Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pertemuan dengan Gadis Puisi

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 23 Juni 2024 | 13:35 WIB
Ilustrasi cerpen Pertemuan dengan Gadis Puisi. (RISKY/JPRM)
Ilustrasi cerpen Pertemuan dengan Gadis Puisi. (RISKY/JPRM)

Cerpen MUHTADI ZL

 

DI ruangan pengap, kau menatapnya dengan lahap. Sedikit pun tak kau gubris bau peluh yang berseliweran menggerogoti hidungmu. Meski ruangan yang kau tempati berasa rumah kaca di bawah sengatan tajam sinar matahari, tatapanmu tak juga goyah pada gadis kerudung krem di depan sana. Di ceruk dada paling dalam, kau ingin mengenal gadis itu, tapi nahas, rasa getir dan ragu lebih menguasai tubuhmu. Sampai-sampai, kau hanya bisa menatap lamat tanpa sekat.

Posisimu yang menghadap selatan mendengarkan pembicara kepemiluan, sengaja kau paksa fokus dan khusyuk mendengarkan dengan saksama. Berbagai kalimat dan bising orang-orang yang sibuk berbicara sendiri, belum lagi gema sound system ruangan, amat sungguh mengganggu konsentrasimu. Tetapi, apalah daya tatkala pandanganmu jatuh pada gadis di depanmu yang notabene lebih membuatmu terpikat untuk lamat dan khusyuk menatap setiap gerak-geriknya. Sedikitpun tak ingin kau lewatkan. Pada akhirnya—entah menit ke berapa—gadis itu berdiri dan melewati dirimu. Aroma tubuh yang bercampur aduk menjadi satu di ruangan pengap itu, tak mampu membohongi penciuman pada aroma khas tubuh gadis bersenyum pelangi itu.

Sedikit lama kau menunggu kedatangannya, selama itu pula kau menatap kursi biru kosong, tempat gadis itu duduk. Di pikiranmu, tiada lain selain siapa gerangan nama gadis itu? Andai kau punya keberanian kuat untuk berjabat tangan, lalu menanyakan namanya, mungkin, di saat itu pula, kau sudah menemukan puisi nyata yang sudah saban lalu kau cari. Sebab, semenjak kau memutuskan untuk tidak lagi menetap di penjara suci bernama pesantren, puisimu sudah tak lagi menemukan roh. Puisi-puisimu serasa mati rasa, ia enggan merangkai kata puitis. Dalam kondisi itu, kau amat bingung tidak tahu harus berbuat apa, hingga pada akhirnya, setelah kau tiada henti saban malam merenung, kau menemukan apa yang sebenarnya puisimu cari. Ya, ia hanya ingin mencintai-dicintai perempuan.

Kau yang berbaju putih berkerah, di balut rompi krem dan topi bertuliskan Bawaslu, duduk termenung dengan segala rasa cemas, sebab gadis yang sudah diimpikan puisimu tidak kunjung datang di tempat awal kau menemukannya. Pertanyaan-pertanyaan aneh bermunculan di kepalamu. Akan tetapi, kau cepat mengambil sikap tegas pada pikiranmu. Gadis itu tidak ke mana-mana kecuali hanya ke kamar mandi, membasuh gerah dengan air untuk kemudian diteduhkan dengan desir angin.

”Siapa yang kau lihat, Bung?” Seseorang yang kau kenal di sampingmu, menepuk pundakmu sambil lalu melontarkan pertanyaan.

Spontan kau terkejut dengan tangan yang mendarat di bahumu. Tepukan tangan itu membuyarkan anganmu perihal gadis tersebut. Mungkin orang di sampingmu heran bukan main karena kau tercengang seorang diri. Seolah kau tidak mampu menahan tanya yang bermunculan di kepalamu perihal gadis itu.

”Tidak ada. Hanya saja, aku heran ke mana gadis yang duduk di kursi itu,” kau menunjuk kursi yang sedari tadi hanya diduduki angin dan pengap ruangan.

