Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Terbelenggu Wasiat

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 19 November 2023 | 18:35 WIB
Ilustrasi. (RISKY/JPRM)
Ilustrasi. (RISKY/JPRM)

Cerpen PUTRI OKTAVIANI

TIDAK ada yang percaya padaku saat kubilang, aku tidak menyantet Mak Minarsih hingga tewas, perempuan paro baya yang hidup sebatang kara di desaku. Mak Minarsih adalah tamu terakhir yang berkunjung ke rumahku. Setelahnya, tidak ada tetangga yang berani mengunjungi atau bahkan bertamu ke rumahku lagi selama tiga pekan terakhir. Mereka takut jika mereka adalah korban selanjutnya. Almarhum ibuku adalah seorang dukun. Sehingga, para tetangga berpikir jika mendiang ibuku yang melakukan perbuatan keji –menewaskan Mak Minarsih– melalui jiwaku. Sangat mustahil.

Ketika salah satu tetangga melapor, kepala desa membawaku ke kantor polisi. Setelah melalui rentetan pengadilan, aku dinyatakan tidak bersalah. Jelas saja, karena memang aku tidak menyantet Mak Minarsih hingga masuk ke liang lahat. Apalagi mendiang ibuku yang melakukannya. Itu sangat tidak masuk akal. Tidak ada sedikit pun luka atau jejak pembunuhan di tubuh Mak Minarsih. Itulah yang membuat para tetangga akhirnya berspekulasi bahwa aku memiliki ilmu sihir yang diturunkan dari mendiang ibuku.

Saat aku melangkah ke luar rumah, para tetangga mulai bergosip. Mataku melihat jelas bibir mereka berkomat-kamit saat aku menampakkan diri. Mengomentari berbagai hal yang tak ada hubungannya dengan kematian Mak Minarsih. Mulai dari pakaian yang aku kenakan, hingga sandal jepit yang sudah setahun tak kuganti. Banyak mata yang terus membuntutiku hingga sampai ke tukang sayur. Jika aku bukan manusia yang butuh makan setiap hari, mungkin aku akan mengurung diri seperti beruang melakukan hibernasinya. Aku tidak mungkin terus mengurung diri di rumah seperti tiga hari pertama kepulangan dari kantor pengadilan.

Tentu saja aku tidak membenarkan perbuatan ibuku sebelum meninggal. Membuka praktik dukun, melakukan kemaksiatan dengan bersekongkol dengan iblis, bahkan sampai mampu menewaskan musuhnya. Sebelum kematian ibu, aku dirawat oleh bibi yang rumahnya tak jauh dari rumahku sekarang. Bibi tidak ingin aku tercemar oleh ilmu sihir, apalagi mengikuti jejak ibu yang akhirnya mati sebelum bertaubat. Setelah kepulangan ibu ke kuburan, bibi menyuruhku kembali ke rumah untuk merawat semua harta benda peninggalan ibu yang tersisa.

”Ternyata dukun perlu makan juga yah,” celetuk ibu-ibu berbaju merah.

”Mungkin darah tidak cukup, Bu,” timpal ibu lainnya yang mengenakan daster biru.

”Kenapa tidak buka praktik di kota saja, sih? Pergi dari desa kita! Mencemarkan nama baik desa kita saja, sih!” Ketua gosip buka suara.

Aku mengenal betul si ketua gosip yang sudah sangat tersohor di desaku. Dia juga menjadi musuh ibuku kala masih hidup. Usaha dagangannya pernah dihancurkan oleh ibuku yang kedapatan klien pesaing si ketua gosip. Aku tidak terlalu peduli dengan masalah ibuku dengan orang-orang sekitar. Tetapi, tetap saja aku malu, karena mereka selalu menyangkutpautkanku dengan pekerjaan ibuku sebelum mati.

Tanganku sibuk mengambil sayur secukupnya. Bahkan aku tidak tahu sayur apa yang kuambil. Yang terpenting perutku terisi. Jika ditanya dari mana aku mendapatkan uang, aku akan menjawab dari menjual benda-benda yang tersisa di rumahku. Aku tidak mendapatkan pekerjaan dengan mudah di desa. Jelas karena mereka menyulitkanku untuk mendapatkannya. Sebenarnya aku tidak tahan dan ingin pindah ke kota. Tapi, sebuah wasiat ibu yang disampaikan oleh bibi membuatku bertahan di desa ini.

Setelah membayar sejumlah uang tanpa kembalian, aku pergi begitu saja meninggalkan orang-orang tanpa menanggapi perkataan mereka. Sebenarnya cukup bosan mendengar ocehan-ocehan mereka terhadapku, tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Apalagi marah-marah sampai adu jambak dengan mereka. Selain tidak memiliki kemampuan menyihir seperti yang dilakukan ibu, aku juga tidak ingin berurusan dengan hal-hal seperti itu. Aku tidak ingin mati di tangan orang yang ilmu sihirnya jauh lebih tinggi dariku nantinya, seperti ibu.

