Cerpen ACH. ROFIQ*
HARI sudah sore, Putri Pidok hendak berangkat ke Istana Es Krim. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan dua temannya yang pastinya memiliki tujuan yang sama.
”Aku sudah tidak sabar melahap es krim,” ucap Putri Pidok pada temannya.
”Katanya, hari ini ada es krim super lezat,” sahut Jannah, temannya.
”Nyam. Yuk, buruan! Aku sudah tidak sabar,” ajak Siti.
”Yey, makan es krim lagi.”
Tetiba, Putri Pidok menghentikan langkahnya, ia merasa tidak nyaman dengan bau menyengat dari tumpukan sampah di sampingnya.
”Kok berhenti? Ayo buruan, Pangeran Es Krim keburu pulang,” protes Jannah.
Putri Pidok mengangguk. Sejenak, lalu Jannah menarik tangan Putri Pidok. Mereka pun kembali bergegas.
Begitulah anak-anak di desa itu setiap sore. Sejak beberapa hari lalu, desa itu sering dikunjungi seorang pangeran muda yang amat disayangi oleh anak-anak, yaitu Pangeran Es Krim.
Setiap senja, Pangeran Es Krim turun dari langit dengan membawa peti raksasa yang dipenuhi dengan es krim lezat yang dibungkus indah dengan plastik berwarna-warni. Diberikannya es krim itu kepada anak-anak secara cuma-cuma.
Saat tiba di Istana Es Krim, ternyata di sana sudah banyak anak-anak melahap es krim, menikmati dengan sangat gembira. Di tengah-tengah mereka, tampak Pangeran Es Krim sedang sibuk memberikan es krim kepada anak-anak satu per satu.
”Pangeran Es Krim baik banget, setiap hari memberi kita es krim yang super lezat ini,” seru salah satu anak.
Mendengarnya, Putri Pidok dan kedua temannya merasa tergiur, ia langsung bergegas menghampiri Pangeran Es Krim. Tak perlu menunggu lama, akhirnya Putri Pidok dan kedua temannya kebagian es krim.
”Terima kasih, ya, Pangeran Es Krim yang baik,” ucap Putri Pidok sambil menerima es krim berwarna pelangi.
”Sama-sama, Gadis Cantik!” balas Pangeran Es Krim sambil mencubit pipi Putri Pidok, tepat di bawah tahi lalat manisnya, di sebelah kiri.
Tak lama setelah itu, Pangeran Es Krim pun kembali ke langit.
Setelah makan es krim, anak-anak membuang bungkus es krim itu lalu bergegas pulang. Putri Pidok tidak senang melihatnya. Pemandangan seperti itu ia lihat setiap hari, seusai makan es krim.
”Kata ibu, kalau banyak sampah, tidak baik,” kata Putri Pidok pada kedua temannya.
”Aku tidak peduli, yang penting kita makan es krim tiap hari, yey...,” balas Jannah sambil melompat kegirangan.
Mendengar jawaban itu, Putri Pidok terdiam. Tak lama setelahnya, mereka bergegas pulang.
Di malam harinya, Putri Pidok termenung di depan teras rumahnya. Ia cemas, takut-takut, bungkus es krim akan semakin banyak sehingga membuat desanya menjadi tercemar. Putri Pidok memang berpikir terlalu jauh, tapi, begitulah karakter Putri Pidok yang ditanamkan almarhum ibunya sejak kecil.
Keesokan harinya, Putri Pidok menyampaikan apa yang ia risaukan kepada anak-anak yang lain. Namun, ia tak didengarkan, malah dianggap tidak waras.
Akhirnya, dengan berani, Putri Pidok mengatakan hal itu kepada Pangeran Es Krim.
”Wahai Pangeran Es krim yang baik hati, aku melihat bungkusan es krim itu berserakan dan dikerubungi banyak lalat. Apakah Pangeran Es Krim bisa memberikan es krim itu tanpa bungkusan plastik?” pinta Putri Pidok.
Yang lain melongo.
Pangeran Es Krim tertawa.
”Nak, Nak! Alangkah baiknya kamu tidak usah memikirkan hal yang tidak berguna itu, yang terpenting kalian bisa menikmati es krim yang lezat setiap hari. Hahahaha. Akulah Pangeran Es Krim yang baik hati,” seru Pangeran Es Krim lalu tertawa seperti raja.
”Betul sekali,” sambut anak anak.
