IBADAH apa pun itu bentuknya pasti baik. Meski beberapa bagian tertentu menjadi wilayah privat. Sangat privat malah. Bahkan, jika terlalu diumbar, kesannya pamer dan bergeser dari tujuan awal. Sebab, ibadah itu jalan teduh menuju yang Esa.
Belakangan ini, saya sering menjumpai iring-iringan sepeda motor dan mobil di jalan raya. Sudah tak terhitung berapa kali. Tapi, cukup sering. Eh, ternyata itu dalam rangka menyambut orang baru pulang umrah.
Kebiasaan itu sering kita jumpai, terutama ketika kepulangan jamaah haji atau umrah seperti yang sedang musim akhir-akhir ini.
Sebenarnya tradisi itu sudah lama. Tetapi, sampai sekarang masih ada. Termasuk, di kampung saya, di Sumenep. Mungkin, di kabupaten lain di Madura juga ada kebiasaan semacam itu.
Terlepas kebiasaan tersebut baik atau tidak, benar atau salah, saya belum berani menyimpulkan. Namun, bagi saya agak menjengkelkan. Saya punya alasannya, meski ini subjektif.
Ceritanya kurang lebih begini: Pagi-pagi saya berangkat dari Dungkek (tempat saya tinggal) pakai kuda besi, Honda Scoopy. Tujuannya, berangkat kerja ke Bangkalan.
Tiba-tiba tepat di Jalan Raya Longos, Gapura, Sumenep, perjalanan saya sedikit terganggu. Sebab, ada iring-iringan kendaraan yang menyambut kepulangan orang baru pulang umrah.
Ratusan sepeda motor dan puluhan mobil berjalan pelan-pelan dari arah berlawanan. Sambil membunyikan klakson melengking secara bersamaan.
Parahnya, mereka bukan hanya memakan bahu jalan, tetapi hampir ruas jalan. Bahkan, hanya cukup untuk kendaraan roda dua. Kalau mobil dari arah saya yang berlawanan, jelas harus menepi. Tidak bisa melaju seperti biasanya, karena terhambat konvoi kendaraan itu.
Mereka dengan bangga melintasi sepanjang jalanan seperti punya sendiri. Tidak peduli kendaraan dari arah berlawanan. Termasuk saya.
Anehnya lagi, jika ada kendaraan memaksa menerobos, mereka langsung mem-bleyer. Breng…breng…breng…
Tidak tahu apa maksudnya, tapi mereka merasa apa yang dilakukannya benar. Mereka melupakan bahwa yang dilakukan itu merugikan orang lain.
Singkat cerita, saya lepas dari iring-iringan kendaraan yang menjengkelkan itu. Lantas, dalam perjalanan menuju terminal Sumenep, hati saya bergumam, apakah memang dengan cara begitu menyambut orang baru pulang umrah?
Ini ada yang salah, ada yang keliru. Meski saya mengerti, kepulangan jamaah haji atau umrah selalu ditunggu-tunggu oleh sebagian orang. Tidak hanya keluarga, kerabat, tetapi juga tetangga yang menanti kedatangannya.
Saat menyambut tamu Allah, ada keyakinan bahwa kebaikan-kebaikan dari Tanah Suci, Makkah, pasti terbawa ke tanah air. Bahkan, dipercaya masih diikuti malaikat hingga tiba di kediaman.
Oke itu tidak ada soal. Justru yang jadi masalah, cara menyambut tamu Allah dengan iring-iringan kendaraan. Bagi saya, itu mengganggu sekali.
Saya membayangkan begini, bagaimana misalnya ada orang maumengantarkan anaknya yang sedang sakit, harus terburu-buru dilarikan ke rumah sakit. Lalu, tidak tertolong karena terganggu konvoi kendaraan itu.
Menyedihkan bukan?!. Nilai keutamaan umrah akhirnya menjadi kecil maknanya. Bergeser dari apa yang kita pahami selama ini.
Ibadah umrah tidak lagi sebagai jalan ibadah untuk menghapus dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Jauh dari itu.
Kita lihat sekarang, mereka yang baru datang umrah. Dengan bangganya, sebelum sampai di rumah, mereka diarak ratusan kendaraan sambil buka kaca mobil, melambaikan tangan. Seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya baru pulang dari Makkah.
Tapi, mereka tidak memikirkan lebih jauh bahwa cara itu mengganggu orang lain. Jatuhnya malah pamer.
Umrah pada akhirnya tidak lagi menjadi puncak kesalehan. Yang menjelma justru mengumbar pengakuan, labelisasi. Ironis.
Mari sejenak kita merapikan yang salah kaprah. Kita pahami ibadah umrah sebagai sesuatu yang sakral, jadikan momen itu sesuatu yang spesial.
Bukan karena ingin dipuji apalagi disanjung. Sekali lagi, jangan nodai esensi ibadah umrah dari hal-hal kecil. Karena tidak semua orang memiliki kesempatan itu.
Sekurang-kurangnya, jangan berlebihan dalam merayakan ibadah suci ini. Karena sesuatu yang berlebihan, geli melihatnya. Mohon maaf!
*) Redaktur Muda Jawa Pos Radar Madura Editor : Abdul Basri