Terpaksa kau jujur pada temanmu, kau tidak tahu harus menjawab apa, di saat wajah yang penuh tanya terukir jelas. Termasuk, kau juga tidak bisa terlalu lama tak melihat gadis yang sedari awal kau temukan dan langsung memilih diam di dada kiri seorang diri.

”Iya, ke mana, yaaa? Kulihat tadi ke belakang. Kenapa?” Setelah selesai menoleh ke belakang, seseorang di sampingmu bertanya dengan pertanyaan yang kau sendiri tidak tahu harus menjawab apa.

Sekarang lengkap sudah di kepalamu dengan pertanyaan-pertanyaan ganjil. Sesuatu di luar dirimu, tetapi hampir nyaris menguasai isi kepalamu. Sedari tadi kau tak kunjung selesai—yang belum juga kelar bermunculan di kepalamu—memikirkan ke mana gerangan gadis yang mampu membuatmu terpikat. Terus, seseorang di sampingmu juga bertanya sesuatu yang amat sangat mengganjil di tempurung kepalamu. Kau sangat bingung perihal pertanyaan seseorang di sampingmu harus dijawab dengan apa. Terus terang? Tentu tidak, kau tidak mudah membicarakan sesuatu yang mampu membuatmu terpikat diceritakan kepada orang yang juga baru kau kenal.

Terpaksa kau memilih berbohong agar orang di sampingmu tidak tahu apa yang sedari tadi kau cemaskan. Kau tidak ingin melibatkan siapa saja dalam kasusmu, kecuali dirimu seorang, termasuk gadis itu juga tidak boleh tahu perihal getar hebat di dadamu.

Semakin lama, cemas di dadamu semakin menggiras. Bingung semakin menjadi-jadi dalam tempurung kepalamu. Kau berasa kehabisan cara untuk menemukan gadis itu duduk di tempatnya semula. Kau semakin dirundung panik. Pening tiba-tiba sekali menghampiri, sampai-sampai kau lupa bahwa kau datang—ke tempat yang pengap itu—untuk mendengarkan orang yang ahli dalam kepemiluan menjelaskan apa saja yang diharus dilakukan oleh penyelenggara. Tentu, kau tidak boleh lupa tujuan awal kau ke tempat ini. Akan tetapi, entah sebab apa, tujuan awalmu ke tempat ini juga ikut buyar tatkala kau kehilangan gadis itu di retinamu.

Tak ada alasan kuat untuk keluar ruangan, meski kau juga beralasan keluar ruangan. Apakah kau juga akan dengan sangat teliti mencari untuk menemukan gadis itu? Barangkali tidak, dan itu memang mungkin, kau tidak akan mencari gadis itu dengan teliti atau bahkan sampai menemukan wajah purnama itu. Sebab, kau tidak tahu siapa nama gadis itu. Kau juga terlalu ragu dan malu untuk sekadar bertanya dari mana gerangan tempat dia menetap? Tentu kau tidak akan berani untuk melakukan interaksi langsung dengan gadis itu. Dan, mungkin itu salahmu.

”Sudah tidak apa-apa, hiraukan saja, toh siapa dia, kan?” ujarmu singkat.

Dalam kepala, kau tidak ingin berkata demikian kepada orang di sampingmu. Tetapi, kau juga tidak bisa blak-blakkan mengutarakan cemas yang ranggas di dadamu pada orang di sampingmu. Bahkan, sialnya, kau justru berkata demikian. Kau berbohong pada dirimu dan orang di sampingmu itu tak terhitung berapa kali.

Perlahan, pening di kepala semakin menggerogoti, sampai-sampai, tanpa sengaja, tangan kananmu spontan memijit jidatmu. Menekannya dengan pelan-pelan, sambil sesekali memicingkan mata, sesuatu yang sakit tiba-tiba kau rasa. Kau tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menutupi musibah yang sedang menimpamu. Dan…, kau kelimpungan untuk menyelesaikan seorang diri.

Orang di sampingmu menepuk bahu untuk yang kedua kalinya, sambil berujar, ”Itu gadis yang duduk di depan tadi?” dengan diikuti tangan kanan mengarah pada gadis yang duduk di pojok barat daya ruangan.

Seketika kau langsung mengikuti arah tangan kanan orang di sampingmu. Dan…, entahlah, sesuatu yang membuatmu khawatir, pergi entah ke mana. Pening di batok kepalamu sudah tidak lagi terasa. Tanganmu yang sedari tadi memijit kepalamu, kini mulai beralih pada dada bagian kiri. Mengelusnya pelan-pelan, sambil sesekali menarik napas yang sedari tadi tak beraturan. Senang sangat tiba-tiba kau rasa, dan tiada lagi cemas yang meremas dadamu.

Untuk yang kedua kali, kau sangat takjub melihat gadis yang kau cemaskan kondisinya sedari tadi, sejak ia tidak lagi di tempat duduk asal. Sedikit tidak berbunga perlahan muncul di hatimu. Benar, ia tidak duduk di tempat awal, dan itu yang membuatmu susah untuk menatap lamat tanpa jeda. Sebab, sesekali kau harus menoleh ke belakang untuk melihat purna rupa gadis itu. Bagaimana tidak, dia yang nyaris beberapa menit entah ke mana, tiba-tiba saja muncul di belakangmu. Menoleh itulah yang membuatmu tidak purna melihat gadis itu. Sebab, sedikit-sedikit kau harus fokus ke depan, sebentar-sebentar kau perlu melirik gadis itu. Dan, itu yang membuatmu tidak enak pada orang lain; sibuk sendiri.

Di saat kau sedang fokus-fokusnya mendengarkan pembicara di depan, hidungmu tiba-tiba mencium aroma tubuh yang sedari tadi kau rindu. Benar, itu adalah aroma tubuh yang melekat pada gadis itu. Sontak kau menoleh ke utara. Dan, benar saja, gadis itu sudah duduk di dekatmu. Pasnya, satu saf di belakangmu agak sedikit ke utara. Kau mencoba memberanikan diri untuk bertanya dari mana gadis itu berasal.

”Suren,” jawabnya ketus.

”Itu tadi PKD-mu?” aku mencoba bertanya, mencairkan suasana.

”Iya,”

”Dia tidak pas jadi PKD, pasnya jadi komika.” Aku mencoba memasang senyum dan tawa sambil memalingkan wajah.

”Mungkin.”

Sungguh, kau dibuat penasaran dengan gadis yang sedari tadi kau tunggu dan harap, belum lagi dengan cara gadis itu menjawab dan merespons lelaki, sepertimu, misal, menambah keyakinan pada gadis itu. Sedikit kau menyimpulkan perangai dari gadis itu; tidak murahan. Artinya, kau harus berusaha ekstra untuk mendapatkan hati gadis itu. Mungkin tidak akan mudah, akan tetapi tidak salah jika kau tetap mengusahakan diri untuk meyakinkan gadis itu supaya yakin pula kalau kau tidak sedikit pun ada keraguan untuk menyatakan keseriusan.

Diam-diam kau menulis puisi untuk gadis yang sudah kadung menjadi roh atas puisimu. Puisimu diam-diam menggerakkan tangan untuk mengambil pulpen dan meletakkan di atas map. Dan, puisimu merasuk dalam setiap angan perihal gadis itu. Sekian menit habis untuk berangan, sampai pada akhirnya kau mampu menyelesaikan puisimu. Dan, kau menunjukkan pada gadis itu. Dan…, kau tidak tahu harus merespons apa di saat gadis itu tersenyum sambil berkata.

”Keren.”

Ledokombo, 10/05/2024/13.35/WIB

 

*)Penulis kelahiran Sukogidri, Ledokombo, Jember. Sedang menempuh pendidikan di Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#terpikat #puisi #penasaran #menulis #aroma tubuh #Aroma Khas #kursi biru #gadis #kepemiluan