Ketika sampai di rumah, segera aku mengunci pintu. Mengurung diri lagi sampai keesokan harinya. Terkecuali jika gempa yang belakangan ini melanda desaku terjadi lagi, tentu aku akan ikut keluar dan berlarian mencari tempat yang aman. Ketika aku tengah memasak di dapur, suara pintu rumah diketuk mengganggu aktivitasku. Aku menajamkan indra pendengaran. Ini sudah sangat lama sampai pintu rumahku diketuk oleh seseorang. Apakah itu arwah ibu yang tidak tenang atau Mak Minarsih? Pikiranku melayang-layang.

Sejenak, aku mematikan kompor karena ketukan pintu terdengar sampai tiga kali. Dengan hati-hati aku merayap ke ruang depan dan sedikit melihat bayangan seseorang lewat jendela.

”Arumi!” teriak seseorang tak dikenal itu.

”Siapa di luar?” tanyaku akhirnya tanpa berniat membuka pintu.

”Ini bibimu!”

Bibi Wedah? Mengapa dia baru mengunjungiku? Terakhir kali dia datang adalah hari pemakaman ibu, sekaligus hari saat dia memberitahuku tentang wasiat ibu.

Tanpa menunda lagi, aku langsung membuka pintu yang terkunci. Menangkap wajah bibi yang tampak pucat pasi. Dia segera masuk tanpa kupersilakan.

”Tutup pintunya rapat-rapat dan kunci!” perintah bibi yang langsung duduk di kursi kayu.

”Kenapa Bibi baru datang? Aku sudah tidak tahan tinggal di desa ini. Apakah wasiat ibu sudah benar kulakukan?” tanyaku memastikan.

”Tidak, Arumi. Itu salah,” jawab bibi yang membuat wajahku kebingungan.

”Salah bagaimana? Bibi bilang Minarsih, kan? Tidak ada yang bernama Minarsih di desa kita selain dia, Bi.”

”Ada, Arumi. Kamu kenal dengan ketua gosip di desa kita, kan?”

”Bu Handoko?”

Bibi mengangguk cepat sebelum berkata, ”Handoko itu adalah nama suaminya. Tidak banyak yang mengenal nama aslinya. Ternyata dia juga bernama Minarsih. Musuh ibumu yang membuat dia meregang nyawa.”

Aku benar-benar terpukul mendengar penjelasan bibi. Rasa penyesalan terhadap Mak Minarsih menguak di dadaku. Seharusnya dia masih menjadi tamuku yang selalu mengunjungiku setidaknya tiga kali dalam seminggu. Tetapi, aku menghilangkan nyawanya dengan caraku sendiri.

”Sekarang bagaimana? Apa bibi akan melaporkanku ke polisi karena telah salah target?”

Bibi menggelengkan kepalanya pelan, ”Tidak mungkin bibi mengadukan perbuatanmu pada polisi. Tapi, bagaimana caramu menghilangkan nyawa Mak Minarsih tanpa jejak? Kamu tidak memiliki sihir, kan?”

Keheningan merayap sejenak. Sebelum aku membuka suara lagi. ”Sore itu, Mak Minarsih datang mengunjungiku. Dia memang selalu datang setidaknya tiga kali dalam seminggu. Dia sudah seperti pengganti ibu. Selalu memberi perhatian padaku dengan membawa beberapa kudapan. Dia selalu senang jika aku menyiapkan kopi hitam buatan tanganku sendiri.

Dari sanalah, aku mendapatkan kesempatan untuk melakukan wasiat ibu. Sedikit sianida kucampurkan ke dalam kopinya. Beruntung, prosesnya tidak langsung. Sehingga aku bisa mencuci gelas itu. Sebelum akhirnya Mak Minarsih ditemukan tewas ketika baru sampai di halaman rumahnya.”

Bibi mendengarkanku secara saksama. Dia menelan ludah dengan susah payah sehingga aku bisa melihat benjolan di tenggorokannya.

Dia menatapku tak percaya. ”Kau benar-benar lihai seperti ibumu.” (*)

*)Lahir di Tangerang pada 2000. Senang menulis novel dan cerpen. Tulisannya dimuat di platform digital dan media cetak maupun daring. Penggemar fiksi thriller dan misteri.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#praktik dukun #Desa #bibi #ketua gosip #bergosip #bayangan #pembunuhan #arumi #Mak Minarsih #dukun #aku #penyesalan #kematian ibu #ilmu sihir #ibuku #ibu