Oleh JAUHAROTUL MAKNIYAH
SALAH satu indikator maju tidaknya sebuah teritori, antara lain ditandai dengan seberapa maju dunia pendidikan di wilayah itu. Sekadar menyebut contoh, Singapura. Di negara yang merayakan kemerdekaan pada 1965 ini, pendidikan dilangsungkan secara interaktif yang melibatkan peserta didik secara aktif. Guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran, pendorong peserta didik untuk berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan bekerja sama. Singapura juga memanfaatkan teknologi sebagai sarana penunjang pembelajaran yang efektif dan efisien.
Di luar penyelenggaraan pembelajaran sebagaimana disebutkan, Singapura menerapkan kurikulum yang berbasis keunggulan. Konstruk dalam model kegiatan belajar mengajar ini menghendaki pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran yang dimengerti secara mendalam. Negeri yang pernah dijajah Inggris ini juga menerapkan pembelajaran yang interaktif saat seluruh peserta kelas terlibat diskusi menggunakan metode partisipatif.
Pembelajaran juga ditopang dengan teknologi yang menuntut para pihak melek teknologi seperti platform daring, aplikasi edukasi, dan perangkat lunak inovatif yang menjadi bagian tak terpisahkan dari konsep pendidikan masa depan, yang pasti terkoneksi dengan teknologi-global. Oleh sebab itu, pendidikan dilangsungkan tidak hanya terfokus pada sesuatu yang bersifat akademis. Kerangka pendidikan dikaitkan dengan karakter dan keterampilan intrapersonal. Pendidikan juga berintegrasi dengan pengembangan kreativitas, inovasi, dan civitas pembelajaran. Konsep dan konstruk pendidikan tersebut mengantarkan output pembelajaran di Singapura lebih siap menghadapi kenyataan-global.
Di Singapura, civitas pembelajaran terutama (menjadi) guru, mayoritas benar-benar sebuah pilihan yang dipilah dari awal. Lalu, bagaimana pendidikan di tanah air? Narasi ini tidak bermaksud men-judge bahwa civitas pendidikan di negeri ini berlangsung karena keterpaksaan (bukan pilihan yang diniati dari awal). Dalam keyakinan edukasi yang lain, pasti ada yang memiliki model pembelajaran lebih maju. Tetapi sejumlah fakta ditemukan, di ruang kelas, dengan pertanyaan terbuka, saat ditanya; apakah, misalnya, mahasiswa kuliah dan memilih jurusan dari awal atau karena keterpaksaan? Jawaban mayoritas dari civitas tersebut menyatakan karena keterpaksaan (daripada tidak kuliah?).
Fakta berikutnya, saat ditanya kepada civitas academica, siapakah dari mahasiswa tersebut yang bercita-cita menjadi guru? Hanya sebagian kecil yang menasbihkan diri menjadi guru. Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa menjadi mahasiswa atau pilihan cita-cita guru, bukan pilihan pertama. Lalu, apa yang menjadi pilihan utama mereka? Ditemukan jawaban bahwa mereka lebih ingin menjadi individu yang sukses dengan pemaknaan menjadi orang yang tidak bingung dalam mengurus ekonomi. Sebab, mengurus ekonomi dirasa paling sulit apabila dananya tidak tersedia. Ini sebabnya, andai mereka dapat mengerjakan sesuatu yang dapat menghasilkan uang, opsi inilah yang mereka pilih; lebih riil. Bahkan, dalam atmosfer yang lebih ekstrem, para peserta didik merasakan ilmu pengetahuan tidak bisa menyelesaikan masalah yang berhubungan netto dan bruto pembiayaan.
Di sinilah (antara lain) problem pendidikan yang sesungguhnya, saat ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi skala prioritas bagi sebagian (besar) generasi. Dalam kasus di Madura, banyak penduduk republikan yang memilih eksodus ke Jakarta dan kota lainnya di luar Madura dengan menjadi pemilik atau penjaga Warung Madura. Ketika pendidikan tidak lagi menjadi etalase yang seksi, pantas diduga kegiatan pembelajaran yang diaktor-utamai guru, gagal menciptakan pemahaman; bahwa dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang tidak setengah-setengah dapat menghadirkan sesuatu yang lain, termasuk kekayaan dan kerajaan. Spiritualitas dan heroitas terhadap ilmu, sejatinya sudah ditahbiskan dalam kisah Nabi Sulaiman. Ketika Sulaiman ditawari untuk memilih ilmu, harta, dan kerajaan, Sulaiman tegas memilih ilmu. Begitu ilmu dipilih, kekayaan dan kerajaan dapat diraih karena pilihan ini.
Semangat inilah yang raib dari cara pandang sebagian (besar) orang tua dan peserta didik. Migrasi cara pandang yang lebih berpijak pada pragmatis-opurtunisme ini menenggelamkan gairah untuk berilmu dibanding berharta dan bertakhta dalam kehidupan sosial. Mengapa cara pandang ini berkelanjutan, pasti berkait dengan bagaimana seseorang menjejalkan pengetahuan di dalam kelas, di tengah keluarga, dan dalam kehidupan sosial yang tersiar secara masif.
