Cerpen KHOYYIRNAH AR.*
LANGIT pagi menyiratkan sebuah kenangan, kenangan bahagia yang pernah tertulis di antara lembaran sejarah masa silam.
Akbar, lelaki 17 tahun duduk dengan senyum terukir hangat di wajahnya, memandang langit pesantren yang mulai sejak sekarang menjadi pemandangan yang akan selalu dipandang setiap saat. Setelah pemandangan wajibnya diam-diam mengintip dalem kiai, lebih tepatnya mengintip pintu keluar yang biasa dilalui keluarga besar Kiai Ramdhan karena, Aqiela juga termasuk di dalamnya.
Satu tahun berlalu, suasana pondok pun sedikit berubah, begitu pun kondisi Akbar bukan lagi menjadi santri baru Nurul Huda, agenda memandang langit hanya sesekali ia lakukan, bahkan mengintip pintu keluar dengan diam-diam nyaris tidak ia ingat karena pintu keluar sekarang telah berdampingan dengan pintu keluar Akbar dan teman-temannya. Yah, kurun waktu satu tahun melalui jiwa organisatorisnya berhasil membuat para senior melihat Akbar sehingga direkrut menjadi pengurus pesantren. Keluar masuk dalem sudah biasa bagi pengurus.
”Aqiela...” panggil Akbar. Sengaja tidak membubuhkan kata ”neng” di depannya karena Akbar bertujuan memanggil sekaligus ingin memberitahu bahwa dirinya berasal dari masa lalunya. Benar saja yang dipanggil lantas berhenti persis di ambang pintu masuk. Perlahan menoleh pada sumber suara.
Ternyata panggilan tak biasa mampu membuat Neng Aqiela menatap langsung mata lawan bicaranya dengan tajam yang sebelumnya belum pernah ia lakukan pada seorang lawan jenis lebih-lebih murid abahnya. Namun, bukan ekspresi marah yang Akbar temukan, melainkan pancaran teduh mata Aqiela yang tak berubah sedikit pun. Seperti 6 tahun silam.
Seketika bayangan Aqiela kecil berkelebat di matanya saat dua sosok anak kecil berumur 11 tahun saling menikmati linangan air mata di beranda rumah sederhana Aqiela.
”Kakak benelan akan pelgi...?” tanya Aqiela kecil dengan air mata yang mulai bercucuran.
”Iya, ... Aqiela jangan cengeng ya. Biar tidak ngerepotin Tante Vina.” seraya tersenyum berharap Aqiela juga ikut tersenyum. Tetapi, Aqiela tetap menangis.
”Sekolah Kak Akbal jauh ya...? Kakak pasti main sama Aqiela lagi, kan?” Aqiela tersenyum dipaksakan, mata mungilnya menatap mata Akbar tajam sebagai tanda bahwa dirinya masih mengharap Akbar kembali.
Spontan perempuan bercadar di depannya seperti biasa menundukkan pandangan, menyadari bahwa tidak sepantasnya ia lakukan pada selain mahram. Selama 5 tahun berada dalam keluarga darah biru, baru sekarang ia melanggar titah abah tirinya bahwa setiap putra dan putri (neng dan lora) dilarang bertatapan dengan selain mahram.
”Saya mohon agar Neng Aqiela tetap di situ..!” pinta Akbar setelah melihat reaksi lawan bicaranya akan beranjak.
”Maaf saya lancang ..!” Akbar menunduk menghargai sesosok perempuan di hadapannya yang masih dikatakan putri dari Kiai Ramdhan. Walaupun sebagai ayah tiri karena kabar yang Akbar terima sebelum memutuskan untuk masuk Pesantren Nurul Huda bahwa ayah Aqiela meninggal, satu tahun kemudian ibunya diperistri Kiai Ramdhan sehingga Aqiela juga ikut pindah dan ini menjadi alasan mengapa Akbar mengubur mimpinya untuk kuliah dan memutuskan masuk pesantren. Semua demi mengejar perempuan masa kecilnya, Aqiela.
”Apakah Neng Aqiela ingat Akbar?” dengan hati-hati Akbar mengeja setiap kata yang ia susun sedari tadi.
”Akbar..?”
Ragu antara melihat dan tetap menunduk akhirnya perlahan Akbar mendongak untuk melihat sebentar saja ekspresi Aqiela, ternyata sedari tadi Aqiela telah menatapnya. Kedua mata bertemu mengisyaratkan kerinduan yang telah lama terpendam di dasar hati yang paling dalam.
Tiba-tiba...
”Aqiela...” suara perempuan yang tak asing bagi keduanya memecah keheningan.
”Ia ibu..” jawab Aqiela seraya pergi.
