Hari Santri dan Paradoks Pengakuan: Antara Simbolisme dan Realitas Pesantren

Hera Marylia • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:00 WIB
Moh. Riski Kohar
Moh. Riski Kohar

Oleh Moh. Riski Kohar*

 

SETIAP 22 Oktober, pesantren memperoleh panggung penghormatan. Santri mengenakan sarung, mengibarkan bendera, mengikuti apel, dan merayakan identitasnya dengan penuh kebanggaan. Di berbagai tempat, Hari Santri menjadi momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Namun, di balik kemeriahan itu, ada pertanyaan yang layak diajukan, setelah Hari Santri berlalu, apa yang benar-benar berubah bagi pesantren?

Pertanyaan ini bukan untuk mengurangi makna Hari Santri. Sebaliknya, ia merupakan cara untuk menjaga agar penghormatan tidak berhenti sebagai simbol. Sebab, menghormati santri tidak cukup dengan memberikan panggung sehari dalam setahun. Penghormatan yang lebih bermakna adalah memastikan pesantren memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mendidik generasi, mengembangkan ilmu, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Hari Santri ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan tersebut mengingatkan bangsa pada peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan sekaligus mengajak generasi berikutnya melanjutkan kontribusi bagi Indonesia. Artinya, semangat Hari Santri sejak awal tidak hanya berkaitan dengan mengenang masa lalu, tetapi juga dengan tanggung jawab membangun masa depan.

Baca Juga: Ombudsman RI Kunjungi Area Pelayanan, Imigrasi Pamekasan Perkuat Komitmen Pelayanan Publik

Jangan Berhenti pada Pengakuan

Pesantren bukan sekadar tempat belajar agama. Ia merupakan ruang pembentukan karakter, pewarisan tradisi keilmuan, pendidikan akhlak, dan pemberdayaan masyarakat. Di dalamnya, santri belajar bukan hanya memahami teks, melainkan juga menghormati guru, hidup bersama dalam keterbatasan, serta membangun kedisiplinan melalui keseharian.

Besarnya peran tersebut telah memperoleh pengakuan melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Regulasi ini menegaskan fungsi pesantren dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Negara juga memiliki landasan hukum untuk memberikan fasilitasi bagi pengembangan pesantren.

Akan tetapi, pengakuan hukum perlu terus diterjemahkan menjadi manfaat yang nyata. Sebab, pengakuan dan pemerataan kesempatan merupakan dua hal yang berbeda. Pesantren memiliki karakter, kapasitas, dan kebutuhan yang beragam. Ada yang telah berkembang dengan fasilitas memadai, tetapi ada pula yang masih perlu memperkuat sarana pembelajaran, kapasitas pendidik, akses teknologi, dan tata kelola kelembagaan.

Karena itu, persoalan pesantren tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan seragam. Dukungan yang dibutuhkan bukan sekadar bantuan sesaat menjelang peringatan tertentu, melainkan kebijakan berkelanjutan yang mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing lembaga.

Di sinilah ukuran keberpihakan terhadap pesantren perlu diuji. Bukan hanya dari banyaknya ucapan selamat atau meriahnya kegiatan peringatan, melainkan dari sejauh mana santri memperoleh akses pendidikan yang berkualitas dan pesantren memiliki ruang untuk berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.

Baca Juga: Hyundai Elantra N Monochrome Hadir dengan Tampilan Serba Monokrom, dan Velg Forged Eksklusif

Tradisi Harus Bertemu Masa Depan

Tantangan pesantren hari ini juga tidak dapat dipisahkan dari perubahan zaman. Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan menghadirkan peluang sekaligus persoalan baru dalam dunia pendidikan. Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi kemampuan memeriksa kebenaran, memahami konteks, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan tetap membutuhkan proses pendidikan yang serius.

Dalam situasi tersebut, pesantren memiliki modal penting berupa tradisi talaqqi, sanad keilmuan, adab kepada guru, dan pembelajaran yang menempatkan ilmu dalam kerangka tanggung jawab moral. Namun, modal itu tidak seharusnya membuat pesantren menutup diri dari perubahan. Tradisi justru perlu menjadi pijakan untuk menyaring, memahami, dan memanfaatkan perkembangan teknologi secara kritis.

Diperlukan penguatan literasi digital, peningkatan kompetensi pendidik, akses terhadap sumber belajar, serta pendampingan penggunaan teknologi yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan pesantren. Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menilai informasi, menghasilkan gagasan, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Tentu, transformasi tidak berarti seluruh pesantren harus mengikuti pola yang sama. Kekhasan pesantren harus tetap dihormati. Yang perlu diperluas adalah kesempatan untuk meningkatkan mutu, bukan menyeragamkan tradisi.

Baca Juga: Fujifilm instax SQUARE 2 Hadir Membawa Pilihan Filter Warm dan Cool untuk Foto Karakter Berbeda

Mengubah Perayaan Menjadi Keberlanjutan

Lantas, apa yang seharusnya dilakukan setelah Hari Santri? Pertama, pemerintah perlu memperkuat program pengembangan pesantren secara terukur dan berkelanjutan, dengan memperhatikan kebutuhan lembaga serta transparansi penyaluran dukungan. Kedua, peningkatan kualitas pendidik harus menjadi perhatian serius melalui pelatihan, pengembangan kompetensi, dan perluasan akses terhadap sumber belajar.

Ketiga, pesantren perlu memperoleh dukungan untuk membangun kemandirian ekonomi dan memperluas pemberdayaan masyarakat. Keempat, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas masyarakat dapat memperkuat kemitraan dengan pesantren tanpa mengambil alih kewenangan serta menghilangkan identitasnya.

Langkah-langkah tersebut tentu tidak dapat diselesaikan dalam satu peringatan. Justru karena itulah, Hari Santri semestinya menjadi titik tolak untuk menyusun agenda yang berkelanjutan, bukan garis akhir dari perhatian publik.

Pesantren tidak membutuhkan penghormatan yang berhenti pada tepuk tangan. Pesantren membutuhkan kepercayaan, kesempatan, dan dukungan yang memungkinkan tradisi keilmuannya terus hidup sekaligus menjawab kebutuhan zaman.

Hari Santri memang diperingati setiap 22 Oktober. Namun, tanggung jawab terhadap masa depan santri tidak boleh dibatasi oleh kalender. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah peringatan bukan hanya seberapa meriah ia dirayakan, melainkan seberapa nyata perubahan yang ditinggalkannya.

Maka, setelah Hari Santri berlalu, pertanyaan itu tetap perlu kita ajukan, apa yang berubah bagi pesantren? Jawabannya semestinya tidak hanya ditemukan dalam pidato dan spanduk, tetapi juga dalam kualitas pendidikan, kesempatan belajar, kesejahteraan pendidik, dan keberdayaan masyarakat yang tumbuh dari lingkungan pesantren. (*)

*)Mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah Sumenep.

Editor : Hera Marylia
22 Oktober pengembangan pesantren hari santri pengakuan simbol