Oleh Feri Ferdiansyah*
SAYA tidak tahu betul bagaimana awal perjalanan koran yang sedang Anda baca ini. Saya baru bergabung dengan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) setelah koran ini berusia 10 tahun. Saat itu, "Korannya Orang Madura" ini sudah menjadi media lokal terbesar di Madura.
Di tahun pertama bergabung, 2009 lalu, saya harus berpindah-pindah lokasi kerja. Mulai dari Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, kemudian di akhir 2009 saya dipindah ke Sampang. Sebagai jurnalis muda, saya banyak belajar kepada kepala biro (Kabiro) JPRM di masing-masing kabupaten.
Ada Nur Rahmad Ahirullah sebagai Kabiro di Bangkalan. Ketika dipindah ke Pamekasan, saya dididik oleh dua Kabiro. Maklum, saat itu terjadi peralihan kepemimpinan dari Akhmadi Yasid kepada Abrari Alzael di Pamekasan. Saat ini keduanya sudah sama-sama menjadi “alumni” JPRM. Akhmadi Yasid sudah menjadi anggota DPRD Kabupaten Sumenep, sedangkan Abrari Alzael sudah menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Timur.
Baca Juga: Membangun Kepercayaan
Beberapa bulan di Pamekasan, saya kemudian dipindah ke Sumenep. Di kabupaten paling timur Madura ini saya kembali dididik oleh Akhmadi Yasid sebagai Kabiro Sumenep. Mungkin saya adalah jurnalis yang sering dipindah-pindah. Belum genap satu tahun saya harus pindah lagi. Kali ini giliran di Kabupaten Sampang dengan Kabironya, Haryanto. Sekarang Mas Haryanto sudah menjabat sebagai Koordinator Liputan JPRM.
Meski harus melewati didikan senior yang berbeda-beda, namun ada kesamaan dalam mengarahkan para jurnalis muda. Salah satunya mendorong jurnalis agar menulis dengan bahasa yang sederhana. Tujuannya satu, agar berita mudah dipahami.
Tujuan tersebut tentu saja berkaitan dengan jangkauan JPRM kepada pembacanya. Koran ini ingin benar-benar diterima oleh semua kalangan. Syaratnya hanya satu, yang penting bisa baca. Entah itu kalangan terdidik maupun tidak, pejabat maupun masyarakat, bahkan anak-anak hingga dewasa. Siapa pun tak perlu mengernyitkan dahi untuk memahami pesan dalam berita yang disajikan JPRM.
Upaya JPRM dalam memperluas jangkauan tak hanya dari gaya bahasa. Sejumlah rubrik disiapkan untuk menampung isu yang jarang terekspos. Rubrik khusus tersebut biasanya bergantung kebijakan siapa pemimpin redaksinya. Dengan adanya rubrik khusus ini, diharapkan JPRM bisa menjangkau sejumlah kalangan yang sebelumnya tidak tersentuh media.
Baca Juga: Pejalan Kaki Tewas saat Bantu Korban Laka Lantas di Jalan Raya Desa Paterongan
Seluruh pemimpin redaksi JPRM memberikan kontribusi dalam memperluas jangkauan. Mulai dari Risang Junaidi, M. Tojjib, Akhmadi Yasid, Feri Ferdiansyah, Zuhdi Zuhud, Luqman Hakim AG., hingga Moh. Subhan yang saat ini masih menjabat.
Sebagai media massa, JPRM menyadari pendekatan lewat tulisan tidaklah cukup. Perlu tatap muka dengan pembaca bahkan calon pembaca. Sejumlah event pun digelar. Baik dari tingkat sekolah sampai kampus, bahkan sampai masuk ke komunitas-komunitas yang ada di tengah masyarakat.
Tentu event-event yang digelar tidak sekadar bersifat entertainment. Ada upaya perluasan jangkauan dalam mendekatkan koran ini kepada masyarakat yang lebih luas. Karena sejatinya, kekuatan media massa terletak pada jangkauannya kepada masyarakat.
Beberapa event yang masih saya ingat di antaranya, Madura Awards. Event ini menjadi salah satu event spektakuler yang digelar Jawa Pos Radar Madura. Bahkan, dari event inilah muncul sejumlah awarding di Madura. Event lainnya ada di bidang pendidikan. Ada Lensa Pendidikan, Bengkel Jurnalis Muda (Beda), dan Tryout JPRM hingga lomba mewarnai.
Tidak hanya di bidang pendidikan. JPRM aktif menggelar event di berbagai bidang. Baik di bidang keagamaan, olahraga, kesenian, ekonomi, dan sosial. Semua event tersebut tentu saja membawa semangat memperluas jangkauan JPRM sebagai media lokal terbesar di Madura.
Baca Juga: Menggugat Kemajuan Madura
Semangat memperluas jangkauan semakin terasa seiring perkembangan teknologi. Kemudahan akses internet menuntut media cetak ini mengembangkan sayap pada platform digital. Hingga lahirlah radarmadura.id dan Koran Digital JPRM, hingga RadarMaduraMall.
Masuknya JPRM ke platform digital membuat media ini bisa diakses oleh semua orang tanpa mengenal batas. Setidaknya, orang Madura yang ada di seluruh Indonesia maupun yang tersebar di seluruh dunia bisa mendapatkan informasi yang ada di kampung halamannya.
Tak hanya itu, perkembangan media sosial tak luput dijadikan sarana oleh JPRM untuk memberikan kemudahan akses informasi kepada masyarakat. Lagi-lagi ini berkaitan erat dengan upaya memperluas jangkauan.
Perjalanan saya selama 13 tahun di JPRM terhitung 2009–2022 tentu memiliki sudut pandang berbeda mengenai tema HUT JPRM yang ke-27 ini. Mungkin bagi sebagian orang, tema “Menjangkau Lebih Luas” seperti sebuah semangat baru. Tetapi bagi saya, kalimat “Menjangkau Lebih Luas” adalah sebuah semangat yang terus dirawat.
Selamat ulang tahun JPRM, jangan pernah berhenti memberi ruang bagi mereka yang tidak didengar. Voice of the voiceless. (*)
Semangat yang Terus Dirawat
*)Pemred JPRM 2013–2015. Saat ini bekerja di Husky-CNOOC Madura Limited (HCML)
Editor : Hera Marylia Damayanti