Temaram senja sore itu seakan menjadi jejak langkah Akbar meninggalkan pesantren menuju rumahnya. Keputusan yang membuat Akbar terasa berat hati karena pesantren telah menjadi rumah kedua. Niat awal masuk penjara suci sedikit demi sedikit sudah mulai memudar karena tidak sepantasnya seorang mukmin menodai pekerjaan suci dengan niat awal yang tidak baik. Memang menjadi keharusan bagi pemuda yang ingin memperbaiki diri masuk pesantren tentunya hanya mengharap rida Allah SWT.
Hati yang patah ternyata tak sanggup untuk tetap menuruti niat baiknya untuk tetap bertahan. Pergi meninggalkan pesantren untuk sementara rupanya menjadi jalan terakhir bagi Akbar. Termenung memandang foto masa kecil memberikan kebahagiaan tersendiri sekali pun tokoh di dalamnya mustahil ia ajak memerankan skenario Tuhan yang belum tuntas.
Beberapa hari Neng Aqiela akan menikah dengan putra seorang kiai, kabarnya adalah mahasiswa Mesir jurusan tahfidz, yang tentunya lebih layak menjadi imam untuk Aqiela.
Walaupun begitu, aku belum siap kau menjadi milik orang lain, Aqiela...
”Akbar, Pak Kiai meminta ibu untuk mengembalikanmu ke pesantren. Jangan lupakan tanggung jawabmu sebagai pengurus. Belajarlah menjadi orang dewasa. Kembalilah..! Seakan semuanya baik-baik saja. Belajarlah membuka hati untuk orang lain.”
Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyadarkan Akbar. Jiwa kedewasaannya yang memaksa untuk membuang semua ego pribadi sehingga keesokan harinya ia memutuskan untuk kembali.
Akbar ternyata benar-benar mengikuti pesan ibunya. Menganggap semuanya baik-baik saja. Hanya menganggap, walau sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Sejak kedatangannya ke pondok, Akbar merasa ada yang aneh bukan karena ia gagal dalam mengaplikasikan jurus ”baik-baik saja”, melainkan karena memang keadaan pondok sekarang sedang tidak baik-baik saja. Semua teman-teman menatap dengan tatapan yang berbeda.
”Assalamualaikum, Akbar edikane kiai. Temui beliau di dalem..!” begitu kata Ramli, panglako dalem yang tiba-tiba masuk dan membuat seisi kamar menoleh memandang Akbar dengan berbagai macam ekspresi, mulai ekspresi senyum-senyum, cuek saja, bisik-bisik sampai dengan ekspresi yang tak terbaca.
”Iya, terima kasih ...” jawab Akbar.
Walaupun ia tahu, yang diajak bicara tidak mendengarnya karena secepat kilat berlalu. Tidak menunggu terlalu lama Akbar langsung menuju dalem menemui kiai di ruang tamu santri, begitu anak-anak biasa menyebutnya karena setiap santri yang edikane tanpa disebutkan tempatnya pasti santri tersebut menemui beliau di tempat itu.
Ada apa gerangan kiai memanggilnya? Akbar sudah pasrah jika kiai murka karena dirinya pulang tanpa pamit. Seperti biasa, setiap santri yang melakukan demikian akan mendapat wejangan sekaligus hukuman dari pesantren. Beberapa menit kemudian langkah Akbar terhenti ketika terdengar suara lemah menyebut nama ”Akbar” tepat di samping tempatnya berdiri. Berarti berasal dari kamar Aqiela.
”Akbar kemarilah...!” dengan langkah yang dibuat tenang Akbar masuk.
Astaghfirullah...ada apa dengan Aqiela. Kiai Ramdhan, ibu Nyai (tante Vina) mundur memberi Akbar tempat tepat di samping Aqiela berbaring.
”Akbar...” panggil Aqiela untuk yang kesekian kalinya masih dengan mata terpejam. Pandangan Akbar bergantian pada Kiai Ramdhan. Kemudian pada ibu nyai. Kiai Ramdhan pun memberi isyarat supaya Akbar menjawab panggilan Aqiela.
”Assalamualaikum, Neng Aqiela...”
”Aku tidak mau menikah, Akbar pasti kembali.” Seketika desir kebahagiaan terbit di hati Akbar. Senyum merekah membuatnya lupa akan kesedihan yang beberapa hari lalu berhasil menyita waktu dan pikirannya.
”Neng Aqiela, saya di sini..!”
Entah malaikat apa yang dengan sigap membangunkan seseorang yang tidak sadar karena hanya terdengar suara sehingga kini Aqiela pelan-pelan mulai membuka mata dan dilihatnya seseorang yang bertahun-tahun ia rindukan berdiri di hadapannya, rasa rindu yang mulai memuncak dengan hitungan detik mampu menjebol bendungan air mata.
Kiai Ramdhan yang telah mengetahui perasaan putri tirinya tidak ingin melanjutkan perjodohan sepihak tersebut. Lora pun mafhum dan mengikhlaskan Aqiela menjadi istri Akbar. (*)
*)Alumnus Nurul Islam dan Instika. Menetap di Tamidung, Batang-Batang, Sumenep
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti