Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Lebaran & Seni Menghargai Perjalanan Hidup

Hera Marylia Damayanti • 2026-03-17 14:45:06
Muhyatun, S.Sos., M.A., dosen Fakultas Tarbiyah, Program Studi Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam, IAI Al-Khairat Pamekasan
Muhyatun, S.Sos., M.A., dosen Fakultas Tarbiyah, Program Studi Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam, IAI Al-Khairat Pamekasan

Oleh Muhyatun, S.Sos., M.A

 

RAMADAN merupakan salah satu momentum spiritual yang begitu ditunggu oleh sebagian besar orang, setiap tahunnya. Ramadan memiliki nuansa yang sangat berbeda dari bulan-bulan lain, karena selama periode ini, aktivitas yang dilakukan sehari-hari menjadi sarat akan nilai refleksi dan transformasi diri. Selama satu bulan penuh, umat Islam menjalani proses ibadah yang kompleks. Mulai dari puasa sebagai metode pengendalian diri, lantunan zikir dan ayat Al-Qur’an sebagai upaya peningkatan kualitas ibadah, hingga kuasa untuk menjaga lisan sebagai bukti upaya memperbaiki relasi dengan Tuhan maupun sesama manusia.

Memasuki penghujung Ramadan yang kini tinggal menghitung hari, umat Islam ramai dengan giat untuk menyambut Lebaran. Idul Fitri seolah menjadi simbol kembalinya seluruh umat Islam pada fitrah yang dikaruniakan Tuhan, yakni batin yang bersih dan diri yang lebih sadar akan nilai moral setelah satu bulan penuh membangun perjalanan spiritual. Idul Fitri memiliki arti kemenangan, dalam hal ini sejatinya menjadi penegas bahwa seseorang mampu untuk menjaga diri dari berbagai godaan dan menumbuhkan sikap syukur, empati, serta kesadaran untuk terus memperbaiki diri ke depan.

Baca Juga: Spirit Memburu ”THR” di Sepanjang Ramadan

Dalam konteks sosial, perayaan Lebaran atau Idul Fitri tidak lengkap tanpa adanya tradisi silaturahmi. Oleh karena itu, kunjungan antar keluarga, kerabat, dan sahabat menjadi sarana yang berfungsi untuk mempererat hubungan sosial serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan pasca Ramadan. Pada dasarnya, keberadaan tradisi ini mempunyai makna yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, silaturahmi menjadi aktivitas sosial sekaligus praktik budaya yang tujuannya adalah mengokohkan solidaritas serta keharmonisan dalam komunitas.

Namun, fenomena yang terjadi, tidak jarang dari momen silaturahmi Lebaran, beberapa orang harus menahan sakit hati atas percakapan dan obrolan yang terlalu personal. Sebagian orang kurang meneguhkan empati dan kesadaran moral untuk menahan tanya tentang update pekerjaan, penghasilan, pasangan hidup, hingga pencapaian.

Lebaran yang seharusnya menjadi ruang kembali pada fitrah, justru beralih menjadi arena pertanyaan yang melelahkan. Kamu sudah kerja di mana?”, kamu kapan menikah?”, atau gajinya berapa?”. Tanpa disadari, bagi sebagian orang yang sedang berjuang mencari pekerjaan, pertanyaan sederhana seperti di atas seolah menjadi pengingat atas kegagalan yang belum selesai dipulihkan. Sungguh ironi, alih-alih mengapresiasi, percakapan yang ada justru penuh ego dan luka.

Baca Juga: Inner leadership, Ramadan: Madrasah Kepemimpinan Diri

Fenomena di atas sejalan dengan konsep social comparison, yakni individu memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain. Lebaran bukan ajang untuk mempraktikkan teori ini, dan memicu tekanan psikologis dalam diri seseorang.

Dalam banyak kasus, basa-basi ini dibingkai sebagai bentuk keakraban. Akan tetapi, perlu disadari jika pertanyaan atas persoalan personal dapat menghadirkan ketidaknyamanan psikologis. Jadi, seberapa sering diri kita menyebarkan kekerasan simbolik yang dibungkus dalam tradisi keakraban?

