Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puasa, Masjid, dan Kajian Kitab

Hera Marylia Damayanti • Selasa, 24 Februari 2026 | 14:38 WIB

Dr. Iwan Kuswandi, M.Pd.I., Khotib Masjid Gemma Prenduan
Dr. Iwan Kuswandi, M.Pd.I., Khotib Masjid Gemma Prenduan

Oleh DR. IWAN KUSWANDI, M.PD.I.

 

BULAN Ramadan hadir sebagai tamu mulia yang mengetuk hati setiap mukmin. Ia bukan sekadar pergantian waktu, tetapi undangan Ilahi untuk kembali menata niat, membersihkan jiwa, dan menumbuhkan harapan. Di bulan inilah Allah melipatgandakan pahala, membuka pintu rahmat selebar-lebarnya, dan menghamparkan ampunan bagi siapa pun yang datang dengan hati yang tulus.

Ramadan mengajarkan kita bahwa menahan lapar dan dahaga bukan tujuan akhir. Yang lebih utama adalah menundukkan hawa nafsu, melembutkan hati, serta melatih kejujuran dalam iman. Setiap sujud terasa lebih bermakna, setiap doa memiliki ruang yang lebih luas untuk dikabulkan, dan setiap kebaikan—sekecil apa pun—bernilai besar di sisi Allah.

Di tengah kesibukan dan keterbatasan, Ramadan mengingatkan bahwa Allah tidak menilai banyaknya amal semata, tetapi ketulusan di baliknya. Air mata taubat di sepertiga malam, senyum kepada sesama, kesabaran dalam menghadapi ujian, semuanya menjadi jalan untuk mendekat kepada-Nya. Ramadan adalah kesempatan memperbaiki diri tanpa harus menunggu sempurna.

Maka jangan biarkan bulan penuh berkah ini berlalu begitu saja. Jadikan Ramadan sebagai titik balik: dari lalai menuju sadar, dari jauh menuju dekat, dari lemah menuju kuat dalam iman. Semoga kita termasuk hamba yang meraih rahmat-Nya, mendapatkan ampunan-Nya, dan keluar dari Ramadan dengan hati yang lebih hidup serta langkah yang lebih lurus menuju rida Allah.

Marilah kita mengisi bulan puasa dengan amal kebaikan dan peningkatan kualitas serta kuantitas ibadah, karena Ramadan adalah momentum terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan hati yang lebih jujur dan penuh harap; setiap lapar yang kita tahan menjadi latihan keikhlasan, setiap doa yang kita panjatkan menjadi penguat jiwa, dan setiap kebaikan yang kita lakukan—sekecil apa pun—menjadi cahaya yang menuntun langkah hidup kita, sehingga Ramadan tidak hanya berlalu sebagai rutinitas tahunan, tetapi hadir sebagai proses perubahan yang menumbuhkan iman, memperhalus akhlak, dan mengantarkan kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih peduli, dan lebih bertakwa.

Ada ketenangan yang sulit dijelaskan ketika langkah kita perlahan mengarah ke masjid di bulan puasa. Istikamah salat berjemaah dan meluangkan waktu mengikuti kegiatan di masjid bukan tentang merasa lebih baik dari yang lain, tetapi tentang memberi ruang bagi hati untuk bernapas dan dikuatkan.

Di sana, kita belajar kembali merasakan kebersamaan dalam doa, mendengar nasihat tanpa paksaan, dan menemukan keutamaan-keutamaan yang Allah siapkan secara lembut di bulan Ramadan. Barangkali dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan penuh cinta itu, iman tumbuh tanpa terasa, hati menjadi lebih tenang, dan puasa kita semakin bermakna.

Menjadi salah satu narasumber Kuliah Subuh selama bulan suci Ramadan, saya memilih sebuah kitab kecil namun sarat makna, kitab Is’af Ahli Iman bi Wadhaifu Syahru Ramadan, karya Syekh Hasan Muhammad al-Masyath.

Kitab ini tidak hadir dengan bahasa yang keras atau menggurui, tetapi mengalir lembut, mengajak hati untuk mencintai Ramadan melalui amalan-amalan yang realistis, bertahap, dan penuh harap. Isinya membimbing kaum beriman agar mampu memaknai hari-hari puasa dengan zikir, doa, tilawah, dan kepekaan sosial, sehingga Ramadan tidak sekadar berlalu, tetapi benar-benar membekas dalam jiwa.

Syekh Hasan Muhammad al-Masyath adalah salah seorang ulama besar Sunni Haramain yang dikenal luas karena keluasan ilmunya, khususnya dalam fikih, tasawuf, dan pembinaan spiritual umat.