”Tidak usah aneh-aneh, jangan mengganggu kenyamanan kita. Iya, kan, Teman-teman?” sergah yang lainnya.
”Betul....”
”Huuuu. Pulang kamu sana.”
Putri Pidok sakit hati dengan kenyataan itu.
Malam harinya, Putri Pidok kembali termenung, memikirkan bagaimana caranya agar desanya bisa terselamatkan dari sampah.
Tak lama kemudian, terbesit di benak Putri Pidok untuk memungut sampah-sampah itu lalu mengumpulkannya di belakang rumahnya. Ia memiliki rencana besar.
Keesokan harinya, saat senja, ia mulai mengumpulkan sampah-sampah itu. Anak-anak yang lain hanya mengejek dan menertawakannya. Sesekali ia melirik pada mereka yang sedang lahap menikmati es krim. Putri Pidok menelan ludahnya. Sebenarnya, ia juga ingin memakan es krim itu. Tapi, ia mencintai desanya. Karena itulah, Putri Pidok dianggap gila oleh anak-anak yang lain. Jannah dan Siti yang dulunya bersahabat dengan Putri Pidok, kini memilih untuk meninggalkannya.
Beberapa hari berlalu, meski banyak yang mencemooh, semangat Putri Pidok tidak surut sedikit pun. Tapi, semakin hari pula, sampah-sampah dari es krim itu semakin bertambah.
Tidak ada yang tahu, apa yang dilakukan Putri Pidok terhadap sampah itu. Putri Pidok menyembunyikannya. Dan yang lain tidak peduli dengan apa yang dilakukannya.
Beberapa tahun berlalu, apa yang dikhawatirkan Putri Pidok terjadi. Usaha Putri Pidok tak cukup untuk menyelamatkan desanya, sampah semakin bertambah banyak, desanya sudah beberapa kali direndam banjir. Sebab itu, tanaman-tanaman mati. Warga menjadi risau.
Putri Pidok tak patah semangat, ia tetap menyerukan kepada anak-anak yang lain untuk memungut sampah.
”Wahai teman-temanku, kita harus menyelamatkan desa kita dengan cara membersihkannya,” seru Putri Pidok untuk sekian kalinya.
Sementara itu, semenjak banjir, Pangeran Es Krim sudah tidak lagi mengunjungi desa itu. Anak-anak selalu mencarinya, mereka menganggap Pangeran Es Krim sudah pindah ke desa lain.
”Pangeran Es Krim yang baik hati telah pergi meninggalkan kami, karena desa kami selalu banjir,” keluh salah satu anak dengan wajah memelas. Putri Pidok hanya menggeleng melihatnya.
Seruan Putri Pidok akhirnya membuahkan hasil. Mereka pun ikut Putri Pidok memungut sampah, meski terpaksa, lalu dikumpulkan di belakang rumah Putri Pidok.
”Agar Pangeran Es Krim datang lagi, ayo ikut aku memungut sampah,” ajak Putri Pidok waktu itu.
Mereka percaya, dan mengangguk semangat.
Beberapa hari berlalu, mereka sangat bersemangat memungut sampah. Di belakang rumah Putri Pidok, mereka membuat sebuah tas, tikar, dompet, mainan, dan lain sebagainya dari sampah plastik itu. Itulah ide dari Putri Pidok.
”Hore, desa kami sudah tidak banjir, Pangeran Es Krim pasti akan datang lagi,” harap salah satu anak.
Keesokan harinya, saat Putri Pidok dan anak-anak yang lain memungut sampah, tiba-tiba mereka melihat Pangeran Es Krim di balik batu, di pinggir sungai. Muncul secercah harapan di hati anak-anak itu.
”Hahaha.” Pangeran Es Krim itu tertawa keras. Dahi mereka mengerut. Sosok Pangeran Es Krim itu perlahan berubah menjadi sesosok hitam menyeramkan, bermata merah dan bertanduk panjang.
”Ternyata, Pangeran Es Krim makhluk yang jahat,” ucap salah satu anak, tiba-tiba.
Putri Pidok berusaha menutup mulutnya.
”Hahaha.” Sosok menyeramkan itu menoleh. Mereka gemetar. (*)
*)Mahasiswa Instika, Sumenep. Membina Komunitas Menulis Persi. Menulis cerpen tiap hari di PP Annuqayah Daerah Lubangsa, Sumenep.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti