Oleh: Prengki Wirananda*
*) Redaktur Pelaksana Jawa Pos Radar Madura sekaligus Mahasiswa Magister PSDA Universitas Trunojoyo Madura.
Bagi penduduk Madura, sapi bukanlah sekadar hewan peliharaan biasa. Mereka adalah simbol kehidupan, kehormatan, dan penanda kemakmuran.
Sapi-sapi ini juga menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan peradaban pulau ini.
Pulau Sapudi, yang terletak di Kabupaten Sumenep, memiliki populasi sapi ras Madura yang paling besar.
Namun, jangan bayangkan bahwa ratusan ribu ekor sapi ini muncul begitu saja.
Di balik populasi sapi yang mengagumkan ini, terdapat sejarah yang kaya dan bermakna.
Dalam berbagai literatur sejarah, populasi sapi di Pulau Sapudi terkait erat dengan tokoh sejarah bernama Panembahan Walinge atau Wlinge, yang juga dikenal dengan nama Blinge atau Blingi.
Panembahan Blinge, seorang bangsawan yang hidup pada abad ke-10, diyakini sebagai tokoh yang berperan penting dalam pertumbuhan populasi sapi di pulau ini.
Ia adalah keturunan Sayyid Ali Murtadla dan saudara kandung Sunan Ampel.
Panembahan Blinge memiliki dua ekor sapi kesayangan, seorang jantan dan seorang betina, yang memiliki tubuh yang kuat dan elok.
Pasangan sapi kesayangan ini kemudian menghasilkan keturunan, yang tersebar ke seluruh penjuru pulau.
Inilah awal dari populasi sapi yang sangat besar di Pulau Sapudi, yang tetap berlangsung hingga saat ini.
Cinta terhadap sapi juga diturunkan kepada anak sulung Panembahan Blinge, yaitu Adi Poday. Suami Raden Ayu Saini atau Pottre Koneng ini tidak hanya merawat sapi, tetapi juga mengajarkan kepada penduduk Pulau Sapudi tentang cara beternak yang baik.
Metode beternak yang diajarkan Adi Poday masih menjadi pedoman hingga saat ini. Tidak heran jika Pulau Sapudi menjadi salah satu kawasan dengan populasi sapi terpadat di dunia.
Sejarah mencatat bahwa sapi bukan hanya sekadar hewan peliharaan, melainkan juga menjadi penyambung kehidupan.
Mereka membantu membajak lahan-lahan tandus, yang kemudian ditanami dengan jagung, padi, dan biji-bijian untuk memastikan kelangsungan hidup masyarakat.
Namun, sapi di Pulau Sapudi tidak hanya memiliki peran praktis. Mereka juga menjadi bagian dari budaya dan tempat silaturahmi antara berbagai lapisan masyarakat, mulai dari borjuis hingga proletar, melalui ajang karapan sapi.
Meskipun begitu besar kontribusi sapi dalam kehidupan masyarakat Madura, tampaknya belum ada keseriusan dari para pemimpin zaman modern ini untuk mengembangkan sapi Madura.
Bukti nyatanya, belum ada pelabuhan khusus untuk ternak hewan di Pulau Garam, dan upaya pelestarian sapi ras Madura juga belum maksimal.
Hanya satu kabupaten yang memiliki wilayah bibit sapi ras Madura, yaitu Bumi Ratu Pamellingan, sesuai dengan Surat Keputusan Kementerian Pertanian tahun 2017.
Ironisnya, sebagian sapi di Pulau Sapudi mulai dikawinkan dengan sapi Jawa.
Tubuh yang lebih besar pada sapi Jawa telah memikat hati para peternak, dan jika ini terus berlanjut, sapi ras Madura yang telah menjadi bagian penting dari sejarah pulau ini mungkin akan menghilang, meninggalkan kenangan filantropi Panembahan Blingi. Naudzubillah. ***
Editor : Abdul Basri