Realitas selalu mengingatkan bahwa setiap orang tidak berdiri atas latar belakang hidup, pengalaman, serta dinamika hidup yang serupa. Tidak semua orang menghadapi Lebaran dengan fase kehidupan yang sedang baik-baik saja, baik dalam hal karier, kondisi ekonomi, maupun relasi personal. Sebagian mungkin sedang berjuang menghadapi ketidakpastian hidup, pekerjaan, tekanan ekonomi, dan persoalan pribadi. Begitu juga mereka tidak selalu berkenan untuk dibicarakan secara terbuka kepada khalayak keluarga. Karena itulah, terkadang pertanyaan sederhana dapat berubah menjadi pengalaman sosial yang melahirkan trauma.

Baca Juga: Ramadan, Guru PAUD, dan Akar Nilai Kebangsaan

Penting bagi setiap individu, khususnya muslim untuk selalu meninggikan sensitivitas sosial dalam interaksi sehari-hari. Ramadan telah pergi dan mengajarkan pengendalian diri, baik secara fisik maupun penanaman nilai-nilai etis dalam perilaku sosial. Dengan kata lain, Ramadan telah mengajarkan diri atas esensi utama dari kebijaksanaan dalam bersikap, memilih bahasa, hingga tata krama dalam berucap.

Jika nilai etis telah benar-benar diinternalisasi dalam diri, maka idealnya semangat Ramadan dan perjalanan spiritual yang lebih baik dapat tercermin dalam perilaku sosial setelah bulan suci tersebut berpamitan.

Lebaran dan kemenangan pasca Ramadan adalah momen terbentuknya ruang sosial yang menyemaikan rasa syukur, indahnya kebersamaan, dan bukan ajang untuk melegalkan praktik perbandingan sosial. Sebagai pribadi yang menang, cukuplah untuk menghadirkan perspektif sederhana, tanpa mengukur bahkan mempertontonkan keberhasilan yang bersifat material semata.

Baca Juga: Kado Istimewa di Bulan Ramadan bagi Generasi Bangsa: Refleksi atas Kebijakan Perlindungan Anak di Era Digital

Perjalanan hidup setiap individu tidak akan memiliki ritme dan dinamika yang sama. Sebagian orang berhasil mencapai berbagai harapannya dalam waktu yang singkat, di sisi lain, tidak sedikit dari mereka yang menjalani proses belajar lebih panjang untuk mencapai titik temu tujuan yang ditetapkan. Seluruh kondisi ini adalah bagian alami dari kompleksitas kehidupan manusia. Oleh karena itu, tumbuh sebagai muslim yang menghargai perjalanan hidup orang lain merupakan bentuk kedewasaan sosial yang seharusnya ditanamkan sebelum, sejak, bahkan setelah Ramadan.

Menghargai perjalanan hidup orang lain tidak selalu melibatkan tindakan yang besar, tindakan ini dapat dipraktikkan dengan hadirnya hal-hal yang terlihat sederhana, seperti menjaga ucapan, menghindarkan orang lain dari pertanyaan yang menekan secara psikologis, serta memilih untuk mengutamakan silaturahmi melalui percakapan yang hangat dan doa atas pencapaian lebih baik ke depannya. Selain itu, penting untuk senantiasa mengakrabkan diri dengan rasa syukur. Syukur menjadi bukti bahwa sebagai umat Islam, diri mampu menerima garis kehidupan, melaluinya dengan kesadaran dan kerendahan hati.

Jadi, Ramadan akan semakin berarti karena keberadaannya mampu membentuk setiap umat Islam sebagai manusia yang sabar, rendah hati, dan memiliki kepekaan sosial di lingkungan sekitar. Dengan transformasi diri yang terjadi, maka sejatinya Ramadan dan Lebaran memberikan esensi dari kemenangan spiritual yang patut untuk dirayakan. Pada akhirnya, kemenangan di hari Lebaran sejatinya bukan tentang apa yang kita capai, melainkan tentang bagaimana kita menjaga lisan dan memanusiakan sesama. (*)

*)Dosen Fakultas Tarbiyah, Program Studi Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam, Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

Editor : Hera Marylia Damayanti
#refleksi dan transformasi diri #social comparison #perilaku sosial #kedewasaan sosial #kepekaan sosial #menghargai perjalanan hidup #ramadan #Ruang Sosial #perjalanan spiritual #fenomena #muslim #lebaran #umat islam