Ia hidup sezaman dan seiring dengan dua ulama besar lainnya, yakni Sayyid Alwi Al-Maliki dan Syekh Amin al-Kutbi, yang oleh para penuntut ilmu dikenal sebagai tiga serangkai ulama Sunni Haramain. Ketiganya menjadi rujukan penting dalam menjaga corak keislaman Ahlussunnah yang seimbang: kuat dalam dalil, lembut dalam dakwah, dan mendalam dalam akhlak.

Dalam jalur keilmuan, Syekh Hasan Muhammad al-Masyath memiliki kontribusi yang sangat besar sebagai pendidik para ulama Nusantara dan dunia Islam. Ia adalah guru dari Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, seorang pakar hadis dan ulama karismatik Makkah; juga guru dari Syekh Yasin al-Fadani, yang dikenal sebagai musnid ad-dunya pada masanya.

Dari Nusantara, sanad ilmunya mengalir kepada Syekh Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan, serta Kiai Hasan al-Iraqi, ulama Madura yang berperan besar dalam transmisi keilmuan pesantren.

Melalui kitab Is’af Ahli Iman, Syekh Hasan Muhammad al-Masyath seakan mengajak kita menjalani Ramadan dengan hati yang sadar dan penuh cinta: tidak tergesa-gesa mengejar banyaknya amal, tetapi setia menjaga kesinambungan ibadah.

Kitab ini sangat relevan untuk Kuliah Subuh, karena bahasanya menenangkan, temanya membumi, dan pesannya menguatkan—seolah menjadi teman setia bagi siapa pun yang ingin menjalani puasa dengan lebih bermakna, tenang, dan berakar pada tradisi keilmuan para ulama Haramain.

Kitab yang saya pilih untuk dikaji selama bulan puasa tahun ini, kitab Is’af Ahli Iman bi Wadhaifu Syahru Ramadan karya Syekh Hasan Muhammad al-Masyath, saya harapkan dapat menjadi bekal yang menenangkan dan menuntun hati para jemaah serta pendengar Kuliah Subuh.

Kitab ini tidak berbicara tentang Ramadan sebagai beban, tetapi sebagai perjalanan rohani yang perlu dipersiapkan dengan sadar dan penuh cinta. Ia mengajak orang beriman memahami apa yang seharusnya disiapkan: niat yang jujur, ibadah yang dijaga dengan konsisten, serta hati yang dibersihkan sedikit demi sedikit sepanjang hari-hari puasa.

Melalui kajian yang disampaikan di Masjid Gemma Prenduan, yang didengarkan oleh jemaah salat Subuh dan masyarakat sekitarnya, semoga kitab ini membantu jemaah merasakan bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi kesempatan memperbaiki arah hidup.

Dari lembar-lembar sederhana kitab ini, kita belajar bahwa menjadi orang beriman di bulan Ramadan bukan tentang banyaknya target yang memberatkan, melainkan tentang kesiapan hati untuk berubah, kesungguhan menjaga amalan harian, dan keikhlasan menapaki hari demi hari dengan harap akan rahmat dan ampunan Allah.

Kitab Is’af Ahli Iman bi Wadhaifu Syahru Ramadan dibuka dengan landasan paling mendasar tentang puasa, yakni firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 183. Dalam penjelasan Syekh Hasan Muhammad al-Masyath, ayat ini turun pada bulan Syakban tahun kedua Hijriah di Madinah, menandai secara resmi diwajibkannya puasa Ramadan bagi umat Islam.

Namun ayat ini tidak hanya berbicara tentang kewajiban hukum semata, melainkan menghadirkan pesan rohani yang sangat dalam: bahwa puasa bukan ibadah baru, melainkan kelanjutan dari tradisi para nabi dan umat-umat sebelumnya. Dengan demikian, puasa menjadi ibadah lintas zaman yang selalu relevan dalam membentuk kualitas manusia beriman.

Lebih jauh, ayat ini mengarahkan tujuan utama puasa dengan sangat jelas, la‘allakum tattaqūn—agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Dalam tafsirnya, dijelaskan bahwa predikat takwa tidak muncul secara instan, tetapi lahir dari proses panjang pengendalian diri.

Puasa melatih manusia menahan syahwat, baik yang bersifat fisik maupun batin, karena dari syahwat yang tidak terkendali inilah sejatinya bermula banyak maksiat. Ketika seseorang mampu menahan hal yang halal di siang hari karena ketaatan kepada Allah, maka ia akan lebih mampu menahan diri dari yang haram di sepanjang hidupnya.