Tragedi episentrum dalam memahami kenyataan ketika disandingkan dengan dunia pendidikan, pada akhirnya merobohkan tujuan pendidikan itu sendiri; mencerdaskan kehidupan bangsa, cerdas akademik, inovatif, dan kaya kreativitas. Akibatnya, dunia pendidikan dengan berubahnya cara pandang tersebut tidak berhasil menjelaskan jati diri dan terperangkap ke dalam teori katak rebus. Suatu kenyataan yang pada mulanya dianggap tidak apa-apa, dinilai biasa-biasa saja, dan akhirnya menyebabkannya binasa; seperti katak yang ditangkap, dimasukkan ke panci berisi air, dan katak merasakan dirinya aman-aman saja. Saat panci berisi air itu ditaruh di atas kompor yang sedang menyala, di situlah katak sadar bahwa yang diasumsikannya aman ternyata berbahaya. Serupa itulah pendidikan saat ini yang dipahami dengan episentrum yang lain; skriptum-pragmatitum.
Baca Juga: Bermimpi Jadi Bupati dan Wakil Bupati Sumenep? (Catatan Kecil Buat Para Kandidat)
Tantangan Pembelajaran
Realitas pendidikan saat ini lebih memberi kesan formalistik dibanding (yang seharusnya) substantif. Fragmentasi etalatif pendidikan ini dapat disaksikan dalam perayaan kenaikan kelas atau dalam bahasa orang desa yang mudah dipahami, imtihanan. Gemuruh pendidikan seakan menggaung saat perayaan ini saja, saat karnaval dipertontonkan. Publik pun, sebagian (besar) secara berjemaah, mendiskusikan soal repertoar dan sekali lagi, bukan pada substansi pembelajaran. Urgensitas pendidikan pun bergeser, mengalami migrasi dari seharusnya isi beralih ke promosi.
Kesaksian ironik lainnya, saat ilmu pengetahuan terkalahkan oleh gelombang riuh-rendah suasana seremoni, ditandai dengan apresiasi terhadap orang yang berilmu. Ilmuwan, dalam kondisi terakhir dalam spektrum penyelenggaraan pendidikan (dalam kasus di Madura), apresiasinya terkalahkan oleh pasukan kuda menari. Mendengarkan atau menyimak narasi keilmuan (orasi tokoh pendidikan), tidak begitu diminati dibanding repertoar tadi. Bahkan, kerumunan massa mengecil ketika pasukan kuda menari, bubrah dan hanya sedikit orang yang tertarik pada ilmu. Ini kesaksian yang terbantahkan saat banyak orang memiliki kesadaran dan permakluman atas kemacetan sebab karnaval dibanding kemacetan karena sedang mendengarkan ceramah yang berbasis keilmuan.
Oleh karena itu, berkembang tidaknya ilmu pengetahuan memang tidak melulu pada civitas pembelajaran. Tetapi, butuh tangan-tangan lain yang harus menjamah untuk menegakkan kembali peradaban keilmuan. Dulu, misalnya, orang tua sedemikian senangnya manakala memiliki menantu yang alim dan lulusan pondok pesantren. Tetapi kini, aura kebahagiaan itu bermutasi, seiring dengan berlalunya cara pandang. Dialog orang tua berubah dari semula bertanya, menantunya siapa, mondok atau alumni pondok mana (?) Kini, berubah menjadi menantunya siapa, kerja apa, berapa gajinya, bahkan tak peduli apakah seorang alim atau lulusan pondok pesantren mana pun.
Cerita dan narasi yang kecil-kecil ini terus berkembang biak secara simultan seiring dengan runtuhnya peradaban dan terkikisnya nilai apresiasi publik terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya, generasi bangsa tumbuh dalam habitat yang seperti itu dan menganggap ilmu sebagai ”makhluk kelas dua” dibanding terkait semesta materi. Kenyataan kecil ini juga berdampak pada kosmologi peradaban lainnya. Seseorang yang merantau dan sukses (secara materi), kemudian pulang dan mendapat bisikan tetangga; dia sudah jadi orang (karena kekayaan). Sungguh paradoks dan antiklimaks dari sisi kemanusiaan (memang sebelum kaya tidak jadi orang?).
Pada varian contoh yang lain, dulu, saat anak-anak diajak bersilaturahmi kepada sanak famili, pertanyaannya adalah siapa yang didatangi, kaitan famili sebagai apa, kakak, paman, bibi atau sepupu? Namun hari ini, ketika anak diajak silaturahmi kepada sanak saudara, pertanyaannya bukan lagi menyangkut kefamilian itu sendiri, melainkan ada wifi nggak di sini? Ini mengesankan peradaban dari perspektif kekeluargaan, lagi-lagi, menjadi makhluk kelas dua dibanding substansi kekerabatan, sebagai bias dari migrasi cara pandang dari urgensi ilmu menjadi urgensi pemenuhan kualifikasi yang lain; soal akses kegemaran dan kesenangan anak.
Nah, mengembalikan substansi keilmuan dan hal terkait lainnya yang urgen, tidak mungkin apabila tidak dimulai dari setiap orang tua, keluarga, dan terutama sekolah atau madrasah. Stakeholder pendidikan yang terdiri atas orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat sekitar pendidikan untuk bekerja sama sebagaimana pendidikan di Singapura yang mengedepankan kerja sama para pihak. Memang tidak harus seperti Negeri Singa itu, tetapi aroma napas pendidikannya layak diadaptasi dengan satu tujuan, menyelamatkan, mengembalikan substansi pembelajaran untuk output pembelajaran dan cara pandang yang menggenapi proporsi, profesi, dan relasi-edukasi; bahwa kedudukan ilmu pengetahuan maqomnya lebih tinggi dari kekayaan dan kejayaan sebagaimana Nabi Sulaiman mengajarkan itu, sejak zaman itu. (*)
*)Dosen Universitas Al Amien Prenduan, Alumnus S-3 Unmuh Malang
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti