Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Doa Sebutir Debu dalam Kitab yang Usang

Ina Herdiyana • Minggu, 17 November 2024 | 23:18 WIB
Photo
Photo

Cerpen AHMAD MUNDZIR AR.

RAMBUTNYA dikuncir kuda, sepatu ramping beserta jas hitam membuatnya terlihat sangat gagah dan tegas. Dengan anggun kakinya melangkah keluar dari mobil memasuki gerbang yang megah itu. Dua pengawal di belakang mengiringinya dan siap kapan saja menghabisi siapa pun jika tuannya itu terancam bahaya. Angin berembus di terik yang panas lantas membuat rambutnya berkibar-kibar.

Dia adalah H Masruki SP, pemilik perusahaan tembakau terbesar di Madura. Rumahnya bak istana dengan pilar-pilar yang megah. Konon hartanya bisa menanggung kehidupan orang Madura selama setahun. Namun nahas, harinya hanya ia habiskan untuk mengurus pabrik miliknya, hingga keluarganya ia telantarkan kasih sayang. Tak pernah lagi ia gendong anaknya ke taman dan berbaur menemani mereka dengan gelak tawa atau menggandeng tangan istrinya lantas mengajaknya bercinta.

Tepat di salah satu sisi kecil istana Masruki terdapat sepetak ruang yang cukup pantas dibilang musala. Sajadah dan tasbih bergelantungan serta beberapa Al-Qur’an berjejer rapi, tak pernah lagi ada yang menyentuhnya. Tempat yang sunyi dengan lampu bohlam berwarna putih kekuning-kuningan. Sudah lama tak ada yang menjamah tempat itu. Sejak istana itu dibangun, mereka seakan enggan menapakkan kakinya. Beberapa laba-laba juga menetap di tempat itu dengan sarang yang sudah membentang di mana-mana.

Malam yang gemilang berhias bintang menaungi tempat keluarga Masruki tinggal. Seperti malam yang biasa, Masruki masih sibuk bergelut dengan pabriknya. Barangkali ia memang hanya hidup untuk bekerja, bukannya bekerja untuk hidup. Atau ia lupa bahwa keluarganya juga butuh kehangatan dari sang ayah, malahan ia hanya memberi perhatian pada bisnisnya.

***

Bunyi TOA masjid menggema di pelosok desa, menyuarakan pemenang dari lomba mengaji yang rutin diadakan satu-satunya masjid kecil di desa itu.

”Selamat dan berbahagialah kepada anak yang bernama…..,”

Takmir masjid itu berhenti sejenak yang membuat jantung anak-anak serta orang tua yang mendampinginya berdetak kencang karena memang nama keluarga dari anak yang menang akan harum namanya di desa itu. Jadi, tak heran jika para orang tua berbondong-bondong mengikutsertakan buah hatinya. Tak lama berselang, takmir itu mengangkat mikrofonnya lagi. Matanya menatap kertas yang bertulis nama para pemenang.

”Pemenang lomba membaca Al-Qur’an adalah……, berbahagialah kepada anak yang bernama Masruki, anak dari Bapak Sumarwi dan Ibu Niamah.”

Sontak satu ruangan masjid menjadi gaduh-riuh bertepuk tangan. Tak tertinggal, Masruki dan kedua orang tuanya mengalirkan tetesan air mata. Kebahagiaan tak lagi terbendung di wajah mereka bertiga. Masruki dengan bahagia maju untuk menerima Al-Qur’an yang diberikan langsung oleh sesepuh di desa itu. Dengan didampingi kedua orang tua di sisinya, Masruki tampak bahagia sambil membiarkan kamera mengabadikannya.

Malam yang dingin, angin menganggukkan pepohonan di sekitar rumah Masruki. Rumahnya yang berdinding tabing membuat apa pun yang ia kerjakan di dalam kamarnya sedikit kelihatan dari luar. Masruki kini sedang menimang-nimang Al-Qur’an di kamar kecilnya. Ia terbaring masih bersama baju koko di tubuhnya, karena memang ia baru saja selesai dari pengajian dan langsung menuju kamar untuk mengabadikan Al-Qur’an kebanggaannya. Al-Qur’an yang tampak indah berwarna kuning mengkilap lantaran terkena terpaan damar conglet yang bertengger di atas meja belajarnya. Masruki tak henti-hentinya menimang, mencium hingga ia puas, lantas tertidur bersama Al-Qur’an di pelukannya.

Pada salah satu malam yang damai, hanya terdengar bunyi jangkrik yang senantiasa menemani salat malam Masruki. Ia mengangkat kedua tangannya seraya kepalanya sedikit mendongak ke atas.

”Ya Tuhan tolong berilah keluargaku nanti kecukupan, berilah aku pekerjaan yang mencukupi kebutuhan anak-anak serta istriku.”

Namun, karena malam terlalu senyap, ibu Masruki mengintip anaknya penasaran. Ia bersandar di tabing kamar Masruki sambil sedikit memperhatikan doa anaknya. Pelan-pelan ia meneteskan air mata, seolah ia tak sanggup mencukupi apa yang anaknya inginkan. Berselang Masruki menutup doanya, ibunya pun menjauh sambil ia usap sisa-sisa air matanya. Sejenak dari doanya, Masruki beranjak tidur setelah melipat sejadahnya dengan rapi dan meletakkannya di dalam lemari. Ia pejam sambil memikirkan doanya tadi yang tanpa ia sadari ibunya mendengar dari balik tabing yang tipis.

Sinar mentari memaksa masuk melewati celah-celah pohon yang rindang hingga berakhir di muka Masruki, lantas membuat matanya melek. Pelan-pelan raut wajahnya dibuat segar, lantas di depannya terpajang benda yang sangat ia cintai. Sudah tiga tahun ia menemani hidup Masruki, hingga kini ia sudah sedikit kusut karena setiap waktu selalu Masruki baca.

Masruki masih setia dengan Al-Qur’an kuningnya karena itu adalah sesuatu yang ia dapat atas kerja kerasnya sendiri, katanya. Karena cintanya itu pula hingga membuatnya bisa kuliah di tempat yang lumayan ternama.

”Mungkin ini adalah salah satu cara Tuhan mengabulkan doaku,” pikirnya dengan raut muka semringah.

Kini ia berdiri di depan rumah tabing-nya seolah tengah memikirkan masa depannya yang terang. Namun tak lupa ia juga mengingat kenangan masa kecilnya ketika bermain lumpur sehabis sekolah bersama teman-temannya. Burung-burung berkicau mendukung suasana pagi Masruki yang segar.

***

Hujan berintik deras di atas genting istana Masruki. Malam gulita diiringi angin yang ganas, hingga membuat anak-anak serta istri Masruki hanya termenung di kediamannya menunggu pulangnya Masruki yang entah kapan. Para pembantu serta beberapa pengawal masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing, entah memotong bawang, mengejar kucing yang meluluhlantakkan seisi dapur. Ada pula yang berjaga di sekeliling istana itu seraya bersiap menyambut kedatangan tuannya.

Sedang dalam sepetak musala itu berhamburan sajadah yang tersingkap ke sana-kemari. Al-Qur’an berjatuhan dari jejerannya, terembus jatuh lantaran lebatnya hujan beserta angin yang menerobos masuk melalui jendela kecil yang terbuka. Termasuk Al-Qur’an kuning yang sudah terkelupas satu per satu terbuka, menampakkan isinya yang sudah kecokelatan termakan waktu. Sehingga terlihat pula beberapa debu berhamburan, bergesekan satu sama lain. Debu yang malang, setelah sekian lama tersekap di sela-sela kertas Al-Qur’an, kini ia terhambur beterbangan ke segala arah hingga akhirnya menghinggapi lantai musala dan menyatu dengan debu yang lain. Seraya angin mengamuk, seakan kumpulan debu itu tengah mendesiskan doa, ia mengeluh tentang dirinya dan Al-Qur’an yang sudah lama menyekap dalam lembaran-lembarannya. Tak ada yang meniupnya dalam kitab suci tersebut, ia juga menjadi saksi terbengkalainya sebuah Al-Qur’an yang seharusnya dilantunkan dengan nada yang indah di setiap waktu, malahan hanya berdiam tak ada yang hendak mengusik. Kini ia ikut terhambur ke sana-kemari hingga terhampar di lantai yang kotor. Tubuhnya tercerai-berai di mana-mana. Kulit kuningnya yang sedikit terkelupas itu terbagi dua, membuatnya kini terlihat sebagai kertas tua yang terbengkalai sebatang kara.

***

Meja panjang itu menadah muka Masruki di atasnya. Ia terlelap seusai pertemuan rapat bersama rekan bisnisnya. Jarum jam berdetak menunjuk waktu sudah larut. Sudah dua jam ia tertidur di atas mejanya berbantal tangannya sendiri, hingga bau tak enak membuatnya harus mengangkis wajahnya yang tertuntung di atas meja. Terdengar beberapa sirene simpang siur di bawah sana, serta beberapa sorakan yang sedikit terdengar samar memanggil namanya. Lantas Masruki beranjak, berjalan sedikit pincang memastikan melalui jendela yang terbuka. Terlihat kobaran api mengamuk, menciptakan asap hitam tebal yang mengepul-menjuntai meraih langit malam yang indah. (*)

*)Pustakawan Lubangsa dan siswa aktif SMA Annuqayah

Editor : Ina Herdiyana
#al-quran #kitab yang usang #doa #cerpen #sajadah