Di sinilah puasa bekerja secara sunyi namun mendalam: membangun benteng batin, menumbuhkan kesadaran ilahiah, dan perlahan mengantarkan seorang hamba menuju derajat takwa yang sejati—bukan hanya di bulan Ramadan, tetapi juga setelahnya.

Pada hari pertama bulan puasa tahun ini, setelah dalil kewajiban puasa dibacakan, saya mengajak jemaah berhenti sejenak untuk bertanya: mengapa puasa ditempatkan begitu istimewa di antara ibadah-ibadah lain? Mengapa Allah tidak menyebutkan secara terperinci balasan puasa, sebagaimana salat, zakat, dan sedekah? Dari pertanyaan inilah pembahasan berlanjut pada bab keutamaan puasa, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Hasan Muhammad al-Masyath.

Beliau menukil hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa setiap amal keturunan Nabi Adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa; karena puasa itu khusus untuk Allah, dan Allah sendiri yang akan langsung memberikan ganjarannya.

Jika dipikirkan secara logis, di sinilah letak keunikan puasa. Ibadah lain masih dapat terlihat oleh manusia, tetapi puasa adalah ibadah yang paling sunyi—hanya Allah yang benar-benar tahu apakah seseorang jujur menahan diri atau tidak. Tidak makan bisa karena tidak lapar, tidak minum bisa karena tidak haus, namun tetap bertahan demi Allah itulah hakikat puasa.

Karena kejujuran batin inilah, pahala puasa tidak diukur dengan hitungan biasa. Allah tidak menyerahkannya kepada standar manusia, tetapi mengambil alih langsung balasannya. Barangkali, justru karena puasa menumbuhkan keikhlasan paling murni, maka ia layak diganjar dengan balasan yang hanya pantas ditentukan oleh Allah sendiri.

Pertanyaannya kemudian muncul dengan wajar di benak kita: mengapa ibadah puasa begitu istimewa dibandingkan ibadah lainnya? Apa yang membuatnya sampai Allah menyatakan secara khusus bahwa puasa itu untuk-Nya dan Dia sendiri yang akan memberi balasan? Jawabannya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Is’af Ahli Iman bi Wadhaifu Syahru Ramadan, terletak pada sifat puasa itu sendiri. Puasa hampir tidak memberi ruang bagi riya’.

Tidak ada tanda lahiriah yang bisa dipamerkan, tidak ada gerakan yang bisa disaksikan orang lain. Seseorang bisa saja tampak biasa-biasa saja, namun hanya dirinya dan Allah yang benar-benar tahu apakah ia sedang berpuasa atau tidak.

Di sinilah puasa bekerja secara sangat manusiawi dan masuk akal. Ia menuntut kejujuran batin yang tidak bisa direkayasa. Menahan makan dan minum mungkin terlihat sederhana, tetapi hakikat puasa jauh lebih dalam: menahan seluruh anggota badan dari segala bentuk maksiat.

Mata belajar menjaga pandangan, lisan dilatih menahan kata-kata yang melukai, hati diajak meredam dengki dan amarah. Ketika seluruh diri ikut berpuasa, niat menjadi semakin murni, dan hubungan dengan Allah terasa lebih dekat tanpa perantara. Barangkali karena kerahasiaan dan kejujuran inilah puasa menjadi ibadah yang paling tulus—ibadah yang tidak membutuhkan pengakuan manusia, karena cukup Allah saja yang tahu dan menilai.

Jika direnungkan dengan kacamata nalar dan ilmu pengetahuan, hikmah puasa ternyata selaras dengan cara kerja tubuh manusia. Dalam kajian anatomi dan biologi, makanan dan minuman yang masuk ke tubuh akan dicerna, diserap di usus, lalu dialirkan melalui darah ke seluruh organ.

Proses ini meningkatkan aktivitas metabolisme, merangsang hormon tertentu, dan mengaktifkan sistem saraf yang berkaitan dengan rasa lapar, kenikmatan, dan dorongan biologis. Ketika asupan makanan dan minuman berlebih, aliran darah bekerja lebih intens untuk mencerna dan mendistribusikannya, dan secara bersamaan, dorongan syahwat—baik fisik maupun emosional—cenderung menguat. Karena itu, banyak riset modern menunjukkan bahwa puasa membantu menurunkan aktivitas metabolik tertentu, menstabilkan hormon, meningkatkan kejernihan berpikir, serta memperbaiki kontrol diri dan fokus mental.

Penjelasan ini menjadi semakin bermakna ketika disandingkan dengan hikmah spiritual yang dijelaskan dalam kitab Is’af Ahli Iman bi Wadhaifu Syahru Ramadan. Dalam tradisi keilmuan Islam dijelaskan bahwa syaithan mengalir melalui aliran darah manusia, dan syahwat adalah pintu terbesarnya. Maka, ketika seseorang berpuasa—tidak makan dan tidak minum—aktivitas aliran darah yang berkaitan dengan pemuasan syahwat ikut mereda.

Tubuh menjadi lebih tenang, dorongan hawa nafsu melemah, dan ruang batin untuk kesadaran spiritual pun terbuka lebih luas. Dengan kata lain, puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi sebuah mekanisme terpadu: secara biologis menenangkan sistem tubuh, dan secara spiritual mempersempit jalan masuk godaan. Dari sinilah puasa benar-benar berfungsi sebagai benteng, menjaga manusia agar lebih jernih akalnya, lebih lembut hatinya, dan lebih kuat kendali dirinya.

Jika kita bandingkan dengan ibadah-ibadah lain, keistimewaan puasa semakin terasa secara logis dan terang. Al-Qur’an dan hadis menjelaskan pahala beberapa ibadah dengan angka yang jelas dan terukur. Membaca salawat, misalnya, dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW bahwa siapa yang bersalawat satu kali, maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh kebaikan.

Salat berjemaah pun diberi ukuran yang tegas; Rasulullah SAW bersabda bahwa salat berjemaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dibandingkan salat sendirian. Demikian pula sedekah, Allah mencontohkannya dalam surah Al-Baqarah ayat 261, bahwa satu kebaikan bisa dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat. Semua ini memberi gambaran yang menenangkan bagi akal manusia: beramal itu pasti untung, dan keuntungannya dapat dihitung serta dijanjikan secara terbuka.

Namun ketika sampai pada ibadah puasa, polanya berubah sama sekali. Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan tercantum dalam Shahih al-Bukhari, Allah berfirman bahwa setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa; karena puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Tidak ada angka, tidak ada batas, tidak ada perbandingan. Seolah Allah sengaja membiarkan pahala puasa tetap menjadi rahasia-Nya.

Barangkali inilah pesan terdalamnya: puasa adalah ibadah kepercayaan, ibadah yang tidak bisa ditakar dengan logika hitung-hitungan manusia. Ketika amal lain kita ketahui kelipatannya, puasa justru mendidik hati untuk beramal tanpa kalkulasi, cukup dengan keyakinan bahwa apa pun balasannya, ia datang langsung dari Allah—dan apa yang Allah simpan sebagai rahasia, pasti jauh lebih besar dari yang mampu kita bayangkan.

Puasa sejatinya bukan hanya latihan ibadah yang bersifat vertikal—ma‘a Allah—tetapi juga sebuah tarbiyah sosial yang halus dan mendalam. Ia membentuk manusia agar lebih tenang, lebih peka, dan lebih damai dalam hidup bersama orang lain. Ketika berpuasa, seseorang tidak hanya diminta menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan, sikap, dan emosi.

Puasa menjadi perisai sosial: menahan diri dari kata-kata kotor, dari kegaduhan yang mengganggu ketenangan orang lain, dan dari reaksi-reaksi kasar yang merusak harmoni. Bahkan ketika ada orang yang memancing amarah, mengajak bertengkar, atau bersikap memusuhi, Rasulullah SAW mengajarkan satu kalimat sederhana namun sangat beradab: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Kalimat ini bukan alasan untuk menghindar, melainkan deklarasi kedewasaan—bahwa puasa sedang membimbing jiwa untuk memilih damai daripada konflik.

Karena dimensi sosial inilah, Rasulullah SAW melanjutkan hadis tentang puasa tersebut dengan penegasan yang sangat kuat, bahkan disertai sumpah: bahwa bau lisan orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak misik. Penjelasan ini, sebagaimana diterangkan oleh Imam Nawawi, bukan bermakna keharuman secara fisik, melainkan simbol diterimanya amal tersebut di sisi Allah dan diraihnya rida-Nya.

Artinya, apa yang mungkin dianggap kurang bernilai di mata manusia—bau mulut, menahan emosi, memilih diam—justru menjadi kemuliaan besar di sisi Allah. Dari sini kita memahami bahwa puasa mencetak karakter manusia yang damai: kuat mengendalikan diri, lembut dalam bersikap, dan matang secara sosial. Inilah puasa yang tidak hanya mengangkat derajat spiritual seseorang, tetapi juga menebarkan ketenteraman bagi lingkungan di sekitarnya.

