Cerpen ZeN*
BAPAK Hardi melangkahkan kaki memasuki ruang kelas. Murid-murid yang semula berisik menjadi senyap. Tidak ada murid-murid yang berlarian atau tertidur. Semuanya duduk dengan tegap dan siap untuk menerima pelajaran. Kecuali satu orang murid pindahan. Yaitu Syaiful. Perawakannya tinggi besar, berkepala botak, muka garang lengkap dengan alis tebalnya. Ia sering berbuat onar dan terkenal tidak pernah menghormati para guru. Bahkan, kepala sekolah sekalipun. Akan tetapi, orang tua Syaiful merupakan salah satu penyumbang dana terbanyak di sekolahnya. Maka dari itu, Syaiful masih bertahan meski perilakunya sangat tidak pantas.
”Anak-anak, sudah mengerjakan PR yang kemarin Bapak berikan?” tanya Pak Hardi.
”Sudah!” jawab murid-murid dengan kompak.
”Belum, Pak!” jawab salah satu murid di keheningan.
Pak Hardi mengalihkan pandangannya ke arah bangku yang berada di paling ujung belakang.
”Kenapa belum, Syaiful?”
”Malas aja, Pak…” ucap Syaiful santai sambil menaikkan kedua kakinya di atas meja.
”Syaiful, turunkan kakimu,” ucap Pak Hardi tanpa menaikkan suara sedikit pun.
”Bapak berani nyuruh-nyuruh saya? Mentang-mentang bapak sudah tua, mau sok ngatur hidup saya, Bapak pikir Bapak siapa?” Syaiful beranjak dari kursi dan berjalan ke arah Pak Hardi dengan angkuhnya.
Suasana kelas semakin tidak nyaman. Kelakuan Syaiful membuat resah murid-murid lainnya tanpa ada yang berani menegur atau menghentikan tingkah murid garang tersebut.
”Bapak pikir saya bakal nurutin perintah Bapak? Nggak, Pak, gak bakal,” ucap Syaiful di depan wajah Pak Hardi.
”Bapak hanya kepengin kamu punya akhlak yang baik, Nak.”
”Halah!!” Syaiful membentak dan memotong ucapan Pak Hardi.
”Bapak gak usah sok baik di depan murid-murid yang lain! Saya bangga kok dengan akhlak buruk saya! Pasti Bapak cuma lagi cari muka aja, iya kan? Coba deh, Pak, gak usah sok ngatur gitu. Selama saya sekolah di sini, cuma Bapak aja yang berani ngatur-ngatur saya! Diem aja bisa gak sih?!” lanjut Syaiful sambil meninggikan suara.
”Bapak ha...”
Bugh!
Syaiful melayangkan sebuah pukulan dan menghantam Pak Hardi hingga membuatnya jatuh ke lantai. Sudut bibirnya berdarah. Murid-murid lain berusaha menjauhkan Syaiful dari guru yang sudah berumur 60 tahun itu. Syaiful memberontak hendak melanjutkan serangan. Sedangkan Pak Hardi hanya terdiam pasrah.
”Bapak tolol banget sih! Gak usah sok ngasih ceramah keagamaan, anjing!!” Syaiful meluapkan seluruh emosinya.
Mendengar suara kegaduhan dari kelas XII IPS, guru-guru yang sedang mengajar di kelas sebelah datang menghampiri. Mereka terkejut melihat keadaan kelas tersebut. Pak Hardi yang terluka dan Syaiful yang memberontak murka. Guru-guru itu segera membawa Pak Hardi ke UKS.
***
Syaiful menjadi buah bibir seluruh murid dan guru-guru di sekolah. Pasalnya, usai kejadian tersebut Pak Hardi dan Syaiful tidak terlihat batang hidungnya di lingkungan sekolah. Satu minggu mereka absen dari pandangan warga SMA Pahlawan. Kata kepala sekolah, Pak Hardi masih memulihkan dirinya. Sebab, kejadian yang menimpanya itu menyebabkan pria berambut putih tersebut mengalami syok berat dan trauma.
Sedangkan Syaiful, jatuh sakit keesokan harinya setelah ia menonjok Pak Hardi. Desas-desus yang beredar di kalangan para murid menduga bahwa Syaiful mendapat karma atas apa yang dia lakukan. Pasalnya, Pak Hardi merupakan satu-satunya guru yang tidak pernah marah atau pun menghukum muridnya ketika salah. Dia hanya menasihati agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Menurut kepercayaan orang-orang, kebaikan dan kesabaran Pak Hardilah yang menyebabkan Syaiful jatuh sakit.
***
Di sebuah kamar yang bernuansa Eropa, Syaiful mengerang kesakitan di sekujur tubuhnya. Obat dari dokter tidak menyembuhkannya.
”Nak, ayo kita pergi ke rumah Pak Hardi. Bapak takut penyakitmu ini adalah karena menonjok beliau,” ajak ayahnya.
”Lagian, jadi orang kok kayak gini? Kamu itu diajari untuk jadi orang yang berbakti! Apalagi sama orang tua! Pak Hardi itu orang tuamu di sekolah! Udah gak mengharumkan nama keluarga, malah menjelekkan reputasi keluarga ini!” ucap Ibu Syaiful, meluapkan emosi gara-gara kelakuan tidak pantas anaknya.
”Udah, Ma, Syaiful lagi sakit. Jangan dimarahi terus. Sekarang kita berangkat ke rumah Pak Hardi, minta maaf,” ucap ayah Syaiful.
Tanpa basa-basi lagi, mereka langsung bersiap berangkat ke rumah Pak Hardi untuk memohonkan maaf.
***
”Sekali lagi, mohon maafkan putra kami. Dia sudah berbuat kurang ajar kepada Bapak. Saya jamin hal serupa tidak akan terjadi lagi,” ucap ayah Syaiful.
”Saya minta maaf, Pak, saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Saya janji,” ucap Syaiful sambil menahan rasa sakit. Dia sungguh menyesal.
”Sudah, tidak apa-apa. Toh Syaiful sudah bertobat,” jawab Pak Hardi ramah. Senyuman terukir di wajahnya.
Usai menuntaskan kepentingan, Syaiful dan keluarganya pulang dengan perasaan lega karena kesalahan Syaiful telah dimaafkan oleh Pak Hardi. Mereka berharap agar anak semata wayangnya itu segera sembuh dari penyakitnya. Sedangkan Pak Hardi tersenyum lega dengan pengakuan Syaiful yang mengatakan bahwa dia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Pria berambut putih itu melangkahkan kaki menuju sebuah ruangan yang berada di pojok belakang rumah dan mencabut paku-paku yang tertancap di sebuah boneka jerami dengan foto Syaiful di atasnya.
”Semoga dengan begini kamu bisa berjalan di jalan yang benar, Nak Syaiful.” (*)
*)Zakiyya El-Nufus, santri Annuqayah Latee II asal Jember. Anggota FLP dan pencinta Anime
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti