Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Sangko’ Kangean dan Totto Chan

Abdul Basri • Senin, 16 Oktober 2023 | 03:10 WIB
Syafiuddin Syarif
Syafiuddin Syarif

 

Program Guru Tamu Belajar Langsung pada Ahlinya

Oleh SYAFIUDDIN SYARIF

Pegiat riset dan guru di SMAN 1 Sumenep

 

PADA akhir kegiatan pembelajaran, Pak Guru Musa’id beserta tim dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep memberikan contoh penganan hasil olahan dari sumber pangan lokal yang telah dijelaskan dari awal.

Ada gethuk, mommo, dan lemmit atau lemet yang ketiganya merupakan olahan dari sumber pangan lokal singkong. Juga ada kue kering serpot yang terbuat dari sagu garut (serut).

Terdapat pula kue donat dari ketela rambat (telo) serta ada talas dan klenteng (buah ubi) rebus.

Semua penganan dari sumber pangan lokal itu disajikan kepada seluruh peserta didik untuk dimakan. Seluruh peserta didik merasakan kenikmatan dan sensasi rasa berbeda dari olahan sumber pangan lokal Sumenep.

Pak Guru Musa’id menyampaikan tentang keberhasilan ketahanan pangan di Kabupaten Sumenep yang diakui secara nasional serta mendapatkan penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2011.

Sebuah inovasi pangan dari sumber pangan lokal berhasil diciptakan oleh masyarakat Pulau Kangean. Inovasi pangan tersebut bernama sangko’.

Sangko’ merupakan penganan berbentuk tepung yang terbuat dari singkong. Bahan dasar singkong dikupas kulitnya dan dibersihkan dengan air.

Kemudian diparut dan diperas untuk menghilangkan saripati dan kandungan airnya. Parutan singkong yang sudah diperas kemudian dipadatkan dan dijemur.

Setelah kering, lalu ditumbuk sampai halus menjadi tepung dengan sistem ayak. Tepung singkong itu dikemas dalam wadah plastik dan disimpan dan sewaktu-waktu siap diolah untuk dikonsumsi.

Tepung sangko’ sangat bermanfaat bagi masyarakat Pulau Kangean sebagai pangan saat musim hujan.

Sebab, pasokan beras dari Kabupaten Sumenep menuju Pulau Kangean terhambat oleh kendala ombak yang sangat besar dan sangat membahayakan saat pelayaran.

Saat dalam keadaan kekurangan pasokan beras, masyarakat Pulau Kangean mengonsumsi sangko’.

Dengan sangko’, masyarakat di Pulau Kangean tetap terpenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan tidak ada rasa takut terhadap ancaman pangan berupa kekurangan pangan dan lainnya.

Selain itu, sangko’ juga menjadi bekal para pelaut dan nelayan Pulau Kangean yang berhari-hari berada di tengah lautan untuk menangkap ikan atau perniagaan.

Sangko’ yang harganya lebih murah daripada beras serta lebih mudah didapatkan menjadi alternatif pangan pengganti beras bagi masyarakat Pulau Kangean yang hidup berlayar di lautan.

Dengan inovasi pangan lokal sangko’, masyarakat di Kabupaten Sumenep, khususnya Pulau Kangean, terpenuhi kebutuhan pangannya, baik saat berada di rumah atau saat pergi berlayar dalam waktu lama di lautan.

Sehingga, tercipta ketahanan pangan di tengah masyarakat dengan memanfaatkan sumber pangan lokal.

Tujuan dari program ”Belajar Langsung dari Ahlinya” tentang Sumber Pangan Lokal dengan mendatangkan guru tamu dari Dinas Ketahanan Penganan dan Pertanian Sumenep untuk menciptakan ketahanan pangan.

Mengurangi ketergantungan pada beras dengan memanfaatkan dan mengembangkan sumber pangan lokal yang cukup banyak di Sumenep. Dengan demikian, program membangun ketahanan pangan Pemerintah Kabupaten Sumenep bisa tercapai.

Di negara Jepang, sebelum hancur oleh bom atom, terdapat sebuah sekolah dengan nama Tomoe Gakuen. Sekolah ini berbeda dengan sekolah biasanya di Jepang.

Sekolah Tomoe Gakuen lebih memberikan kebebasan kepada peserta didik. Pembelajaran yang diselenggarakan banyak menggunakan model pembelajaran yang saat ini dianggap modern, seperti learning by doing, contextual teaching, dan lainnya.

Sebagai kepala sekolah sekaligus juga guru adalah Kobayashi sensei (Guru Kobayashi). Di antara beberapa peserta didik ada satu yang bernama Totto Chan. 

Totto Chan merupakan anak spesial. Dia merupakan pindahan dari satu sekolah yang telah tidak sanggup mendidiknya lagi akibat ulahnya yang sering mengganggu konsentrasi dan ketenangan belajar di kelas.

Oleh kepala sekolah orang tuanya dipanggil dan disarankan agar memindahkan Totto Chan ke sekolah lain. Akhirnya, ibu Totto Chan memasukkan Totto Chan ke Tomoe Gakuen.

Tomoe Gakuen merupakan sekolah tanpa gedung. Ruang kelasnya merupakan sisa gerbong kereta api yang sudah tidak dipakai.

Oleh Kobayashi Sensei (kepala sekolah sekaligus guru) gerbong itu disulap menjadi ruang kelas yang nyaman dan mengasyikkan untuk belajar. Peserta didik di Tomoe Gakuen menikmati suasana belajar dengan sensasi menaiki kereta api.

Pada sebuah pembelajaran tentang bercocok tanam, Kobayashi sensei mendatangkan seorang ahli bidang pertanian untuk menjadi guru.

Seorang petani diundang datang ke sekolah mengajari Totto Chan dan teman-teman tentang menanam dan merawat tanaman. Peserta didik melakukan langsung sesuai penjelasan yang diberikan oleh guru yang seorang petani.

Totto Chan dan teman-teman menanam tanaman, memberi pupuk, dan menyiram tanaman serta merawat seperti yang diajarkan langsung oleh guru petani.

Model pembelajaran langsung melakukan sangat berkesan dan memberikan pengalaman bagi Totto Chan dan teman-teman.

Tomoe Gakuen menjadi lembaga pendidikan yang berpengaruh dalam pembentukan sikap dan karakter seluruh peserta didik.

Guru yang kreatif, inovatif, berdedikasi serta pelaksanaan pembelajaran dan kurikulum yang fleksibel menjadikan Tomoe Gakuen sangat berkesan bagi seluruh peserta didik.

Salah satu peserta didik di Tomoe Gakuen bernama Tetsuko Kuroyanagi menuliskan pengalaman belajarnya dalam sebuah novel.

Novel itu berjudul Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela. Diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa negara di dunia termasuk Indonesia, serta bertahun-tahun menjadi buku bacaan wajib di Jepang.

Akhirnya, Tomoe Gakuen yang dibangun pada 1937 dari sisa gerbong kereta api itu hancur akibat bom Amerika pada Perang Pasifik 1945.

Karena Jepang telah hancur, sangat sulit bagi Kobayashi sensei membangun kembali Tomoe Gakuen. Novel Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela merupakan penghargaan murid bernama Tetsuko Kuroyanagi atas model pendidikan yang digagas oleh Kobayashi sensei di Tomoe Gakuen, tempat ia belajar dengan riang gembira bersama teman-temannya.

Teknologi pembelajaran sangat penting digali dan digiatkan oleh para guru untuk menciptakan kegiatan belajar mengajar (KBM).

Teknologi pembelajaran diharapkan bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, bervariasi, membangkitkan minat dan motivasi serta berkesan dan menarik terhadap peserta didik.

Menghadirkan guru tamu ke ruang kelas untuk belajar bersama dengan peserta didik perlu diupayakan oleh guru agar peserta didik mendapatkan suasana baru, lebih bersemangat serta lebih tertantang dalam belajar.

Kurikulum Merdeka memberikan ruang sangat luas kepada guru dan sekolah untuk berkreasi dan berinovasi dalam memberikan layanan pendidikan terhadap peserta didik, khususnya dalam KBM. Sejatinya, guru kreatif dan inovatif adalah garda terdepan dalam memajukan pendidikan di Indonesia. (*)

Editor : Abdul Basri
#beras #guru #Totto Chan #sumenep