Jika ditarik dengan logika manusia yang jujur, puasa sejatinya sedang mengajak kita naik ke tingkat keimanan yang lebih dalam: dari sekadar menjalankan kewajiban, menuju menikmati kedekatan dengan Allah. Ketika seseorang mampu menahan makan, minum, dan hawa nafsunya bukan karena terpaksa, tetapi karena sadar dan cinta, di situlah ibadah berubah menjadi kenikmatan batin.

Ada rasa damai yang tumbuh perlahan, ada kebahagiaan sunyi yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ibadah tidak lagi terasa berat, justru menjadi ruang perjumpaan yang menenangkan antara hamba dan Tuhannya. Maka wajar jika orang yang berpuasa merasakan kebahagiaan dari dalam dirinya sendiri—bahagia karena mampu taat, bahagia karena berhasil mengendalikan diri, dan bahagia karena merasa dekat dengan Allah.

Karena itulah Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Dalam riwayat Shahih Muslim, disebutkan fariḥa bi fiṭrihi, kebahagiaan ketika berbuka. Menurut penjelasan Al-Qurthubi, kebahagiaan ini bukan sekadar senang karena makanan tersaji, tetapi kegembiraan rohani karena puasanya telah sempurna—ia sukses menahan makan, minum, dan hawa nafsunya sepanjang hari.

Kebahagiaan kedua, yang jauh lebih besar, adalah saat berjumpa dengan Tuhannya kelak. Di sanalah seluruh lelah, lapar, dan pengendalian diri menemukan maknanya. Apa yang dijalani dengan sabar di dunia, berubah menjadi kebahagiaan abadi di hadapan Allah. Inilah puncak puasa: ibadah yang menenangkan jiwa di dunia, dan menghadirkan kebahagiaan hakiki di akhirat.

Baca Juga: 38 Tahun Pemajuan Sastera Daerah, Berikut Para Pemenang Hadiah Sastra Rancagé 2026

Ada keindahan iman yang hanya bisa dirasakan ketika ibadah dijalani dengan cinta, bukan sekadar kewajiban. Dalam riwayat Shahih al-Bukhari, dijelaskan bahwa orang yang berpuasa telah meninggalkan makan, minum, dan menahan hawa nafsunya semata-mata karena Allah. Tidak ada yang memaksa, tidak pula ada yang mengawasi selain Dia.

Dari sini lahir kenikmatan beribadah yang paling jujur: ketika hati merasa dekat, tenang, dan dipenuhi rasa cukup bersama Allah. Maka, sungguh wajar jika Allah sendiri yang mengambil alih pemberian ganjarannya. Sebab, puasa adalah bukti cinta seorang hamba—ia menahan yang halal demi taat kepada-Nya—dan cinta yang tulus seperti itu pantas dibalas langsung oleh Allah dengan pahala yang hanya Dia tahu besarnya.

Pada akhirnya, Ramadan mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, lalu bertanya dengan jujur pada hati: sudahkah kita menyiapkan hati kita semua agar bisa menikmati ibadah selama bulan Ramadan, tidak sekadar menggugurkan kewajiban puasa Ramadan tahun ini? Bulan ini terlalu mulia jika dilewati tanpa makna.

Puasa, salat, dan setiap amal kebaikan adalah undangan lembut dari Allah agar kita merasakan nikmatnya dekat dengan-Nya. Karena itu, marilah kita isi hari-hari Ramadan dengan ibadah yang hidup dan bernapas: memakmurkan masjid, menjaga salat berjemaah, meluangkan waktu untuk Kuliah Subuh, iktikaf, tilawah, dan tadarus Al-Qur’an, berbagi takjil dengan hati yang lapang, menegakkan salat sunah Tarawih, serta setia mengikuti kajian kitab yang diadakan di masjid.

Bukan untuk terlihat lebih baik dari siapa pun, tetapi agar hati kita sendiri merasakan damai. Barangkali dari langkah-langkah kecil yang kita jaga dengan cinta itu, Ramadan akan meninggalkan jejak yang dalam—mengubah cara kita beribadah, menguatkan iman, dan membuat kita rindu untuk selalu kembali dekat dengan Allah SWT. Wallahu A’lam. (*/han)

*)Khotib Masjid Gemma Prenduan

Editor : Hera Marylia Damayanti
#puasa #ramadan #iktikaf #keutamaan #zakat #sedekah #kajian kitab #Kuliah Subuh #bulan penuh berkah #titik balik #jalur keilmuan #kewajiban puasa #masjid #pahala puasa