya ingin tembakaunya berhasil panen. (*)
Catatan:
*Rokat ini untuk mendoakan tanaman yang terkena hama, proses utama dalam ritual ini adalah penyembelihan kambing untuk disembelih dengan memisahkan telinga dan bibir untuk dijadikan persembahan. Yang disertai pembacaan surah Al-Fatihah, Yasin, tahlil, dan doa.
*)Pegiat literasi yang aktif menulis di FLP PP Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Perempuan kelahiran Pasean, Pamekasan.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti