Komunitas Mortèka Dorong Minat Baca Masyarakat lewat Review Buku

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 09:03 WIB
TAMBAH WAWASAN: Komunitas Mortèka melaksanakan kegiatan review buku di Taman Paseban Bangkalan pada Minggu, 21 Desember 2025. (KOMUNITAS MORTÈKA UNTUK JPRM)
TAMBAH WAWASAN: Komunitas Mortèka melaksanakan kegiatan review buku di Taman Paseban Bangkalan pada Minggu, 21 Desember 2025. (KOMUNITAS MORTÈKA UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id Sebuah buku bisa menghadirkan cerita yang berbeda bagi setiap pembacanya.

Perbedaan pemahaman itulah yang dirawat Komunitas Mortèka.

Sejak berdiri pada 2024, komunitas tersebut menjadi ruang bagi anak muda Bangkalan untuk membaca, berdiskusi, dan menuangkan gagasan melalui tulisan.

Komunitas Mortèka didirikan oleh Naufal, Rohman, Fahmi, dan Ferry.

Baca Juga: Perkuat Literasi Numerasi Keluarga, Ibu Dasawisma Mawar V Dibekali Smart-Numeracy Kit

Kegiatannya biasanya digelar di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bangkalan atau Taman Paseban. 

Tempatnya sederhana. Namun, dari ruang tersebut, anggota saling bertukar cerita tentang bacaan yang mereka nikmati.

Naufal menceritakan, jumlah anggota berkisar 10–15 orang. Keanggotaannya tidak mengikat.

Siapa saja yang memiliki ketertarikan untuk berbagi cerita dan pemahaman terhadap bacaan dapat bergabung.

Begitu pula anggota yang sedang memiliki kesibukan tidak diwajibkan mengikuti setiap kegiatan.

”Memang sifatnya komunitas. Jadi, anggota datang karena ingin berbagi cerita, bukan karena paksaan,” ujar Naufal.

Baca Juga: Zhafira Zila Qonita, Peraih Juara I Lomba Video Konten Literasi Dispusip Bangkalan, Ide dari Taman Baca, Komunitas Morteka, hingga Syaikhona Kholil

Dia menuturkan, ada dua kegiatan yang rutin dilaksanakan. Pertama, berbagi bacaan.

Setiap anggota membaca buku atau karya sastra tertentu, kemudian menceritakan pemahaman dan interpretasinya kepada anggota lain.

Bacaan yang dibedah cukup beragam. Mulai novel, kumpulan cerpen, misalnya, Sepotong Senja untuk Pacarku.

Dari satu karya, setiap anggota bisa memiliki tafsir berbeda. Perbedaan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi.

Naufal menjelaskan, diskusi tidak diarahkan untuk mencari siapa yang paling benar dalam memahami sebuah karya.

Namun, perbedaan sudut pandang menjadi bagian penting dalam kegiatan.

Anggota belajar mendengarkan pemikiran orang lain sekaligus menyampaikan pendapatnya.

Kegiatan kedua, jelas dia, yakni menulis bersama. Setelah berbagi gagasan, anggota diberi ruang untuk menuangkan pemikiran melalui tulisan.

Baca Juga: Program IMPACT Imigrasi Pamekasan Tanamkan Semangat Belajar dan Literasi Keimigrasian

Mereka saling berbagi ide, menulis, kemudian mengoreksi tulisan satu sama lain.

Tulisan yang sudah dihasilkan sebagian didokumentasikan dan diunggah melalui media sosial Instagram.

Naufal menuturkan, sejumlah anggota yang cukup rutin mengikuti kegiatan antara lain Naufal, Rohman, Fahmi, Ferry, Tasrifah, Nabila, Dhani, Husnul, Fadat, Zain, Ralitza, dan Aqli.

Sementara Zhafira menjadi salah seorang anggota terbaru.

Namun, daftar tersebut bisa berubah. Sebab, Komunitas Mortèka tidak memberlakukan keanggotaan secara formal.

Beberapa orang datang dan pergi menyesuaikan waktu serta kesibukan masing-masing.

Bagi Naufal, kondisi tersebut bukan persoalan. Justru, fleksibilitas menjadi salah satu cara agar ruang literasi tetap terbuka bagi siapa pun.

Naufal menerangkan. selama ini kegiatan dilaksankan di dua tempat. Yakni, di Perpusda Bangkalan dan Taman Paseban.

Dia berharap, kegiatan Komunitas Mortèka bisa konsisten dan menjangkau kalangan yang lebih luas.

Tidak hanya anak muda, tetapi ibu-ibu dan anak-anak juga bisa bergabung. 

”Kegiatan komunitas ini diharapkan lebih variatif. Misalnya, melalui lomba, sehingga menjadi pemicu minat baca masyarakat,” harap Naufal. (ina/han)

Editor : Hera Marylia Damayanti
Komunitas Mortèka anak muda Bangkalan bertukar cerita perpusda